Selasa, 25 Jun 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro
Prediksi Sungai Bengawan Solo Siaga Merah

Darurat Banjir

07 Maret 2019, 10: 45: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

TERDAMPAK: Seorang nenek di Desa Pacul ini duduk di kursi kayu melihat air merendam rumahnya.

TERDAMPAK: Seorang nenek di Desa Pacul ini duduk di kursi kayu melihat air merendam rumahnya. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Status Sungai Bengawan Solo hari ini (7/3) diprediksi memasuki siaga merah. Tentu, sejumlah kawasan permukiman di perkotaan yang berada di aliran Bengawan Solo akan terjadi banjir.

Prediksi siaga merah karena di wilayah hulu, terutama Madiun juga sudah banjir. Ketinggian air Sungai Bengawan Solo pukul 18.00 semalam, di Taman Bengawan Solo (TBS) 14.30 peilschaal. Naik menjadi 14.35 pada pukul 19.00. Sedangkan, siaga merah pada titik 15.00.

Perkiraan menembus siaga merah karena di papan duga Karangnongko Ngraho debit air juga tren naik. Pada pukul 18.00 ketinggian 27.47 peilschaal. Dan naik titik 27.48 pada pukul 19.00.

Tanda-tanda debit air Sungai Bengawan Solo naik setelah Selasa sore (5/3) hingga kemarin pagi (6/3) terjadi hujan deras. Hujan deras itu juga memicu banjir 21 desa di 9 kecamatan.

Plt (Pelaksana Tugas) Kepala Pelaksana  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Nadif Ulfia mengatakan, status Bengawan Solo diperkirakan hari ini siaga merah, karena di wilayah Madiun juga sudah banjir. Apalagi masih terjadi hujan lokal di wilayah Bojonegoro tentu akan berdampak debit air terus bertambah.

Meski begitu, tinggi muka air (TMA) di wilayah Dungus Ngawi dan Karangnongko Ngraho, cenderung stabil. “Perkirakan kiriman air dari Dungus Ngawi selama 15 jam baru datang ke Bojonegoro,” ucap dia.

Dia mengatakan, kemarin sudah melakukan penutupan doorlat di wilayah Kelurahan Jetak, Ledok Wetan, TBS, dan Jalan Jaksa Agung Suprapto. Apalagi daerah di Kelurahan Ledok Wetan, sudah terjadi banjir. Persiapan lainnya tentu personel telah siap siaga.

Ulfia, sapaan akrabnya mengatakan, telah ditetapkan darurat bencana, khususnya banjir dan tanah longsor. Darurat ini diterapkan sejak November 2018 hingga April 2019.

Selain itu, BPBD juga menganggarkan dana kedaruratan bencana dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2019 sekitar Rp 2 miliar. Banjir bandang dan luapan anak Sungai Bengawan Solo yang terjadi dua hari terakhir ini yang paling bahaya, yakni menggenangi permukiman warga.

“Sejauh ini belum ada dampak yang berbahaya, seperti korban jiwa, selain menggenangi permukiman warga. Tapi kita semua harus selalu waspada,” ungkapnya.

Meski diprediksi siaga merah, BPBD kemarin, belum berencana mendirikan posko. Sebab, kemarin belum ada pengungsi. Sehingga, posko masih terpusat di kantor BPBD.

Sementara itu, kemarin banjir mengepung wilayah perkotaan. Seperti Desa Pacul dan Desa Sukorejo. Namun, banjir karena luapan air hujan dan kali ini sepertinya tak begitu banyak perubahan. Karena air tidak bisa lari ke Sungai Bengawan Solo dengan kondisi TMA yang tinggi.

Adapun banjir luapan beberapa sungai itu terjadi lantaran lahan serapan sudah mulai banyak beralih fungsi menjadi permukiman. Sehingga air hujan tidak bisa diserap secara maksimal.

“Saat ini belum ada pengungsi, poskonya masih di kantor BPBD. Selain luapan Bengawan Solo, ada juga banjir akibat luapan sungai juga bisa terjadi karena diduga adanya pendangkalan sungai di beberapa titik,” ujarnya.

Ia mencontohkan beberapa lahan serapan sekarang banyak beralih fungsi. Di antaranya wilayah Kecamatan Kota seperti Jalan Veteran, Jalan Basuki Rahmat, Buyut Dalem, Desa Pacul, dan Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander.

Sementara, di Kecamatan Gondang, lanjut Nadif, perbukitan mulai banyak dialihfungsikan sebagai lahan produktif. “Akar pohon produktif ini tidak memiliki karakter akar kuat dan tidak bisa menyerap air. Sehingga selain rawan banjir bandang juga tanah longsor,” terangnya.

Berdasarkan data BPBD setempat kemarin, tercatat ada 914 kepala keluarga (KK) yang rumahnya tergenang banjir akibat hujan deras. Jumlah paling banyak tergenang di Desa Ngadiluhur, Kecamatan Balen, sebanyak 640 rumah.

Adapun 79 rumah tergenang di Kecamatan Kapas terjadi di 6 desa. “Enam desa di antaranya Desa Wedi, Tanjungharjo, Bangilan, Sembung, Kalianyar, dan Kedaton. Sedangkan di Kecamatan Balen ada empat desa terdampak. Yaitu Desa Sidobandung, Ngadiluhur, Kabunan, dan Sobontoro,” ujar Kasi Kesiapsiagaan Bencana BPBD Eko Susanto.

Selain dua kecamatan di atas, masih ada tujuh kecamatan lain terdampak banjir. Kecamatan Dander ada empat desa terdampak. Yakni Desa Sumberarum, Kunci, Dander, dan Growok. Kecamatan Kalitidu melanda Desa Ngujo; Kecamatan Kepohbaru, hanya di Desa Kepohbaru; Kecamatan Sukosewu, melanda Desa Jumput dan Sukosewu. Sedangkan, Kecamatan Temayang terjadi di Desa Pancur, dan Kecamatan Trucuk terjadi di Desa Sumberjo.

Kapolres Bojonegoro AKBP Ary Fadli juga terjun mengevakuasi beberapa warga terdampak banjir di wilayah Desa Sukorejo menggunakan perahu karet. Khususnya anak-anak, perempuan, dan lansia yang diberikan bantuan evakuasi.

Sebab, wilayah permukiman di sekitar tempat penimbunan kayu (TPK) Sukorejo dalam kondisi tergenang air yang cukup tinggi hingga mencapai 60 sentimeter kemarin. “Polres Bojonegoro akan siaga banjir dengan mempersiapkan personel, peralatan yang ada seperti perahu karet,” ujarnya.

(bj/gas/rij/cho/aam/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia