Senin, 20 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Blora

Kerupuk Sermier Bisa Jadi Ikon Baru

01 Maret 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

TRADISIONAL: Pembuat kerupuk sermier saat melakukan penggorengan manual masih menggunakan kayu dan tungku tanah.

TRADISIONAL: Pembuat kerupuk sermier saat melakukan penggorengan manual masih menggunakan kayu dan tungku tanah. (M. MAHFUDZ MUNTAHA/JAWA POS RADAR BLORA)

BLORA - Gurihnya kerupuk sermier bisa menjadi pemikat bagi warga luar Blora untuk berkunjung di kota kelahiran Pramoedya Ananta Toer ini.

Meski kota ini masih identik dengan Kota Sate, bila kerupuk yang sudah turun temurun diproduksi di Desa Wantilgung, Kecamatan Ngawen, dikelola dengan baik bakal menjadi ikon baru di Blora.

Kerupuk yang dibuat dari singkong ini, sudah cukup terkenal di berbagai wilayah. Untuk menuju sebagai ikon itu, membutuhkan keseriusan pemerintah setempat.

Saat ini pemerintah Desa Wantigung mulai berlakukan kerupuk sermier sebagai kerupuk khas desa setempat.

Selain enak dan gurihnya kerupuk ini, yang bakal menjadi perhatian adalah sampai saat ini warga setempat masih mempertahankan cara produksinya secara tradisional. Ada lebih 70 perempuan menekuni pembuatan kerupuk sermier secara manual.

Salah satu pembuat kerupuk Darni mengatakan, cara membuat kerupuk ini membutuhkan waktu cukup lama. Dari awal singkong dikupas kemudian digiling hingga lembut.

Selanjutnya, singkong lembut itu dibuat adonan dicampur bumbu seperti bawang, ketumbar, garam, dan daun seledri sebagai pewangi rasa. Dari adonan itu kemudian dipotong-potong berbentuk bulat.

Dari potongan adonan bulat itu lantas digepengkan dengan digilas satu per satu hingga tipis menggunakan botol bekas kecap. Setelah terbentuk bulat dan tipis kemudian dijemur agar kering.

Proses penjemurannya juga masih mengandalkan sinar matahari. “Jadi kalau tidak ada panas matahari ya tidak membuat,” terangnya.

Setelah kering, kerupuk sermier mentah kemudian digoreng dalam wajan di atas tungku menggunakan bahan bakar kayu.

Kepala Desa Wantilgung Yuntarno mengatakan, dengan proses yang masih sangat tradisional itu, membuat kerupuk sermier butuh perhatian serius dan terus didorong pemerintah setempat. Dia berharap ada pelatihan untuk memajukan produksi kerupuk.

Seperti pelatihan tentang kemasan, pemasaran, serta kesehatan yang menyangkut kebersihan dan ketentuan uji makanan. Agar kerupuk sermier bisa menjadi ikon yang lebih dikenal.

“Pihak desa sendiri juga berusaha memberi ruang untuk mengangkat potensi yang ada,” ujarnya.

(bj/fud/aam/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia