Selasa, 17 Sep 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Penggembokan untuk Menjaga Kondusif

17 Januari 2019, 16: 54: 01 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

DIRANTAI: Handle pintu ruang Lithang Konfusiani TITD Kwan Sing Bio Tuban yang dirantai.

DIRANTAI: Handle pintu ruang Lithang Konfusiani TITD Kwan Sing Bio Tuban yang dirantai. (Dwi Setiawan/Jawa Pos Radar Tuban)

Share this      

TUBAN - Penggembokan ruang Lithang Konfusiani, tempat kebaktian agama Konghucu di Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban memicu kontroversi. Ketua Penilik Demosioner TITD Kwan Sing Bio Tuban Liem Tjeng Gie alias Alim Sugiantoro Selasa (15/1) angkat bicara terkait polemik tersebut. Dikatakan dia, penggembokan handle pintu ruang Lithang dengan rantai semata-mata agar konflik internal antarumat Konghucu tidak kian melebar. Dan, kelompok yang berseteru menyelesaikan kemelut tersebut hingga tuntas. 

Alim membantah penggembokan tersebut terkait larangan beribadah atau menggelar kebaktian setiap Jumat malam, sebagaimana kabar yang diembuskan salah satu kelompok. ''Selesaikan dulu konflik internal itu, baru dibuka,'' tegas pengusaha properti itu. 

Alim mengungkapkan, konflik internal tersebut sangat serius dan menjurus pada pertikaian fisik. Pertengkaran pertama terjadi pada kebaktian Jumat (9/11). Pada hari itu, Koordinator Konghucu TITD Kwan Sing Bio Tuban Bambang Joko Santoso alias So Tjiauw Gwan, Rohaniawan Antonius, dan Wakil Ketua Umum TITD Kwan Sing Bio Tuban Liu Pramono alias Aliong bertikai. Pertengkaran berikutnya terjadi pada Jumat (7/12). Kemelut berlanjut pada kebaktian Jumat (4/1) yang berakhir dengan penggantian kunci pintu ruang Lithang dengan paksa. Karena itu, sejak Jumat (11/1) diumumkan tidak ada kebaktian.

''Pertengkaran ketiga tokoh ini tidak menghargai tempat suci dan memicu perkubuan antarumat,'' tegas ketua penilik demisioner kelenteng itu.

Dikatakan dia, kelenteng adalah tempat ibadah tri darma yang meliputi agama Konghucu, Buddha, dan Tao. Ketiga agama tersebut, menurut Alim, harus dinaungi dan dilindungi bersama. Tidak boleh salah satu dominan di kelenteng. 

Alim mengatakan, agama Konghucu diberikan kesempatan pertama untuk dipinjami dan memakai Lithang Konfusiani. Karena itu, mereka seharusnya berterima kasih kepada pengurus dan bukan malah menodai. Sebagai penilik, kata dia, dirinya harus mengamankan aset negara dari kegaduhan internal yang mengotori TITD yang sudah punya nama baik di seluruh Indonesia, bahkan dunia. ''Sekali lagi, penggembokan tersebut demi keamanan. Melindungi dan mengamankan TITD agar tetap kondusif,'' kata dia yang mengaku sudah melapor kepada ketua umum kelenteng dan ketua umum Dewan Kerohanian (Deroh) Majelis Tinggai Agama Konghuchu Indonesia (Matakin) untuk menyelesaikan.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum Demisioner TITD Kwan Sing Bio Tuban Gunawan Putra Wirawan alias Oei Ging Koen hanya mengomentari singkat penggembokan Lithang. ''Itu masalah internal Konghucu,'' kata dia.

(bj/ds/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia