Jumat, 21 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Oleh: Zahidin

Haji Replika di "Makkah-Madinah"

Direktur Radar Bojonegoro

06 Februari 2019, 08: 52: 52 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

REPLIKA: Pengurus KBIH Masyarakat Madani yang kemarin (5/2) berkunjung ke Firdaus Fatimah Zahra, Semarang.

REPLIKA: Pengurus KBIH Masyarakat Madani yang kemarin (5/2) berkunjung ke Firdaus Fatimah Zahra, Semarang. (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

GERBANGNYA tak bergaya arabian. Malah mirip Arc de Triomphe di Paris. Itulah Firdaus Fatimah Zahrah. Area enam hektar yang didedikasikan sebagai miniatur "Makkah-Madinah". 

Inilah destinasi wisata menarik di Semarang. Meski bukan bangunan baru, tempat ini kini menjadi trend wisata religi. Terutama bagi KBIH, travel umroh dan haji plus, serta peziarah walisongo.

Tempat ini sudah berdiri sejak 2013. Namun baru tiga empat tahun ini dibuka untuk umum. Tujuan pertama dipakai khusus bagi jamaah travel pemilik kawasan wisata ini. Dipakai untuk manasik jamaah umroh haji.

Tempat ini memang sangat layak. Pemiliknya sangat serius. Lahan seluas itu diabdikan betul bagi mereka yang ingin sekedar melihat. Belajar. Dan menasik. Baik haji dan umroh. Dikonsep mirip ibadah haji.

Jamaah eh... pengunjung beli tiket. Namanya "passfor". Berwarna hijau. Seukuran paspot beneran. Lembar pertam dimirip-miripkan demikian.

Masuk area seakan sedang mau masuk bandara. Setiap pengunjung harus melalui proses imigrasi. Passfor pun harus distempel "petugaa imigrasi." 

Tak cukup itu. Keluar dari imigrasi perlu diparaf. Setelah itu, disilakan duduk di ruang tunggu bandara. Disetting kayak Bandara King Abdul Aziz Jeddah. 

Ada tempat duduk, kios-kios juga musalla. Tak lupa banner foto bandara Jeddah. Bisa foto dan selfie. Seakan di Jeddah.

Keluat dari bandara. Jalan-jalan dengan suasana sudut-sudut Kota Makkah. Toko-toko, hotel, juga arabian cafe. Hanya minus Grand Zam-Zam beserta jam raksasanya.

Setelah itu pengunjung disuguhi replika Masjidil Haram. Terutama pintu satu King Abdul Aziz. Bangunannya dibuat sedemikian rupa seperti pintu utama Masjidharam. 

Masuk seakan di pelataran Kakbah. Miniatur Kakbah seukuran asli di Makkah. Lengkap dengam hajar aswad, hijir ismail, serta maqom Ibrahim.

Begitu juga arena sai. Shofa-Marwa. Lampu hijau. Meski ukuran dan posisinya tidak seakurat aslinya. Posisi bukit shofa lebih jauh dari Kakbah. Padahal aslinya lebih dekat.

Tak hanya itu.  Keluar dari sai ada pasar seng. Yang sekarang pasar seng sudah lenyap di Tanah Suci. Pasar Seng diisi toko aksesoris dan foodcourt.

Di belakang pasar seng, berdiri tenda-tenda Mina dan Arafah. Tak lupa minatur Jabal Rahmah. Muzdalifah. Lengkap tempat jamarat alias lontar jumroh.

Istirahat sejenak di "Pasar Seng", pemgunjung disuguhi replika Masjid Nabawi. Halamannya. Tiang lampu. Minus payung saja.

Di dalam masjid, berdiri tiang-tiang masjid. Bak masjid Cordoba. Agar terkesan beribu tiang, dinding masjid diberi full kaca. Sehingga tiang-tiang masjid terbayang dari segala arah. Mengingatkan bak di dalam masjid nabawi sesungguhnya.

Di situ juga terdapar raudhoh. Lengkap dengan karpet hijau, mihrab, mimbar, ornamen dan kaligrafisinya. Bikin kangen berkunjung ke masjid aslinya.

Banyak orang takjub. Karena datang ke sini serasa haji dan umroh di tanah suci. Kota ‘Mekah dan Madinah’ ini berada di sekitar 15 km pinggiran kota. Tepatnya di Jl Muntal Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

Lokasi  dibangun keluarga Mohammaf Iqbal Bin Ahmad Azady.

sebenarnya dibangun dengan maksud untuk manasik haji dan umrah umat Islam.

Namun karena bentuk dan ukurannya yang besar dan mirip dengan aslinya di Arab Saudi, masyarakat juga menjadikanya sebagai sasaran kunjungan wisata religi.

Hampir setiap hari pengunjung datang baik dari jamaah umroh maupun masyarakat umum. Jika hari libur sampai ribuan orang. Mereka berombongan menggunakan bus dari Demak, Solo, Jepara, Pekalongan, Jogja dan lainya

Termasuk semua pengurus KBIH Masyarakat Madani Bojonegoro yang kemarin berkunjung ke sana.

Kemarin banyak juga calon jamaah umroh dan haji manasik di tempat itu. Lengkap memakai kain ihram. Baik laki-laki dan perempuan. Salah satunya rombongan 69 jamaah dari Sekolah Umroh dan Haji Bawen, Salatiga.

Pintu keluar dari area ini dijuluki Toko Madinah. Menjual aneka pernak-pernik dari Tanah Suci. Mulai gelang, kalung, anting, jubah, gamis, jilbab, cokelat, permen, kurma, madu dan lainnya. Mirip toko Ali Murah di Jeddah.

Pulang dari sana serasa haji. Haji replika. (*)

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia