Selasa, 17 Sep 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro
Merebut Hati Milenial

Kalau Pilih Caleg Kurang Tertarik 

14 Januari 2019, 15: 38: 17 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Ilustrasi

Ilustrasi (Arif/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Kepulan asap rokok elektrik menggulung di salah satu sudut kedai kopi di Jalan Ahmad Yani Bojonegoro. Sekelompok pemuda duduk berhadapan. Mereka sesekali melepas tawa. Malam itu memang dingin. Sebab, hujan telah membasahi Bumi Rajekwesi. Para pemuda begitu nyaman sekali saat bercengkrama di kedai itu. Meski hujan mengguyur, mereka tampak tak peduli. 

Denyut kehidupan para pemuda di Bojonegoro memang bukan hanya di kedai kopi. Namun, diakui atau tidak sebagian dari mereka berada di sana. Memegang gawai memainkan game hingga tertawa lepas dengan cerita kawan-kawannya. 

Nah, memasuki tahun politik. Para anak muda punya cara pandang yang berbeda-beda. Padahal, generasi muda yang masuk dalam generasi milenial memiliki peran penting dalam Pemilu 2019. 

Sebab, sesuai data di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Bojonegoro, dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 1.040.385 jiwa. Pemilih pemula mencapai 74.940 jiwa. Jumlah yang layak untuk diperebutkan. 

Jawa Pos Radar Bojonegoro mulai menggali pendapat generasi milenial tentang pemilihan umum. 

Diki Aryo, pemuda yang baru lulus SMA itu masih bingung dengan Pemilu 2019. Khususnya pemilihan legislatif. Dia bingung karena ada banyak calon dan partai. Dia pun bimbang, nanti saat pemilihan legislatif (pileg) akan memilih siapa. “Kalau pileg saya belum tahu, kalau pilpres (pemilihan presiden) sepertinya saya sudah ada calonnya,” ujarnya. 

Menurutnya, pemilu itu penting, karena sistemnya sudah seperti itu, demokrasi. “Negara kita kan demokrasi, saya ya menghargai pemilu dan penting bagi penentuan kebijakan ke depannya,” katanya.

Hal yang senada juga diucapkan oleh Irawan. Pemuda berusia 24 tahun itu kemungkinan akan mencoblos orang di sekitarnya yang ikut pileg. Dia pun sebenarnya malas untuk mengikuti pileg, tapi demi menghormati demokrasi, dia tak mau ambil pusing. 

“Jujur kalau pileg saya kurang tertarik, karena calon dan partai banyak, mereka siapa juga enggak tahu, tapi semisal ada teman yang ikut pileg, saya berikan suara saya buat dia hehe,” katanya.  

Namun kalau urusan pilpres, Irawan menganggap jauh lebih penting. Justru dia mengimbau agar anak muda jangan sampai golput saat pilpres. Dia pun merasa urusan pilpres tak perlu fanatis. “Berbeda pilihan itu wajar, tak perlu memutus tali persaudaraan atau pertemanan,” tutur pria asal Kelurahan Sumbang, Kecamatan Kota itu. 

Dia pun menambahkan, bahwa jangan sia-siakan pesta demokrasi, karena perayaannya juga menggunakan uang rakyat.

(bj/gas/msu/aam/bet/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia