Rabu, 17 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Lilik Kristianingsih, 12 Tahun Sajikan Olahan Ikan Khas Waduk Pacal

oleh: Audina Hutama

02 Januari 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

PERACIK KULINER: Lilik Kristianingsih dengan menu ikan wader. Dia 12 tahun menyajikan olahan ikan khas Waduk Pacal. 

PERACIK KULINER: Lilik Kristianingsih dengan menu ikan wader. Dia 12 tahun menyajikan olahan ikan khas Waduk Pacal.  (Audina Hutama/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Waduk Pacal menyimpan potensi alam. Beragam ikan. Nelayan pun beragam. Hasil tangkapan ikan diolah menjadi menu kuliner. Ikan gloso menjadi favorit. Perlu ada branding menu masakan ini agar menjadi khas Bojonegoro.

Warungnya sederhana. Khasnya berlantai tanah dan berdinding kayu. Berada di Jalan Bojonegoro-Nganjuk, tak jauh dari kawasan Waduk Pacal. Kesederhanaan warung ini menandakan kuliner tradisional.

Pantas, halaman warung banyak terparkir motor, mobil, elf, dan truk. Rerata pelat nomor polisi (nopol) kendaraan itu, didominasi dari luar daerah. Di dalam warung dengan kursi kayu tanpa pelitur itu terdapat perempuan yang sibuk memasak.

Lilik Kristianingsih, namanya. Perempuan 32 tahun ini tak lelah mengantarkan sajian makanan ke meja-meja pengunjung. Dia sendirian. Tidak ada seorang pun membantunya kemarin (1/1). Sesekali ke dapur membolak-balik ikan wader dan ikan gloso yang digoreng supaya tidak gosong.

Asap bercampur aroma ikan goreng mengebul dari warung tersebut. Angin sepoi dan teduh karena pepohonan daun jati menambah keindahan lokasi. Perempuan akrab disapa Lilik itu mengatakan, sudah 12 tahun menjual olahan ikan dari Waduk Pacal. 

Dengan luas sekitar 3,787 kilometer persegi dan kedalaman 25 meter, beragam jenis ikan dapat ditemukan di waduk peninggalan zaman Belanda ini. Seperti ikan gloso, kutuk (gabus), lele, dan wader. 

Ikan digoreng kering. Lalu disajikan dengan sambal tomat dan lalapan. Serta tahu, tempe, dan terong, sebagai pendamping sajian. Pengunjung mengambil sendiri dan memilih nasi putih atau nasi jagung. Rerata pengunjung menanyakan menu ikan gloso.

Sayangnya, untuk bisa mencicipi ikan gloso pengunjung harus datang lebih pagi. Karena jam 11.00, seringkali ikan gloso sudah habis. Lilik mengatakan, kala musim hujan, susah mendapatkan ikan gloso di Waduk Pacal. Berbeda ketika air surut, ikan gloso mudah dicari.

Hari itu, Lilik hanya menyediakan 50 ekor ikan gloso. Stok ikan gloso dan kutuk di warungnya bergantung dari hasil tangkapan nelayan Waduk Pacal. Nelayan menjual ikan gloso per ekor. Berbeda ikan wader dijual per ember. 

Setiap harinya, perempuan berambut panjang itu menyediakan 25 ember ikan wader. Dua kilogram ikan lele, dan dua ekor ayam kampung. Nah, liburan sekolah bertepatan perayaan akhir tahun ini, pengunjung cukup ramai. “Kalau hari biasa (omzet) kurang dari Rp 1 juta. Tapi kalau hari libur seperti ini bisa lebih dari Rp 1 juta,” ucap Lilik dengan malu-malu.

Meski menjual olahan ikan khas Waduk Pacal, namun warung milik Lilik berjarak 1,5 kilometer dari waduk buatan Belanda itu. Tepatnya di selatan pertigaan monumen Waduk Pacal. Tidak ada penanda khusus selain spanduk dipasang di depan warung. 

Di sekitar kawasan itu hanya ada dua warung menjual olahan ikan khas Waduk Pacal. Yakni, Warung Joker milik Lilik dan Warung Semok. Lilik mengatakan, dirinya dan warga sekitar tidak bisa mendirikan warung di dalam kawasan Waduk Pacal.

Lilik berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro lebih serius melakukan branding lalapan ikan gloso ini menjadi kuliner khas Bojonegoro. Sehingga, membaca ikan gloso, tentu ingat Bojonegoro.

(bj/*/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia