Jumat, 22 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
Cerita Fina Berkompetisi di Tiga Negara

Kulit Nanas Singkirkan 606 Kompetitor Sedunia

oleh: Yudha Satria Aditama

12 Januari 2019, 09: 30: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

BERPRESTASI: Dari kiri Wildani Abdala, Fina Ainur Rohmah, Yenny Paramitha, dan Teguh Dwi saat berkompetisi di Seoul, Korea Selatan.

BERPRESTASI: Dari kiri Wildani Abdala, Fina Ainur Rohmah, Yenny Paramitha, dan Teguh Dwi saat berkompetisi di Seoul, Korea Selatan. (Fina for Jawa Pos Radar Tuban)

Share this      

TUBAN - Fina Ainur Rohmah,22, membuktikan bahwa mahasiswi asal Tuban bisa berprestasi di level internasional. Selama tiga tahun berturut-turut (2016 – 2018), mahasiswi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini berkompetisi di tiga negara berbeda. Yakni, Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan. 

‘’Pergi ke luar negeri adalah salah satu impian terbesar saya,’’ kata Fina Ainur Rohmah menjelaskan motivasinya aktif berkompetisi di berbagai negara. Motivasi dara yang akrab disapa Fina ini cukup beralasan. Ayah Fina, Subakir bekerja sebagai tukang patri emas. Sementara ibunya Siti Muzarnah merupakan penjahit. Sejak lulus dari SMAN 1 Tuban, Fina berkomitmen untuk tidak merepotkan finansial orang tuanya. 

Fina merupakan mahasiswi Bidik Misi jurusan S-1 keperawatan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dana beasiswa dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang diterimanya  hanya cukup untuk kehidupannya sehari-hari. Termasuk kos dan membiayai uang kuliah. Jangankan untuk pergi ke luar negeri, untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya sehari-hari, Fina harus ekstra hemat. ‘’Saya juga jualan camilan dan susu untuk tambahan uang saku,’’ kata dia.

There’s a will there’s a way. Sejak awal Fina berkeyakinan di mana ada niat, di situ ada jalan. Hidup di perantauan yang pas-pasan bukan menjadi penghalang impiannya. Sejak awal kuliah, Fina aktif mencari informasi tentang kompetisi antar negara. Berdasarkan info yang dia dapat, hampir semua kompetisi yang digelar lembaga luar negeri adalah lomba penelitian. ‘’Prestasi adalah salah satu jalan untuk mewujudkan impian saya ke luar negeri,’’ tutur dia.

Impian Fina untuk melancong tersebut diwujudkan dengan usaha keras. Sebelum berkompetisi antar negara, dara yang tinggal di Jalan Ronggolawe ini terlebih dahulu aktif mengikuti lomba level nasional. Tujuannya untuk mematangkan persiapan lomba. Juga, untuk mendapat kepercayaan dari donatur maupun sponsor yang membiayai perjalanan kompetisinya ke luar negeri. ‘’Dengan pengalaman yang saya dapat, saya bisa berkompetisi di luar negeri dengan biaya sponsor dan kampus,’’ tutur dia.

Baru menginjak semester tiga, dia aktif mencari informasi tentang kompetisi di berbagai negara. Pada 2016, kompetisi luar negeri pertama yang dia ikuti adalah Asia Young Sociopreneurship Leader Exchange. Dalam kompetisi tersebut, Fina melombakan gagasan tertulis tentang pemberdayaan kaum disabilitas dalam berbisnis jamu tradisional. Saat itu, Fina yang berkompetisi dengan satu temannya hanya berhasil meraih 20 besar. 

Pada tahun berikutnya 2017, aktivis Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) ini kembali mengikuti kompetisi antar negara di Cyverjaya, Malaysia. Pada kompetisi bertitel Indonesian Youth Academy itu, Fina dan empat temannya meraih top five atau lima besar. Penemuannya tentang penanganan diabetes dengan makanan berbahan ubi jalar yang dipasarkan dengan aplikasi Android.

Terakhir, kompetisi pada 6-9 Desember lalu di Gangnam, Seoul, Korea Selatan. Fina bersama tiga temannya (Wildani Abdala,Yenny Paramitha, dan Teguh Dwi) mendapat silver prize atau juara 2 di Seoul International Invention Fair (SIIF). Yang membanggakan, penemuan obat ketombe berbahan kulit nanas yang diciptakan Fina cs itu berhasil menyingkirkan 606 peserta dari 33 negara dunia. ‘’Alhamdulilalh tiap tahun prestasi antar negara naik bertahap,’’ ujar dia.

Yang paling berkesan bagi Fina adalah kompetisi terakhirnya tersebut. Pada kompetisi itu, Fina mengharumkan nama Indonesia pada kompetisi internasional yang diikuti puluhan negara dari belahan dunia yang berkumpul di Korea Selatan. Lomba yang dia ikuti itu dimulai dari keprihatinannya dengan limbah kulit nanas yang banyak dijumpai di pasar dan penjual jus buah. Dari situ, dia mengkaji tentang kandungan pada kulit nanas yang ternyata bisa menjadi obat ampuh untuk mengurangi ketombe. 

Olahan kulit nanas tersebut mendapat apresiasi luar biasa dari juri berbagai negara. Menurut penilaian juri, penemuan yang dibuat Fina cs bisa menjadi oase di tengah banyaknya sampo atau obat ketombe berbahan kimia yang banyak beredar di pasaran. ‘’Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun obat ketombe berbahan alami nyaris tidak ada. Kami menyajikan itu dan membawa pulang medali perak,’’ kata dia bangga. (*/bersambung)

(bj/yud/ds/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia