Sabtu, 23 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Petani Bawang Merah Terkendala Hama Ulat

25 Februari 2019, 10: 05: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SABAR: Para petani bawang merah harus bersabar. Saat ini sedang diserang hama ulat.

SABAR: Para petani bawang merah harus bersabar. Saat ini sedang diserang hama ulat. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

KEDUNGADEM - Petani bawang merah di Kecamatan Kedungadem memperkirakan hasil dan harga tanamannya akan bagus. Sebab, cuaca akhir-akhir ini mendukung. Namun, ulat menjadi penyakit yang menyerang tanamannya.

Menurut salah satu petani bawang merah Untari, panen ke depan hasil bawang merahnya bagus. Namun sekarang yang menjadi kendala, yaitu banyak ulat.

“Ulatnya jadi penyakit. Soalnya sudah satu minggu tidak hujan. Tapi, semisal sering hujan hasil bawang merahnya juga kurang bagus,” kata wanita asal Desa Pejok, Kecamatan Kedungadem.

Meski begitu, dia memprediksi bahwa hasil panen bawang merah akan bagus. Terlebih harganya tinggi. Adapun, tahun ini masyarakat Kedungadem telah dua kali panen.

“Baru-baru ini bawang merah Kedungadem menyaingi hasil panen dari Bima (NTB). Sebab, ukurannya lebih besar dan segar,” jelas dia.

Lanjut Untari, dia memiliki lahan tak sampai satu hektare. Namun, dia biasanya membeli bibit bawang merah sebanyak 4 kuintal dari Nganjuk.  

“Saat ini tanaman saya sudah berumur 25 hari dan bisa dipanen 56 hari. Tapi kalau memang bawang merahnya bagus, belum sampai 50 hari sudah banyak dicari pembeli,” kata dia.

Sementara itu, petani bawang merah lainnya, Agus Wahyu mengatakan, tanaman ini akan menguntungkan jika cuaca dan pengelolaannya bagus. Selalu diberi pupuk dan garam.

“Tanah yang ditanami bawang merah harus dingin. Tidak boleh kering dan tergenang air atau banjir,” imbuh dia.

Menurut Agus, sapaannya, bawang merah hasil dari masyarakat Kedungadem agak sulit mengalahkan milik Nganjuk. Sebab, di Nganjuk kontur tanahnya cocok dan mereka juga memiliki skill yang mumpuni.

“Kita saja kalau beli bibit dari Nganjuk. Bibitnya bagus. Tapi harganya mahal. Per kilogramnya sampai Rp 35 ribu,” ucap dia.

(bj/dny/aam/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia