Rabu, 26 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

12 Ribu Ton Beras Menumpuk di Gudang

Bulog Kesulitan Pendistribusian

06 Maret 2019, 16: 41: 52 WIB | editor : Amin Fauzie

MENUMPUK: Tumpukan beras di gudang Bulog saat ini mencapai 12.000 ton. Bulog kesulitan mendistribusikan setelah rastra dihapus.

MENUMPUK: Tumpukan beras di gudang Bulog saat ini mencapai 12.000 ton. Bulog kesulitan mendistribusikan setelah rastra dihapus. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Sebanyak 12.000 ton beras masih menumpuk di gudang Bulog yang ada di Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Hingga kini beras itu masih belum dipastikan pendistribusiannya.

Kepala Subdivre III Bulog Bojonegoro M. Akbar menjelaskan, saat ini penyaluran beras di Bulog memang lambat. Itu karena pangsa pasar berkurang drastis. Sehingga, untuk mendistribusikan beras itu Bulog hanya mengandalkan operasi pasar (OP). “Ya untuk operasi pasar. Itu saja,” katanya kemarin (5/3).

Pria asli Makassar itu melanjutkan, sejak dihilangkannya program beras sejahtera (rastra) oleh Kementerian Sosial (Kemensos) tahun lalu, Bulog memang kehilangan 70 persen pangsa pasar. Sebab, selama ini Bulog hanya mengandalkan dari penyaluran rastra.

“Sejak rastra dihapus pangsa pasar kita berkurang drastis,” jelasnya.

Akbar menuturkan, tidak banyaknya beras terdistribusi juga membuat penyerapan tidak bisa berjalan maksimal. Sebab, stok di gudang juga masih melimpah. Selain itu, harga gabah di tingkat petani saat ini tergolong tinggi. Yakni mencapai Rp 4.500 per kilogram (kg).

Padahal, sesuai inpres Nomor 5/2015 harga pokok pembelian (HPP) gabah adalah Rp 3.700 ditambah 10 persen per kg. Kondisi itu membuat petani lebih memilih menjual gabahnya ke tengkulak.

“Jadi, tingginya harga gabah membuat banyak petani menjual ke tengkulak,” jelasnya.

Selain itu, sejumlah mitra Bulog juga masih enggan menjual ke Bulog. Harga yang mahal juga membuat mereka menjual ke pihak lain. “Tapi terus kita dorong agar mereka juga menjual ke kita (Bulog, Red),” jelasnya.

Akbar menuturkan, kondisi itu tidak membuatnya patah semangat. Dia yakin harga gabah akan kembali turun saat panen raya nanti. Sebab, saat panen raya pasokan gabah di Bojonegoro melimpah. Kondisi itu biasanya membuat harganya turun.

“Kita tunggu sampai panen raya nanti. Perkiraannya panen raya terjadi akhir bulan ini,” jelasnya.

(bj/zim/rij/aam/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia