Rabu, 26 Jun 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban
Menelusuri Peninggalan Sejarah di Tuban

Hanya Bangunan Dinkes dan Cabdin yang Terjaga

22 Februari 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

ARSITEKTUR KUNO: Cagar budaya di Jalan Brawijaya yang dijadikan kantor Dinas Kesehatan Tuban.

ARSITEKTUR KUNO: Cagar budaya di Jalan Brawijaya yang dijadikan kantor Dinas Kesehatan Tuban. (MUHAMMAD RIZA AL-GHOZALI/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

Menelusuri jejak peninggalan sejarah berusia ratusan hingga ribuan tahun di Tuban, ibarat menegakkan benang basah. Sulit karena minimnya referensi. Tak hanya bangunan. Juga situs-situs sejarah.

BANGUNAN bersejarah di Jalan Brawijaya yang ditempati kantor dinas kesehatan (dinkes) itu berdiri kukuh. Kesan kuno sangat terlihat dari tampilan luarnya. Masuk ke dalam, kian jelas perbedaan fisik bangunan cagar budaya tersebut dengan bangunan masa kini. Tebal temboknya saja sekitar 50 sentimeter (cm). Ketebalan tersebut hampir lima kali lipat dari dinding bangunan sekarang yang hanya 10-12 cm.

Yang khas dari gedung yang dibangun di zaman Belanda ini, memiliki pilar raksasa yang membuat kesan bangunan kukuh. Bangunan kuno ini juga memiliki atap yang lebar dan menjadi payung untuk seluruh bangunan di bawahnya. Bahan atapnya genting tanah.

Kemegahan bangunan zaman Belanda juga terpampang jelas dari ukuran pintu utama yang memiliki dua daun pintu dan setinggi 3 meter (m) plus dua jendela yang tak kalah lebarnya pada kedua sisi bangunan.

Kondisi hampir sama terlihat di kantor Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Bojonegoro-Tuban di Jalan Panglima Sudirman. Gedung ini juga mempertahankan bentuk aslinya yang kuno.

Cagar budaya yang sekarang ini menjadi kantor dinkes, dulunya diduga bangunan rumah sakit pertama di Tuban. ‘’Dulu, rumah sakit dan dinas kesehatan gabung menjadi satu,’’ ujar Sekretaris Dinas Kesehatan Tuban Endah Nurul Khomariyati.

Dokter Saiful Hadi mengatakan, selama menjadi kepala dinkes, dia beberapa kali merenovasi bangunan kantor tersebut. Namun, renovasi tersebut sama sekali tidak mengubah bentuk aslinya. Di kantor ini pula, kata dia, dokter pertama di Tuban, yakni dr R. Koesma bertugas. Nama dokter inilah yang diabadikan menjadi nama  RSUD di Bumi Wali.

Selama menjabat kepala dinkes, dirinya berusaha mengumpulkan cuilan-cuilan sejarah yang terkubur. Salah satu sumbernya, dokumen foto dan catatan kuno milik dr Heri, direktur RS Medika Mulya Tuban.

Saiful mengatakan, Heri mendapatkan catatan penting tersebut dari Adlan, ayahnya yang dulu adalah sekretaris dinkes sekaligus sekretaris rumah sakit. Saiful mengaku penelusurannya tidak dilanjutkan setelah dia dipromosikan sebagai direktur RSUD dr R. Koesma Tuban.

Selama menghuni kantor dinkes, pejabat kelahiran Rengel ini mengaku mengetahui sebagian kondisi bangunan cagar budaya tersebut. Dikatakan dia, dinding kantor tersebut tersusun dari batu gunung. Teknisi bangunan tidak menggunakan semen untuk merekatkannya dengan pasir. ''Sebagai gantinya adonan batu bata merah. Adonannya seperti gula aren, kuat sekali,'' tutur dokter jebolan Unair Surabaya itu.

Untuk mendapat data dari dr Heri, wartawan koran ini berkali-kali menghubungi ponselnya, namun tidak diangkat. 

Sementara di cagar budaya kantor cabang dinas pendidikan memiliki tujuh ruang yang digunakan untuk kantor, staf, dan ruang pegawai. Surijah, 59, salah satu warga yang tinggal di dekat kantor tersebut mengatakan, dulunya, kantor itu ditempati panti sosial. Baru pada 9 Januari 2017, beralih menjadi kantor cabang dinas.

Seperti halnya eks rumah sakit, jejak sejarah kantor ini juga sulit ditelusuri. Referensi di perputakaan daerah tak satu pun yang mengupas.

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Tuban Suwanto membenarkan kantor dinkes dan dan kantor cabang termasuk peninggalan Belanda dan menjadi cagar budaya.

(bj/yan/rza/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia