Selasa, 12 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Bisnis Emas Hitam Tak Licin Lagi 

28 Januari 2019, 10: 10: 41 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

SEPI: Produksi minyak mentah di sumur minyak tua tak lagi melimpah seperti dulu.

SEPI: Produksi minyak mentah di sumur minyak tua tak lagi melimpah seperti dulu. (M. Nurcholis/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO – Kepulan asap menggulung di salah satu titik sumur tua di Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan. Beberapa pekerja tambang emas hitam itu sedang sibuk. Mereka tengah menimba minyak yang ada di sumur minyak peninggalan Belanda tersebut. 

Saat hari mulai siang, para penambang meninggalkan pekerjaannya. Mereka duduk di sekitaran warung lantas beristirahat. Mesin diesel yang awalnya membuat bising akhirnya terhenti. Karena operatornya sedang menikmati secangkir kopi.  

Kini, tak banyak sumur minyak berproduksi. Banyak para penambang sumur pun beralih profesi. Yono, salah satu penambang di Kecamatan Kedewan, mengaku kini tak banyak minyak yang ditambang. “Produksinya sedikit sekali,” kata dia. 

Yono mengakui jika dirinya hanya sebagai pekerja saja. Sedangkan, untuk urusan pemodal sudah ada orang lain yang menangani. 

Sementara itu, pernah muncul kabar yang menyeruak tentang dugaan penipuan bagi para investor di bisnis sumur minyak tua. Namun, itu dibantah oleh Direktur PT BBS Tonny Ade Irawan. 

Dia mengatakan, untuk penambangan minyak di sumur tua, penambang lokal kerap mengalami kesulitan modal. Sehingga, menggandeng investor dari luar kota.

Kerja sama antara investor dengan penambang lokal itu terkadang berbuah pahit. Sebab, ketika investor sudah menggelontorkan modalnya kepada penambang. Ternyata produktivitas minyak dari penambangan tak sesuai prediksi.

“Menggandeng investor itu, karena keterbatasan anggaran penambang lokal,” ujarnya.

Penambangan minyak di sumur tua itu, kata Tonny, dia gambarkan sebagai sesuatu yang sifatnya licin, seperti minyak. Sehingga, tak sedikit pengusaha tambang minyak itu yang kaya mendadak karena berhasil mengeruk emas hitam di sumur tua.

Sebaliknya, tak sedikit yang merugi hingga ratusan juta karena modal menambang sudah dibelanjakan untuk peralatan, ternyata di dalam sumur tua tak produksi minyak. “Karena sumur tua itu tak bisa dipastikan,” ujarnya.

Sementara itu, sesuai data yang dikantongi salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro yang mengelola sumur tua di Kecamatan Kedewan. Saat ini tercatat 493 sumur yang tersebar di tiga lapangan. Yakni lapangan Dandangilo, Desa Hargomulyo, kemudian Ngrayong di Desa Beji dan Lapangan Wonocolo, semuanya itu termasuk Kecamatan Kedewan.

Namun, dari jumlah itu tak semua berproduksi. Maklum, usia sumur tua itu rata-rata sudah lebih dari satu abad. Pada saat pra kemerdekaan, sumur tua itu sudah dieksploitasi oleh penjajah. “Totalnya sumur tua di Bojonegoro 493, tersebar di tiga lapangan,” kata Tonny Ade Irawan kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Tonny menuturkan, sesuai regulasi yang mengatur tentang tambang minyak, pemilik kewenangan adalah negara. Kemudian wilayah teknisnya, yakni PT Pertamina EP. Namun, karena sumur minyak tua itu sudah dikelola oleh warga sekitar sebagai sumber kehidupan. Maka, praktik di lapangan saat ini, semua sumur minyak tua itu dikelola warga setempat, melalui kelembagaan koperasi unit desa (KUD).

Meskipun yang melakukan penambangan minyak di sumur tua itu adalah KUD. Namun, untuk penjualan minyak wajib disetorkan kepada PT Pertamina. Karena badan usaha milik negara (BUMN) itu ditunjuk oleh negara sebagai badan usaha yang memiliki kewenangan untuk pengelolaan minyak mulai dari hulu hingga hilirnya.

“Kalau BBS hanya membayar angkat-angkutnya,” ucap Tonny.

Kehadiran BBS, kata dia, untuk meringankan beban penambang dalam penjualan minyak dari sumur tua ke PT Pertamina. Sebab, minyak yang disetor oleh penambang lokal ke BUMN yang berkantor di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, itu untuk pembayaran minyak dari penambangan di sumur minyak tua membutuhkan proses panjang.

Sehingga, BBS langsung memberikan upah kepada penambang yang telah menyetorkan minyak dari sumur tua. Selain itu, kesejahteraan diklaim juga akan terjamin karena setelah BBS hadir dalam pengelolaan itu, penambang dibuatkan asuransi hari tua dan asuransi kesehatan.

“Sebelumnya tak ada asuransi,” tegasnya. Dari 493 sumur tua, kata Tonny, saat ini yang masih aktif dan ditambang sekitar 60 sampai 90 sumur minyak tua.

(bj/cho/msu/aam/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia