Rabu, 17 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

M. Tawwabur Rokhim, Ubah Tanaman Secang Jadi Minuman Sarat Manfaat

oleh: Ahmad Farid

31 Desember 2018, 13: 20: 08 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

PEDULI: Tanaman secang yang tumbuh di hutan Bojonegoro dimanfaatkannya jadi minuman berkhasiat.

PEDULI: Tanaman secang yang tumbuh di hutan Bojonegoro dimanfaatkannya jadi minuman berkhasiat. (Ahmad Farid/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Tangan pria berambut gondrong sedang menggergaji kayu secang. Sesekali dia mengusap keringat yang ada di keningnya. Suasana hening pun pecah saat proses penggergajian itu berlangsung. Kayu secang terpotong. Serbuk sisa pemotongan itu dipilah oleh pria berambut gondrong itu. Lalu, dikumpulkan di sebuah wadah. Setelahnya dia haluskan kembali di mesin giling dan dicampur aneka rempah-rempah lainnya.

Hasil pengolahan itu dia jadikan minuman herbal. Dia menyebutnya ‘wedang wuh’. Itu adalah salah satu varian dari olahan tanaman secang. 

Pria berambut gondrong itu M. Tawwabur Rokhim. Dia sang penggagas. Selain minuman tadi, dia juga memanfaatkan tanaman secang untuk kopi. Cara kerjanya dia ambil biji secang, dikeringkan, lantas disangrai. Dari situ secang bisa diseduh dan dinikmati selayaknya kopi.

Ditemui di rumahnya di Dukuh Bungkal, Desa Mayangkawis, Kecamatan Balen, kemarin (30/12), Tawwab sapaannya, antusias bercerita. Selepas menyuguhkan segelas wedang wuh, pria lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Maarif Magetan tersebut berkisah pergumulannya dengan aneka tanaman bermula sejak bangku kuliah. Waktu itu dia aktif di kegiatan mahasiswa pecinta alam (mapala).

Dari sanalah, selepas lulus kuliah dan menetap di Kota Ledre, dia berkeliling di hutan Bojonegoro. Di hutan dia melihat aktivitas penebangan liar membabi buta. Tak jarang kondisi itu membuatnya miris, sebab ternyata beberapa orang masih belum tersentuh untuk mengelola alam secara lebih baik.

“Makanya selepas dari mapala saya berupaya memaksimalkan masyarakat yang membalak kayu untuk memanfaatkan limbah kayu,” katanya penuh semangat.

Khusus wedang wuh, dia menuturkan hanya mengikuti hasil para pendahulunya. Sebab, sang ayah telah lebih dulu membuat racikan herbal. Namun bukan untuk komersial. Melainkan sebagai obat bagi orang-orang yang datang ke rumahnya.

Terinspirasi, Tawwab kemudian membuat eksperimen. Yakni, bagaimana memanfaatkan biji secang dengan baik. Dia menjadikannya sebagai kopi. Menurutnya, khasiat secang tidak bisa dianggap remeh. Dengan olahan biji menjadi kopi saja bisa menyembuhkan berbagai macam keluhan penyakit. Salah satunya kembung. Atau masuk angin.

Dalam mengerjakan produk olahannya itu dia tidak sendiri. Dia dibantu anak didiknya yang berjumlah tiga orang. Dua dari Magetan dan satu dari Surabaya. Kadang-kadang lebih banyak lagi. Sebab, di rumahnya memang difungsikan sebagai tempat belajar. Mirip pondokan.

“Ya inginnya di sini, anak-anak asuh saya itu dapat bekal memanfaatkan olahan kayu. Buat nanti bekal hidup di masyarakat,” kata lelaki kelahiran November 1988 itu.

Dari kopi secang itu, Tawwab berhasil mengikuti berbagai pameran. Bahkan, ketika proses wawancara ini berlangsung, dia baru saja pulang untuk mengambil stok kopi secang. Buat dipamerkan di acara Konfercab NU di sekitar Islamic Center (30/12).

Sampai sekarang, Tawwab mengaku memasarkan produknya melalui laman online. Di antaranya, Instagram, Facebook, hingga grup-grup di WhatsApp. Hasilnya, dia mengantongi keuntungan kotor Rp 8 juta per bulan. Permintaan juga banyak dari daerah lain. Seperti Surabaya, Sumatra, Sidoarjo.

“Bahkan kemarin dari luar negeri juga tertarik. Tetapi kami masih bersiap untuk ke sana,” katanya saat berkisah mengikuti sebuah pameran di Surabaya.

Lelaki mengenakan blangkon dan sarung itu menambahkan, dari aneka produk yang dia hasilkan itu dia namai Tjah Angon. Alasannya, dia ingin sekaligus bisa menebar dakwah di sana. Terutama mengenai filosofi angon alias mengayomi atau merawat.

Selain itu dia juga bertekad membuktikan pada masyarakat di Bojonegoro. Bahwa apa yang dia usahakan memiliki manfaat dan keuntungan yang banyak. Sebab, sebelumnya dia mengaku dikucilkan. Akibat idenya itu dirasa nyeleneh.

Ke depan, Tawwab berencana membuat usahanya itu membesar. Juga ingin mencapai dua hal sekaligus. Membuat masyarakat paham mengelola sumber daya alam, juga menebar dakwah ke masyarakat.

(bj/*/aam/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia