Minggu, 17 Nov 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban

Supervisor dari Sales Oppo Kunyah Terasi Disanksi

01 Maret 2019, 17: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

VIRAL: Seorang netizen sedang mengikuti berita yang sedang viral.

VIRAL: Seorang netizen sedang mengikuti berita yang sedang viral. (SUPRIYANTO/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

TUBAN – Kasus sales oppo dihukum mengunyah terasi akhirnya berdampak pada sanksi kepada supervisor Dwi Prawoto Hadi. Saat dikonfirmasi Dwi Prawoto Hadi membenarkan kalau dirinya sudah mendapat sanksi skorsing.

‘’Iya, saya diskorsing sampai waktu yang belum ditentukan. Selengkapnya langsung ke pimpinan saya saja,’’ kata dia yang langsung menutup teleponnya.

Kasatreskrim Polres Tuban AKP Mustijat Priyambodo mengatakan, aduan terkait hukuman tak manusiawi yang dilaporkan sales Oppo Gemilang Indra Yuliarti sudah di mejanya. Dia memastikan tetap memroses laporan tersebut.

Agenda terdekat, kata dia, penyidik bakal memanggil terlapor dan mengumpulkan saksi korban yang pernah diperlakukan tidak manusiawi. ‘’Masih kami proses,’’ katanya.

Seperti diberitakan, demi mencapai target penjualan, hukuman tak manusiawi diduga diterapkan supervisor dan trainer terhadap sales smartphone merek Oppo yang bernaung di bawah PT Word Innovate Telecomunication (WIT). Hukumannya, mulai lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, mengunyah terasi, dan garam. Panishment harian tersebut diberlakukan untuk seluruh sales atau bagian pemasaran yang tak memenuhi target.

Hukuman berat yang diduga dilakukan  supervisor dan trainer Oppo terhadap puluhan sales di wilayah Tuban dan sekitarnya itu berlangsung sejak dua setengah tahun terakhir. Kasus ini Selasa (26/2) lalu terungkap setelah Gemilang Indra Yuliarti, sales salah satu korban hukuman tak manusiawi itu melapor ke Unit IV Satreskrim Polres Tuban.

Gemilang bergabung dengan tim pemasaran Oppo sejak Oktober 2016. Dia mengungkapkan, hukuman tersebut dijatuhkan setiap hari tanpa henti. Jika supervisor tidak berada di Tuban, hukuman tersebut harus direkam format video dengan ponsel dan dilaporkan melalui grup media sosial yang berisi seluruh anggota tim.

Jika diakumulasi, kata Gemilang, rata-rata tiap minggu ada 4 hingga 5 kali hukuman tak masuk akal yang dijatuhkan.  Tidak ada yang berani memberontak, meski beberapa sales  keracunan hingga sakit setelah mengonsumsi makanan tak lazim tersebut.

Selain hukuman tak manusiawi, terkadang supervisor dan jajaran pimpinan area tersebut memberlakukan denda mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu. Seluruhnya dikumpulkan para supervisor dengan alasan untuk uang kas.

(bj/ds/yud/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia