Minggu, 21 Apr 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Bermula Kebutuhan Pribadi, Terkendala Izin

Miftahul Arif, Pembuat Sabun Cair di Kecamatan Kapas

Oleh: MUHAMMAD SUAEB

08 Maret 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

DIPROSES MANUAL: Arif menunjukkan sabun cair buatannya. Sehari produksi 60 liter.

DIPROSES MANUAL: Arif menunjukkan sabun cair buatannya. Sehari produksi 60 liter. (MUHAMMAD SUAEB/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

SEJUMLAH ruas jalan di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, kemarin (7/3) mayoritas masih tergenang air. Genangan sudah terjadi dua hari, sejak Selasa (5/3) malam akibat hujan dengan intensitas cukup tinggi.

Di sekitar genangan terdapat rumah sederhana. Lokasinya di RT 09/02 di desa setempat. Rumah kayu menghadap ke barat dengan pintu kayu jati. Ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro akan masuk, seorang pemuda terlihat baru keluar dari kamar.

Pria mengenakan sarung dan berkaus itu tampaknya kurang istirahat. Raut mukanya tampak menyimpan lelah. Miftahul Arif, nama lengkapnya. Pemuda ini kreatif. Mampu memproduksi sabun cair.

“Cuaca kurang mendukung, membuat badan agak meriang,” katanya sambil mengajak bersalaman.

Arif, sapaan akrabnya menceritakan, produksi sabun cair itu bermula dari keresahannya melihat warga termasuk dirinya, mayoritas bergantung sabun. Bekal ilmu kimia di bangku sekolah, membuatnya belajar beberapa bahan sabun. Meramu bahan dan menjadi sabun pembersih.

Saat ini dia masih fokus pembuatan sabun cair khusus membersihkan alat-alat dapur. Jenis sabun batang dan jenis lainnya membutuhkan alat dan biaya cukup besar. Sehingga, melihat kemampuannya, dia fokus pembuatan cabun cair.

“Bahannya banyak, macam-macam. Tapi tetap bisa dipelajari,” ujarnya.

Dia menjelaskan, bahan baku sabun yang dia produksi antara lain boks surfaktan atau texapon, LAS, camperlan, Edta, NaCl, sodium sulfat, asam sitrid, pewangi, pewarna, dan air tawar. Namun, untuk airnya harus mengandung PH yang rendah.

Sebab, jika PH airnya tinggi, memengaruhi kualitas sabun. Semakin tinggi PH dalam kandungan air, akan membuat kualitas sabun semakin tidak berkualitas. “PH yang tinggi itu, misalnya air yang berkapur,” jelasnya sambil tersenyum.

Bahan baku yang dia campur itu, dia harus membuat perbandingan yang pas. Masing-masing bahan baku memiliki fungsi berbeda. Namun, dia enggan menyebutkan persentase campuran bahan baku.

Setelah bahan baku diaduk, menyisakan dalam kemasan. Saat ini dia baru dalam bentuk dua kemasan, yaitu kemasan 200 mililiter dan 140 mililiter. Semua proses dia lakukan sendiri secara manual.  Dia menyadari sebagian masyarakat masih memandang sebelah mata.

“Ada kritik itu wajar. Saya jadikan motivasi untuk berbenah,” ujar pria kelahiran 1982 itu.

Dalam sehari, Arif mampu memproduksi 60 liter sabun. Semua masih ditangani sendiri. Saat produksi, sehari dia gunakan untuk fokus produksi di dalam rumah. Sebaliknya, jika pada saat memasarkan dia fokus pemasaran.

Saat ini masih tahap merintis. Sehingga butuh keuletan. Dia optimistis ke depan akan berkembang, karena beberapa warga sudah banyak yang memakai produknya. Namun, sebagian ada yang khawatir, karena belum ada izinnya.

“Tolong bantuannya untuk izin ya. Siapa tahu nanti bisa berkembang dan mengurangi pengangguran,” ucapnya dengan  semangat.

(bj/msu/rij/aam/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia