Jumat, 23 Aug 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Membuat Pasar Kuliner di Bawah Pohon Bambu

Gerakkan Kuliner Pinggir Bengawan

04 Maret 2019, 10: 40: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

PASAR TEPI BENGAWAN: Jadi tempat menikmati pemandangan sambil menikmati jajanan tradisional.

PASAR TEPI BENGAWAN: Jadi tempat menikmati pemandangan sambil menikmati jajanan tradisional. (CHAHYA SYLVIANITA/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Terinspirasi dari keinginan menyantap makanan di tepi Sungai Bengawan Solo. Budi Kurniawan bersama teman-temannya akhirnya mewujudkan Pasar Sor Greng yang artinya pasar di bawah pohon rindang dan terletak di bantaran Sungai Bengawan Solo.

Cuaca sedikit mendung dengan sisa-sisa air hujan yang turun kemarin malam. Walaupun minggu pagi itu redup, warga Kelurahan Ledok Wetan tetap semangat untuk menjajakan jajanan khas desa. Seperti bubur grendul, dan komot mutioro.

Dengan ciri khas baju adat jawa yang bermotif garis-garis cokelat, warga dari RT 2 hingga RT 3 berjualan. Pemandangan bantaran Sungai Bengawan Solo dan pohon-pohon bambu yang teduh, menambah suasana khas pedesaan.

“Paguyuban Sor Greng baru terbentuk dua minggu ini. Sedangkan persiapan Pasar Sor Greng sudah dua bulan ini,” kata Ketua Paguyuban Sor Greng Budi Kurniawan. Budi menceritakan, inspirasinya datang dari kegemarannya untuk menikmati pemandangan dari pinggir bengawan.

“Kalau makan siang biasanya di sini di bawah pohon bambu. Apalagi suasananya teduh. Jadi timbul keinginan untuk membuat kegiatan di sini,” ucap pria yang saat itu memakai blangkon.

Budi mengatakan, Pasar Sor Greng akan direncanakan rutin setiap minggu. Bahkan menurutnya, acara ini akan meningkatkan perekonomian desa. Ada sekitar 25 stan yang menjajakan berbagai makanan, minuman, dan mainan tradisional anak-anak.

Agar menambah rasa khas pada Pasar Sor Greng, warga secara serempak menggunakan gerabah atau tembikar sebagai wadah berjualan. Suasana khas desa menjadi semakin terasa sambil menikmati bubur grendul yang manis.

Pasar Sor Greng akan dibuka mulai pukul 07.30 hingga 12.00. Warga akan dimanjakan dengan pemandangan tepi bengawan sambil mencicipi jajanan tradisional. Sedangkan untuk metode pembayaran, lanjut Budi, warga akan menukar uang dengan koin khusus yang telah dipersiapkan di pintu masuk.

Koin yang terbuat dari akrilik itu berupa pecahan Rp 2 ribu dan Rp 10 ribu. “Jadi nanti belinya pakai koin itu,” ucap Budi.

Sambil sesekali berbincang asyik dengan teman-temannya, Budi mengatakan, akan terus mengoptimalkan Pasar Sor Greng agar diketahui masyarakat banyak selain warga sekitarnya. “Nanti dari sisi lainnya akan terus kita tambah stan aneka produk khas Bojonegoro seperti gerabah,” katanya.

Berbagai spot foto untuk muda-mudi juga tidak luput. Agar menarik bagi kaum milenial, Paguyuban Sor Greng membuat jembatan dari bambu dan beberapa spot foto di pinggir bengawan. “Semua hasil mandiri dan kerja keras warga. Ada yang menyumbang paku, kopi, dan bambu,” katanya.

Budi menambahkan, mudah-mudahan warga bisa menikmati lingkungan yang asri di tepi bengawan. Pemanfaatan lahan bantaran sungai juga bisa meminimalisir warga yang membuang sampah sembarangan. Menurutnya, jika ada kegiatan seperti ini akan menambah kecintaan warga pada lingkungan.

Selain meningkatkan perekonomian, Budi juga mengimbau pada warga agar tidak ada lagi sampah yang dibakar.

“Mudah-mudahan bisa menjadi ikon baru warga Bojonegoro,” tuturnya.

(bj/cs /aam/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia