Rabu, 26 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Jarang Hujan, Produksi Pertanian Terancam Terganggu

27 Februari 2019, 17: 58: 47 WIB | editor : Amin Fauzie

PANEN MUNDUR: Akibat intensitas hujan masih minim, pola tanam di Lamongan menjadi mundur. Termasuk musim panen raya mundur, meski ada yang sudah panen, seperti dalam foto.

PANEN MUNDUR: Akibat intensitas hujan masih minim, pola tanam di Lamongan menjadi mundur. Termasuk musim panen raya mundur, meski ada yang sudah panen, seperti dalam foto. (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

TIKUNG – Meski memasuki musim hujan, memasuki akhir Februari ini intensitas hujan di Lamongan masih minim. Padahal tahun-tahun sebelumnya sudah mendekati puncak musim hujan. Sehingga pola tanam terganggu dan mengancam produksi pertanian turun. 

Menurut petani Desa Kelorarum Kecamatan Tikung, Hambali, periode tanam padi saat ini mundur dari jadwal. Biasanya November sudah tabur benih, sehingga Februari sudah panen raya. Namun saat ini Desember saja hujan masih jarang. Sehingga membuat pertumbuhan padi melambat. Akibatnya, memasuki akhir Februari ini banyak yang belum panen.

Sedangkan saat kondisi padi sudah berisi, lanjut dia, terjadi hujan lebat disertai angin. Akibatnya banyak tanaman padi  roboh. “Kalau padi roboh otomatis kualitasnya turun dan ada selisih harga pembelian,” ungkapnya kemarin (26/2).

Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan, Rudjito mengklaim, meski intensitas hujan masih minim hingga akhir Februari, pola tanam petani tetap bisa tiga kali. Yakni musim tanam utama, gadu, dan tanam kemarau. Secara periodisasi musim tanam Oktober- Maret dan April-September.

Hanya, lanjut dia, hal itu menyesuaikan kondisi lapangan. Salah satunya kondisi hujan. Namun dia memastikan sistem tanam juga bisa direkayasa. Misalnya, sebelum panen, segera dilakukan tabur benih. Supaya setelah panen, benih sudah tumbuh dan ladang bisa ditanami kembali. Hanya pola tanam tersebut memang kurang baik untuk lahan dan hasilnya. Sebab, sistem yang salah akan berpengaruh pada serangan hama dan lainnya. “Sebenarnya lahan juga butuh pemulihan, sehingga ada toleransi masa tanam,” terangnya.

Menurut dia, teknis tersebut bisa dilakukan agar pola tanam tetap bisa berjalan tiga kali. Selain itu target produski tetap aman. Rudjito mengaku akan melakukan koordinasi untuk masalah air dan pupuk. Sasaran tanam per Januari untuk padi 65.971 Hektare, jagung 26.916 Hektare, sedangkan kedelai 2.143 Hektare. ‘’Terkait luas tanam gadu belum bisa dipastikan, karena musim tanam utama belum semuanya panen. Termasuk target belum bisa dibahas,’’ ujarnya.

(bj/rka/feb/yan/jar/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia