Jumat, 18 Jan 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Komunitas Dongeng Tak Lelah Menyemangati Anak-Anak

oleh: M. Suaeb

10 Januari 2019, 12: 11: 01 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

LAWAN KETAGIHAN HP: Tiga pegiat dongeng mengajak anak-anak bersuka ria dengan gerakan dan cerita saran pesan.

LAWAN KETAGIHAN HP: Tiga pegiat dongeng mengajak anak-anak bersuka ria dengan gerakan dan cerita saran pesan. (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Siang itu, cuaca kawasan perkotaan Bojonegoro cukup panas. Sorotan matahari pun seakan menembus atap salah satu bangunan tempat kegiatan berlangsungnya dongeng diikuti puluhan anak. Tak heran banyak anak-anak tak betah berada di dalam ruang berdinding tembok tersebut. 

Kegaduhan anak-anak itu tiba-tiba reda, setelah komunitas dongeng tampil menceritakan pentingnya menjaga lingkungan. Setelah acara mendongeng selesai, sejumlah pemuda terlihat duduk lesehan di sudut ruang lokasi acara. Mereka adalah aktivis Komunitas Dongeng Bojonegoro.

“Namanya komunitas kami Kampung Dongeng, berdiri sejak tahun 2015,” ucap Ketua Komunitas Kampung Dongeng Bojonegoro Agung Budiono.

Pria akrab disapa Budi itu menuturkan, pendirian komunitas Kampung Dongeng Bojonegoro ini bermula dari kegelisahan bersama, tentang maraknya anak yang bermain gadget. Selian itu, metode pembelajaran dengan dongeng di Bojonegoro semakin langka.

Kemudian bersama teman-temannya membuat kegiatan rutin setiap akhir pekan dan berkumpul belajar mendongeng. Saat itu peserta dan pemateri dongengnya sesama temannya. Kemudian dia bersama temannya belajar di luar kota dengan mencari salah satu ahli dongeng di Kota Tangerang. “Semangat awalnya ingin melestarikan dongeng,” ujarnya.

Komunitas tersebut memiliki beberapa kegiatan mengampanyekan dongeng. Di antaranya dengan keliling desa, membuat kegiatan dongeng mengumpukan anak-anak kecil mengikuti kegiatan dongeng.

Karena dia meyakini dongeng akan mudah membentuk karakter generasi penerus sejak dini. Karena setiap dongeng akan ditanamkan rasa toleransi, gotong royong, dan cinta lingkungan. Pendongeng harus peka kondisi anak-anak. Di antaranya memberikan beberapa pertanyaan kreatif kepada anak. Sebab, karakter anak itu lebih suka ditanya daripada menerima cerita. 

“Anak-anak itu lebih suka ditanya,” ungkapnya.

Setiap ada bencana alam merenggut korban jiwa, komunitas yang saat ini sudah berhasil mendirikan sanggar dongeng itu, selalu hadir di tengah korban bencana. Di antaranya mendatangi korban untuk menghibur korban bencana.

Karena kondisi psikis korban bencana jauh lebih penting dari kondisi fisik. Trauma bencana akan mudah dihilangkan dengan diberi dongeng membangun semangat. Seperti dilakukan komunitas Kampung Dongeng saat ada gempa di beberapa titik di tahun lalu. “Saat di Lombok, kami juga ke sana,” katanya.

Khusus untuk korban bencana, pendongeng dilarang keras menceritakan proses kejadian bencana. Sebaliknya, harus memberikan materi dongeng memotivasi anak-anak. Karena dongeng sebagus apapun tentang bencana alam, tak akan membangkitkan psikologis korban.

Sedangkan untuk anak-anak tidak menjadi korban bencana, dongeng akan mudah diterima anak-anak untuk mengalihkan bermain gadget. “Dongeng cukup ampuh untuk mengalihkan bermain gadget,” jelasnya. (*/rij)

(bj/msu/rij/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia