Senin, 20 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Penderita DB Sudah Tembus 114 Orang

23 Januari 2019, 18: 24: 33 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

RAWAN MENYEBAR: Salah satu penderita DB yang dirawat di rumah sakit. Hingga 22 Januari, sudah terdapat 114 penderita. Dan, dua penderita meninggal dunia.

RAWAN MENYEBAR: Salah satu penderita DB yang dirawat di rumah sakit. Hingga 22 Januari, sudah terdapat 114 penderita. Dan, dua penderita meninggal dunia. (Bhagas Dani Purwoko/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Jumlah penderita demam berdarah (DB) masih terus bertambah setiap harinya. Per 22 Januari kemarin, data masuk di Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro sebanyak 114 penderita. Dan dua penderita meninggal dunia. Penyebarannya merata di semua kecamatan. Diperkirakan tiap harinya rata-rata ada tiga penderita DB.

Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Totok Ismanto mengatakan, musim hujan tahun ini, jumlah penderita DB cukup tinggi. Faktor penyebabnya bukan hanya kesehatan saja. 

Tapi ada kontribusi lingkungan, kontribusi cuaca, atau genangan air di berbagai tempat. “Tingginya kelembapan lingkungan tentu sangat memengaruhi penyebaran nyamuk pembawa virus dengue, karena itu tiap musim hujan pasti jumlah penderita DB meningkat,” jelasnya.

Karena itu, perlu adanya gerakan masyarakat untuk memberantas sarang-sarang nyamuk. Beberapa kasus ditemukan tanpa disadari ada tumpukan-tumpukan ban bekas menjadi genangan air. Juga perilaku vas-vas bunga di rumah tanpa disadari jadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.

“Kesadaran ini kerap tidak disadari, karena berkembangbiaknya jentik tak bisa terhindarkan selama masyarakat masih melakukan penampungan air. Padahal sebaiknya ditutup saja,” jelasnya.

Pihaknya mulai melakukan gerakan serentak pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui puskesmas. Tiap rumah selalu rajin menguras bak mandi di rumahnya. Menurut dia, sebenarnya banyak masyarakat betul-betul sudah paham, sebab tiap tahun akan berulang. 

Tapi, tinggal bagaimana aspek kebersihan lingkungan rumah, kantor, sekolah, bisa dikendalikan. Sehingga perilaku masyarakat harus berubah. “Kalau perilakunya tak berubah, tentu ketika musim hujan akan berulang kembali kasus DB ini,” jelasnya.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia