Sabtu, 24 Aug 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban

Universitas PGRI Ronggolawe Kerja Sama dengan PT Semen Indonesia

31 Januari 2019, 08: 53: 21 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

PRESTASI: Dosen Unirow sedang memberikan pelatihan pada guru di Kecamatan. Kerek.

PRESTASI: Dosen Unirow sedang memberikan pelatihan pada guru di Kecamatan. Kerek. (Istimewa/Jawa Pos Radar Tuban)

Share this      

TUBAN – Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) terus meningkatkan mutunya. Salah satunya dengan menggelar riset dan pengabdian masyarakat di Tuban. Penelitian dan pengabdian masyarakat ini bekerja sama dengan PT Semen Indonesia dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. 

Rektor Unirow Tuban Supiana Dian Nurtjahyani memaparkan dalam kegiatan ini terdapat beberapa hasil. Yakni 24 judul penelitian. Lima publikasi penelitian. Terdapat lima judul pengabdian masyarakat. Serta satu publikasi pengabdian pada masyarakat. 

“Kami bekerja sama dengan PT Semen Indonesia,” kata dia. 

Dia menuturkan, kerja sama ini dalam bentuk penelitian dan pengabdian masyarakat. Penelitian dilakukan oleh para peneliti dari Universitas PGRI Ronggolawe. Yakni, objek yang dilakukan penelitian adalah lahan pertambangan di lingkungan PT Semen Indonesia. Serta, ada pengabdian masyarakat dalam melakukan pembinaan terhadap masyarakat di sekitar pabrik. 

Dian menjelaskan, ada studi penelitian pada lahan pertambangan batu kapur dan tanah liat. Yakni dengan pemanfaatan serasah daun di lahan reklamasi bekas penambangan batu kapur. 

KOMPAK: Presentasi hasil penelitian Unirow dengan Tim Semen Indonesia.

KOMPAK: Presentasi hasil penelitian Unirow dengan Tim Semen Indonesia.

Dia melanjutkan, dalam pelaksanaan reklamasi diperlukan suatu teknis kesuburan tanah dengan memanfaatkan potensi yang ada. 

“Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah memanfaatkan sampah organik di sekitar tambang menjadi pupuk. Peranan pupuk sebagai komponen yang paling penting untuk menjaga dan memperbaiki kesuburan tanah. Pupuk juga dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman karena pupuk mengandung unsur hara yang akan menentukan pertumbuhan tanaman,” kata dia. 

Untuk itu, permasalahan yang timbul adalah apakah serasah daun yang ada dapat digunakan sebagai pupuk organik dan bagaimana cara teknis pembuatannya.

“Maksud kegiatan ini adalah melakukan studi penelitian pemanfaatan serasah daun di lahan reklamasi bekas penambangan batu kapur menjadi pupuk organik. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah serasah daun dapat digunakan sebagai pupuk organik dan untuk mengetahui cara teknis pembuatan pupuk organik dari serasah daun,” terang dia. 

Dia menambahkan, manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah dengan dibuatnya serasah daun menjadi pupuk organik, maka dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik dalam kegiatan perawatan tanaman di lahan reklamasi bekas penambangan batu kapur. 

“Dengan demikian, serasah daun memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dari sebelumnya. Selain itu juga dapat membantu membuka lapangan pekerjaan bagi para petani di sekitar lahan reklamasi untuk mengolah serasah daun menjadi pupuk organik yang dapat dijual di pasaran untuk menambah pendapatan petani,” terangnya. 

Dikatakan Dian, di samping mendapatkan manfaat ekonomi, kegiatan ini juga diharapkan dapat memberi manfaat ekologi. Manfaat ekologi yang ingin dicapai, antara lain mengurangi tingkat risiko kebakaran hutan di musim kemarau akibat menumpuknya serasah daun di lantai lahan reklamasi bekas penambangan batu kapur.

“Kesimpulan dalam penelitian pemanfaatan serasah daun di lahan reklamasi bekas penambangan batu kapur di wilayah PT Semen Gresik – Semen Indonesia Persero (Tbk), yakni serasah daun yang terdapat di lahan reklamasi bekas penambangan batu kapur yang berlokasi di PT Semen Gresik – Semen Indonesia Persero (Tbk) dapat dimanfaatkan dengan cara mengolahnya menjadi pupuk organik,” ujarnya. 

Kemudian, pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik berhasil dilakukan dengan metode bokhasi komposisi bahan padat berupa serasah daun, dedak, kotoran sapi, dan arang sekam, dengan perbandingan 2:1:1:1, serta bahan cair berupa molase dan EM4 dengan takaran masing-masing 100 ml per 100 kg bahan padat yang dilarutkan dalam air secukupnya (pupuk dapat dikepal dan mengembang dengan pelan-pelan serta tidak pecah).

“Pengolahan serasah daun menjadi pupuk organik dapat memberikan manfaat ekologi maupun ekonomi bagi perusahaan maupun bagi masyarakat sekitar,” kata dia.

Dia memaparkan, secara ekologi, pengolahan serasah daun dapat membantu proses pengembalian fungsi kawasan karst yang memiliki peran penting dalam ekosistem, seperti menyediakan air bersih, menjaga keanekaragaman hayati dan pengendali perubahan iklim. 

Sedangkan secara ekonomi, di antaranya bermanfaat dalam mengurangi biaya pembelian pupuk, perawatan lahan terbuka hijau, dan mengurangi tingkat risiko kebakaran hutan di musim kemarau akibat menumpuknya serasah daun di lantai lahan reklamasi bekas penambangan batu kapur. (*)

(bj/*/bet/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia