Jumat, 21 Jun 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban

Teliti Keanekaragaman Hayati hingga Pemberdayaan Lahan Green Belt

31 Januari 2019, 08: 57: 11 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

SUKSES: Proses penelitian dilakukan secara mendalam. Hingga menghasilkan sesuatu yang berharga.

SUKSES: Proses penelitian dilakukan secara mendalam. Hingga menghasilkan sesuatu yang berharga. (Istimewa/Jawa Pos Radar Tuban)

TUBAN - Ada beberapa penelitian lain yang digarap di lingkungan PT Semen Indonesia. Yakni, konsentrasi terhadap kajian informasi mengenai keanekaragaman sumber daya hayati, khususnya serangga tanah dan mikoriza. Serta, konsentrasi terhadap upaya pemberdayaan lahan green belt, dengan melakukan sistem perikanan rice fish culture yang merupakan upaya untuk menggunakan lahan green belt  sebagai lahan gabungan budi daya ikan dan pertanian padi.

Hasil penelitian yang disebut pertama, yakni kondisi kualitas air pada lahan bekas tambang batu kapur dalam kategori baik. Kualitas jenis tanah media pada lahan reklamasi bekas tambang batu kapur yang paling baik adalah tanah spoil (lahan reklamasi bekas tambang batu kapur tahun 2016) dibandingkan dengan tanah reject product (lahan reklamasi bekas tambang batu kapur tahun 2010), dan top soil (lahan reklamasi bekas tambang batu kapur tahun 2014). 

Berdasarkan keanekaragaman spesies serangga terbang maupun serangga tanah yang memiliki keanekaragaman paling baik adalah di lahan reklamasi bekas tambang batu kapur tahun 2016 dengan jumlah serangga tanah sebanyak 23 spesies dan jumlah serangga terbang sebanyak 29 spesies. 

Selain itu hasil keanekaragaman mikoriza tertinggi juga terdapat di lahan reklamasi bekas tambang batu kapur tahun 2016 dengan jumlah spesies sebanyak 4 jenis. Dengan melihat keanekaragaman serangga tanah, serangga terbang dan mikoriza dapat disimpulkan bahwa proses suksesi yang terjadi di lahan reklamasi bekas tambang batu kapur tahun 2016 sudah berjalan dengan baik dibandingkan dengan lahan reklamasi di tahun 2010 dan 2014.  Sehingga dalam penelitian tahun pertama ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan karakteristik fisika, kimia, dan biologi, potensi lahan bekas tambang batu kapur sangat besar untuk diubah menjadi lahan produktif kembali.

Kemudian, ada empat genus mikoriza lokal yang ditemukan pada lahan bekas tambang batu kapur, yaitu Acaulospora, Gigaspora, Glomus, dan Scutella. Mikoriza lokal tersebut digunakan sebagai biofertilizer (pupuk mikoriza) dengan tahapan pembuatannya, yaitu isolasi, ekstraksi, trapping (pengkulturan) yang terdiri dari 2 fase, yaitu fase pemeliharaan dan fase pencekaman, pengujian infeksi akar dan pemanenan sehingga menghasilkan produk.

Selanjutnya, ada temuan culture system menggunakan rasio Tanah Lahan Bekas Tambang (TLBT) dan Tanah Permukaan (TP) sebesar 1:1 memberikan nilai produktivitas ikan nila merah (Oreochromis niloticus) lebih tinggi daripada rasio 1:0 yang dipelihara selama 40 hari. Penggunaan rasio 1:1 menghasilkan nilai survival rate (SR) sebesar 93,33±1,15 %, pertumbuhan panjang mutlak sebesar 4,1±0,2 cm, pertumbuhan bobot mutlak sebesar 15,2±0,35 gram, total weight gain (TWG) sebesar 681,27±25,31 gram, average daily gain (ADG) sebesar 0,38±0,0088 gr/hari, specific growth rate (SGR) sebesar 2,46±0,0358 %/hari, dan feed convertion ratio (FCR) sebesar 1,79±0,024. 

Hasil ini menunjukkan bahwa budi daya ikan nila merah (O. niloticus) dengan rice-fish culture system dapat menjadi salah satu upaya pemanfaatan lahan pascaproduksi tambang tanah liat di Tuban apabila menggunakan rasio Tanah Lahan Bekas Tambang (TLBT) dan Tanah Permukaan (TP) sebesar 1:1. (*)

(bj/*/bet/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia