Selasa, 25 Jun 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban

Kata Sales Oppo yang Melapor, Saya Melawan Hukuman Tak Manusiawi

28 Februari 2019, 15: 30: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

TUBAN - Gemilang Indra Yuliarti, salah satu sales Oppo yang menjadi korban hukuman tak manusiawi  yang diberlakukan supervisor dan trainer tempatnya bekerja, tahu betul konsekuensi atas pelaporan polisi yang diusung ke mapolres setempat. 

Gemilang melaporkan supervisor dan trainer PT. World Innovate Telecomunication (WIT) ke Unit IV  Satreskrim Polres Tuban dengan harapan mencari keadilan dan memutus rantai hukuman di dunia kerja.

Dara berambut panjang ini mengaku beberapa kali mangkir dari hukuman tak manusiawi yang dijatuhkan Dwi Prawoto Hadi, supervisornya. 

Ketika teman-teman sekerjanya menjalani hukuman karena tak memenuhi target, Gemilang memilih cuek dan tidak menjalani hukuman apa pun yang diinstruksikan melalui grup media sosial timnya. ‘’Saya melawan hukuman tak manusiawi itu,’’ tegas dia yang mengaku mempunyai pertimbangan matang atas perlawanannya.

Gemilang mengatakan, perlawanannya terhadap peraturan yang melanggar hak asasi manusia (HAM) itu dimulai sejak November 2018. Saat itu, dia yang mulai tak betah dengan perlakuan atasannya mengeluh ke Hari Cahyono, pamannya yang juga pengacara di Mojokerto. 

Saat itu, pamannya mendorong untuk lapor ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur. ‘’Orang disnaker bilang ke saya, kalau dihukum tidak wajar diabaikan saja,’’ kata dia menjelaskan latar belakang  keberaniannya untuk melawan.

Sejak konsultasi dengan petugas Disnakertrans Jawa Timur, Gemilang nyaris tak pernah menaati hukuman-hukuman yang diberikan. Gemilang pun mengaku sering mendapat gunjingan dari teman kerjanya karena hanya dirinya yang berani melawan. 

Sebagian sales lain yang tak berani melawan tetap menjalani hukuman jika tak tembus target. ‘’Saya berharap perlawanan saya ini bisa memutus rantai hukuman agar tidak dianggap sebagai budaya yang wajar,’’ kata dia.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Tenaga Kerja Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (Dinas PTSP dan Naker) Tuban Wadiono mengatakan, perpeloncoan di dunia kerja tidak dibenarkan. Termasuk yang terjadi di dalam tim marketing Oppo di Tuban dan sekitarnya. Dia berharap korban yang dirugikan melapor agar perpeloncoan dunia kerja bisa dihapuskan. ‘’Kekerasan dunia kerja tidak dibenarkan. Korban yang merasa dirugikan harus membuat laporan ke kami, baru bisa diproses,’’ kata dia.

Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Tuban, demi mencapai target penjualan, hukuman tak manusiawi diduga diterapkan supervisor dan trainer terhadap sales smartphone merek Oppo yang bernaung di bawah PT WIT. Hukumannya mulai lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, mengunyah terasi, dan garam diberlakukan untuk seluruh sales atau bagian pemasaran jika tak memenuhi target. Hukuman tersebut diberlakukan nyaris setiap hari.

Persekusi yang diduga dilakukan  supervisor dan trainer Oppo terhadap puluhan sales di wilayah Tuban dan sekitarnya itu berlangsung sejak dua setengah tahun terakhir. 

Kasus ini Selasa (26/2) lalu terungkap setelah Gemilang Indra Yuliarti, salah satu korban hukuman tak manusiawi itu melapor ke Unit IV Satreskrim Polres Tuban. 

Gemilang bergabung dengan tim pemasaran Oppo sejak Oktober 2016. Ketentuan saat itu, sales yang tidak memenuhi target penjualan mendapat hukuman squat jump, push up, dan hukuman lain yang masih dinilai wajar. 

Selain hukuman fisik, sejumlah sales diminta makan makanan tak lazim. Seperti belimbing wuluh, jeruk nipis, pare mentah, cabai, bawang putih, garam, hingga terasi. Jika supervisor tidak berada di Tuban, hukuman tersebut harus direkam format video dengan ponsel dan dilaporkan melalui grup media sosial yang berisi seluruh anggota tim. 

Hukuman tersebut nyaris diberikan setiap hari. Jika diakumulasi, kata Gemilang, rata-rata tiap minggu ada 4 hingga 5 kali hukuman tak masuk akal yang diberikan. Tidak ada yang berani memberontak, meski beberapa sales harus keracunan hingga sakit setelah mengonsumsi makanan tak lazim tersebut. 

Rabu (27/2), Dwi Prawoto Hadi, supervisor (spv) yang dilaporkan ke polisi terkait dugaan hukuman tak manusiawi tersebut  mengakui hukuman-hukuman tersebut. Mulai lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, mengunyah terasi, dan garam yang diberlakukan untuk sales yang tidak penuh target. ‘’Sebelum saya masuk ke Oppo, hukuman seperti itu sudah ada untuk memacu semangat para marketing,’’ tutur dia kepada Jawa Pos Radar Tuban. 

Pria kelahiran Lamongan itu mengatakan, seluruh promotor atau sales yang tak penuh target menerima hukuman tersebut dengan lapang dada. Tak satu pun yang merasa keberatan, kecuali Gemilang yang melapor ke polisi. Dia menganggap hukuman tersebut merupakan konsekuensi bagian pemasaran agar terus terpacu dan bersemangat dalam menjual produknya. ‘’Semua promotor menjalani hukuman dengan have fun, yang keberatan ya cuma satu orang itu saja,’’ tegas dia.

Meski demikian, Dwi merespons baik laporan polisi atas dugaan hukuman tak wajar itu sebagai bahan evaluasi dirinya. Meski diklaim hanya memberatkan satu sales, dia berjanji akan merevisi hukuman tersebut.

(bj/yud/ds/yan/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia