Selasa, 23 Jul 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban
Menelusuri Peninggalan Sejarah di Tuban

Candi Bulujowo Ditemukan 2014, Setelah Itu Tidak Terjaga

22 Februari 2019, 10: 45: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MASIH ASLI: Gerbang kompleks makam Sunan Bonang yang termasuk satu satu cagar budaya teregistrasi.

MASIH ASLI: Gerbang kompleks makam Sunan Bonang yang termasuk satu satu cagar budaya teregistrasi. (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

TUBAN sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, wilayah pantura ini mempunyai banyak situs warisan sejarah. Tidak semua situs tersebut terjaga dengan baik. Sebagian besar lenyap ditelan zaman karena minimnya kepedulian menjaga aset sejarah tersebut.

Selain kompleks makam Sunan Bonang dan tempat wisata religi lainnya, nyaris tak ada situs sejarah di Tuban yang masih utuh dan terawat. Maklum, tidak ada penjagaan atau perawatan khusus terhadap situs sejarah tersebut.

Tak bisa dipungkiri, bukti sejarah adalah aset. Berusia 725 tahun, seharusnya menjadikan kota yang berjuluk Bumi Wali menyimpan segudang sejarah.

Berdasar inventarisasi Badan Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, aset sejarah di Tuban pada 2018 tercatat 518 objek cagar budaya. Rinciannya, 445 benda, 43 struktur, 18 bangunan, dan 12 situs cagar budaya. Dari ratusan daftar tersebut, hanya 7 yang teregistrasi. Artinya, hanya 7  warisan sejarah yang berhasil dilacak jejaknya. Mulai dari tahun berdiri hingga memastikan keaslian bangunan tersebut.

Koordinator Juru Pelihara BPCB Jawa Timur Wilayah Tuban Endang Sri Wuryani mengatakan, tujuh cagar budaya yang sudah teregistrasi adalah kompleks makam Sunan Bonang, situs makam Bejagung Lor, situs makam Bejagung Kidul, dan kompleks makam Ibrahim Asmoroqondi. Berikutnya, Gua Suci di Desa Wangun, Kecamatan Palang; Candi Bulujowo, prasasti Bandungrejo. ‘’Jika sudah teregistrasi, ada perlindungan hukum karena dilindungi undang-undang,’’ terang Endang.

Dia memastikan baru tujuh cagar budaya tersebut yang statusnya jelas dan dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Sementara nasib cagar budaya lainnya tak jelas.

Kesulitan meregistrasi cagar budaya di Bumi Wali, kata dia, karena Tuban belum memiliki peraturan daerah (perda) tentang situs sejarah. Sehingga, untuk registrasi aset sejarah, BPCB Jawa Timur yang harus langsung turun ke Tuban. ''Dengan tidak adanya perda, cukup sulit menjaga cagar budaya agar tetap utuh. Sebagian besar cagar budaya yang sudah ditemukan tak jelas kelanjutannya,'' kata perempuan berjilbab itu.

Dia mencontohkan penemuan Candi Bulujowo pada 2014. Usai ditemukan, tidak ada kelanjutan untuk merawat atau menjaga situs tersebut. ‘’Memang butuh kesadaran untuk mau sama-sama menjaga cagar budaya agar tidak dicuri atau rusak,’’ tambah ibu tiga anak ini.

Karena itu, tidak heran jika banyak cagar budaya yang rusak. Selebihnya tak terjaga, sehingga muncul peluang tangan jahil untuk mencurinya. Padahal, perusak situs sejarah bisa dipidana. Mengacu pasal 66 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya disebutkan setiap orang yang dengan sengaja merusak cagar budaya dipidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 15 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 500 juta dan paling banyak Rp 5 miliar.

Endang menambahkan, status cagar budaya sebenarnya tidak sepenuhnya wewenang BPCB. Pemerintah daerah, kata dia, punya wewenang untuk menentukan cagar budayanya sendiri. Jika mengacu payung hukum di atas, syarat suatu situs dijadikan cagar budaya adalah berusia minimal 50 tahun dan memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, atau kebudayaan. ‘’Inti dari pemetaan cagar budaya ini untuk tahu identitas dan sejarah wilayah tersebut, jadi penting untuk dijaga,’’ tegas dia.

(bj/yud/yan/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia