Jumat, 24 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Dinilai Gagal Tangani Demam Berdarah

05 Maret 2019, 16: 38: 27 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

CEGAH NYAMUK: Petugas ketika melakukan fogging. Langkah pengasapan ini bukan solusi pencegahan DBD.

CEGAH NYAMUK: Petugas ketika melakukan fogging. Langkah pengasapan ini bukan solusi pencegahan DBD. (M. Nurcholis/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Sejumlah fraksi DPRD Bojonegoro menilai dinas kesehatan (dinkes) setempat gagal mengatasi demam berdarah dengue (DBD). Sesuai data penderita DBD selama Januari-Februari lalu, ada 233 penderita menjalani perawatan di rumah sakit. Dan mengakibatkan empat nyawa melayang.

Seharusnya, kondisi ini tidak boleh terjadi. Sehingga ke depan dinkes harus memiliki langkah strategis pencegahan. Bukan bertindak setelah ada wabah demam mengancam kesehatan warga. “Selama ini masih gagal, baru bingung setelah terjadi wabah,” kata Ketua Fraksi PDIP Perjuangan Donny Bayu Setiawan kemarin (4/3).

Dia menuturkan, langkah ditempuh selama ini baru sebatas penanganan ketika sudah terjadi DBD. Sebaliknya, langkah antisipasi belum tampak. Padahal, langkah antisipasi itu dinilai lebih penting dibanding mengobatinya. Ke depan, pihaknya meminta instansi terkait lebih memprioritaskan pencegahan melibatkan masyarakat. 

Sorotan anggota DPRD terkait gagalnya mencegah DBD itu disampaikan kalangan fraksi saat pandangan umum (PU) tanggapan rencana pembangunan jangka meengah daerah  (RPJMD) lalu. “Karena partisipasi masyarakat (pencegahan) itu lebih penting,” lanjut Ketua Fraksi Gerindra Sally Atyasasmi.

Menurut dia, langkah ditempuh dinas selama ini hanya fogging. Padahal kegiatan tersebut dinilai bukan menjawab persoalan. Hanya membunuh nyamuk dalam waktu singkat. Jika tidak ada gerakan bersama masyarakat mencegah berkembangbiaknya nyamuk menyebabkan wabah DBD, ke depan akan tetap terjadi DBD.

“Harus ada gerakan bersama masyarakat, memberantas sarang nyamuk,” lanjut Ketua Fraksi Demokrat M. Yasin.

Kepala Dinkes Ninik Susmiati mengatakan, langkah antisipasi itu lebih penting. Sehingga, pencegahan penyakit DBD membutuhkan peran serta dan kepedulian semua pihak.

Karena, penyakit ini erat kaitannya dengan perilaku hidup bersih dan sehat diterapkan setiap individu. “Anggapan di masyarakat bahwa pengasapan atau fogging merupakan satu-satunya cara paling efektif adalah kurang benar,” katanya.

Menurut dia, cara paling efektif dengan menggerakkan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Karena dengan metode itu akan membunuh jentik, telur, dan pupa Aedes. 

Untuk gerakan PSN, dia mengklaim telah membagikan 900 kilogram larvasida kimia. Dan 24.560 botol larvasida organik ke masyarakat melalui puskesmas.

Terkait fogging, kata dia, tidak dilakukan berdasarkan usulan atau pengajuan dari masyarakat. Tetapi berdasarkan indikasi hasil penyelidikan epidemiologi oleh tenaga kesehatan. “Fogging itu pilihan terakhir dalam penanggulangan DBD,” ujarnya.  

Fogging tidak efektif, kata dia, jika tidak disertai dengan PSN yang serentak dan berkesinambungan.

(bj/cho/msu/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia