Selasa, 25 Jun 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban

Sales Oppo yang Laporkan "Kunyah Terasi" Dinilai Promotor Sulit Diatur

28 Februari 2019, 15: 00: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Koran Jawa Pos Radar Tuban edisi 28 Februari 2019

Koran Jawa Pos Radar Tuban edisi 28 Februari 2019 (Istimewa/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

TUBAN - Jajaran supervisor dan trainer Oppo yang bernaung di bawah PT. World Innovate Telecomunication (WIT) membeberkan data tentang Gemilang Indra Yuliarti, sales Oppo berstatus promotor Oppo, yang melapor ke Polres Tuban karena merasa hukumannya tak manusiawi seperti mengunyak terasi ketika tak memenuhi target. 

Rabu (27/2), Dwi Prawoto Hadi, supervisor (spv) yang dilaporkan ke polisi terkait dugaan hukuman tak manusiawi tersebut, menjelaskan, Gemilang sudah bergabung sebagai promotor Oppo sejak dua setengah tahun silam. Dia heran kenapa Gemilang baru sekarang mempermasalahkan hukuman tersebut. ‘’Kalau memang keberatan kenapa tidak protes sejak dulu, kok baru sekarang?’’ tanyanya heran.

Terkait pengelolaan uang kas yang juga dilaporkan ke polisi, dia mengaku bisa mempertanggungjawabkan seluruh pemasukan dan pengeluaran. Selama ini, kata Dwi, seluruh uang kas dikelola baik oleh bendahara tim. Setiap ada pemasukan dan pengeluaran, seluruh laporan disebarkan ke grup medsos anggota tim. ‘’Setiap event pemasaran pakai uang kas dan itu semua jelas pertanggungjawabannya,’’ kata Dwi mengklarifikasi tuduhan tidak jelasnya pengelolaan uang kas.

Di bagian lain, Dwi justru menyerang balik anak buahnya tersebut. Pria yang saat ini tinggal di Jalan Ngemplak, Kecamatan Semanding ini mengatakan, Gemilang satu-satunya promotor yang paling sulit diatur. Masih kata Dwi, Gemilang beberapa kali terlambat datang bekerja maupun saat briefing. Demikian juga saat diberi hukuman, Gemilang nyaris tidak pernah menjalankan hukuman yang diberikan. ‘’Gemilang sudah lama tidak pernah menaati hukuman dan promotor yang paling sulit diatur,’’ kata dia. 

Dwi menambahkan, hukuman fisik, makan makanan yang tak lazim, dan denda tersebut merupakan kebijakan masing-masing area. Bukan standard operating procedure (SOP) dari perusahaan pusat. 

Pemasaran Oppo di Tuban dilakukan sekitar 40 promotor atau sales di bawah naungan lima supervisor. Salah satunya dirinya. Terkait polemik dalam tim, Dwi menyerahkan ke bagian human and resource development (HRD) perusahaannya. ‘’Untuk proses hukum akan kami taati sesuai prosedur,’’ kata dia.

Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Tuban, demi mencapai target penjualan, hukuman tak manusiawi diduga diterapkan supervisor dan trainer terhadap sales smartphone merek Oppo yang bernaung di bawah PT WIT. Hukumannya mulai lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, mengunyah terasi, dan garam diberlakukan untuk seluruh sales atau bagian pemasaran jika tak memenuhi target. Hukuman tersebut diberlakukan nyaris setiap hari.

Persekusi yang diduga dilakukan  supervisor dan trainer Oppo terhadap puluhan sales di wilayah Tuban dan sekitarnya itu berlangsung sejak dua setengah tahun terakhir. 

Kasus ini Selasa (26/2) lalu terungkap setelah Gemilang Indra Yuliarti, salah satu korban hukuman tak manusiawi itu melapor ke Unit IV Satreskrim Polres Tuban. 

Gemilang bergabung dengan tim pemasaran Oppo sejak Oktober 2016. Ketentuan saat itu, sales yang tidak memenuhi target penjualan mendapat hukuman squat jump, push up, dan hukuman lain yang masih dinilai wajar. 

Selain hukuman fisik, sejumlah sales diminta makan makanan tak lazim. Seperti belimbing wuluh, jeruk nipis, pare mentah, cabai, bawang putih, garam, hingga terasi. Jika supervisor tidak berada di Tuban, hukuman tersebut harus direkam format video dengan ponsel dan dilaporkan melalui grup media sosial yang berisi seluruh anggota tim. 

Hukuman tersebut nyaris diberikan setiap hari. Jika diakumulasi, kata Gemilang, rata-rata tiap minggu ada 4 hingga 5 kali hukuman tak masuk akal yang diberikan. Tidak ada yang berani memberontak, meski beberapa sales harus keracunan hingga sakit setelah mengonsumsi makanan tak lazim tersebut. 

Selain hukuman tak manusiawi, terkadang supervisor dan jajaran pimpinan area tersebut memberlakukan denda mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu. Seluruhnya dikumpulkan para supervisor dengan alasan untuk uang kas.

(bj/yud/ds/yan/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia