Selasa, 26 Mar 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Pungky Aji Sulistyo, Pelukis Blora dengan Media Daun Jati

07 Januari 2019, 15: 53: 53 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

LUKISAN DAUN JATI: Pungky Aji Sulistyo saat menunjukkan karya lukisnya.

LUKISAN DAUN JATI: Pungky Aji Sulistyo saat menunjukkan karya lukisnya. (M. Mahfudz Muntaha/Jawa Pos Radar Blora)

BLORA - Saat lukisan banyak menggunakan media kain dan kertas. Pungky Aji Sulistyo menggunakan media berbeda. Dia menggunakan daun jati untuk media melukis. Tak kalah menarik, lukisannya malah banyak menarik minat pencinta lukis.

Lukisan menggunakan media daun jati terpajang di pameran kantor dinas pendidikan (disdik). Lukisan yang tampak beda dari biasanya ini banyak menarik perhatian masyarakat. 

Lukisan dengan bahan khas alam Blora ini dibuat oleh Pungky Aji Sulistyo. Dia menceritakan melukis dengan media daun jati sudah sejak dua tahun terakhir. Tapi selama itu, lukisan yang dia buat itu tidak ada yang dia jual satupun. 

“Sudah banyak yang nawar tapi tidak saya jual dulu,” ujar pria asli Desa Karangjati, Kecamatan Blora ini.

Alasannya, lukisan yang unik itu tengah dia kumpulkan. Sebab, dia berencana membuat pameran lukisan pribadi. Sehingga, meski lukisannya banyak menarik minat, di beberapa pameran dia tetap bersikukuh tidak menjualnya. “Kalau nanti dijual malah berkurang lagi, tidak selesai-selesai melukisnya,” ujar dia. 

Pungky menuturkan, dirinya berpikir melukis di atas daun jati itu setelah dia kembali dari Jakarta pada 2007 lalu. Dia pernah tinggal di Malang pada 1992. Kemudian, 1994 pindah ke Jakarta, dan akhirnya tahun 2007 pindah lagi ke Blora. 

Saat di Blora inilah dia melihat banyak daun jati. Kemudian dia buat media melukis. Saat di Malang dia juga sempat menggunakan pelepah bambu untuk melukis. “Karena dulu pelepah bambu di Malang lebar-lebar, dan di Blora tidak ada,” kenangnya.

Saat itulah, dia mulai melukis di atas daun jati.  Sekarang sudah ada 20 dari daun jati. “Targetnya 50 lukisan,” imbuhnya.

Kebanyakan lukisan yang dibuat adalah wajah-wajah tokoh Blora. Seperti lukisan Pramoedya Ananta Toer, lukisan ini sempat dipajang dalam acara Indonesian di rumah masa kecil Pram sebagai memorable Pram. Selain itu juga ada lukisan Bupati Blora dan Wakil Bupati Blora. “Karena nanti untuk tema pameran saya adalah tentang Blora,” ujarnya.

Dunia lukis, menurut Pungky, memang bukan hal baru. Sebab, sejak SMA pria lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini sudah suka melukis. Karena memang ibunya juga seorang pelukis. “Mungkin biasa ya, makanya terus ikut,” imbuhnya. 

Selain melukis, Guru SDN Jurangjero ini juga salah satu seniman pahat batu. Awalnya, Pungky adalah seniman dari pahat batu onix. Pada saat itu dirinya sempat bekerja di Malang di salah satu perusahaan yang memproduksi batu onix. Di sanalah dia mempertajam keahliannya dalam memahat. 

Kemudian pada 2007, saat dirinya pindah kembali ke Blora kembali menekuni pahat batu onix. Dan hasilnya pun memuaskan. Batu onix dari pegunungan kendeng itu mampu dia sulap dengan bentuk pahat wajah dan lain sebagainya. Bukan main, dari pahatannya itu mampu menembus pasar luar negeri. 

“Tapi bukan saya yang memasarkan, saya yang buat, ada teman yang menawarkan dan akhirnya dibeli orang luar negeri,” jelasnya.

Pungky menuturkan, memang selama ini sudah banyak media yang dia gunakan. Dan setiap medianya memiliki kesulitan sendiri-sendiri. Salah satunya saat menggunakan media kain dan daun jati. Saat menggunakan kain, dia menggunakan tinta yang ada dicampur minyak.

Namun, saat aplikasinya di daun jati itu tidak bisa. Setelah kering hasilnya memudar. “Mungkin karena daun jati ada minyaknya ya, makanya tidak bisa,” tambahnya. Saat ini untuk melukis di daun jati dia gunakan tinta lukis yang dicampur dengan air.

Dirinya terus melakukan perbaikan lukisannya di daun jati untuk mematangkan targetnya itu. Sambil melayani pemesanan lukisan juga. Uniknya, Pungky mengaku bisa melukis  enam lukisan sekaligus. “Bagi saya kalau proses lukis itu gampang, yang susah itu idenya saja,” pungkasnya.

Setelah semua lukisan terkumpul baru akan melakukan proses selanjutnya, yaitu pencarian dana untuk pameran tunggalnya. 

Dari ilmu yang dia miliki saat ini dia tularkan kepada siswanya. Karena dia sebagai salah satu guru seni rupa di sekolahnya.

(bj/fud/aam/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia