Jumat, 18 Jan 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Balita Stunting Meningkat 0,3 Persen

21 Desember 2018, 12: 56: 05 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Ilustrasi

Ilustrasi (Ainur Ochiem/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Penderita stunting (anak yang tumbuh kembangnya lambat) meningkat 0,3 persen dibanding tahun lalu. Temuan ini tentu pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan kepedulian terhadap gizi balita di bawah usia dua tahun. 

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, tahun ini balita yang stunting berjumlah 6.943 atau 7,4 persen. Padahal, tahun lalu jumlahnya hanya 7,1 persen.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Bojonegoro Ahmad Hernowo mengatakan, meningkatnya angka stunting karena rendahnya kualitas gizi makanan (faktor kemiskinan). Juga, akses terhadap pelayanan kesehatan dan pola asuh kurang baik. 

“Saat ini para ibu banyak sibuk bekerja. Sehingga balitanya diasuh orang lain. Selain itu, daerah kekurangan air bersih juga berpengaruh,” katanya kemarin (20/12).

Menurut dia, selama empat tahun terakhir, penderita stunting terhitung fluktuatif. Tahun ini Bojonegoro masih aman dari target ditentukan Jawa Timur, yaitu 16,7 persen. Namun penyakit ini hampir menyebar merata.

“Dibanding kota lain, kita masih terhitung aman. Tetapi bagaimanapun, mereka itu manusia. Jadi jangan sampai terjangkit stunting,” ucap dia.

Dia menuturkan, stunting dapat dideteksi melalui berat badan terhadap umur dan berat badan dengan tinggi badan. Selain memengaruhi pertumbuhan fisik, stunting berpengaruh kondisi intelektual dan skill anak. 

Apabila terdapat anak pertumbuhannya tidak normal ataupun intelektualnya bermasalah, hal ini perlu diperhatikan. “Sebab, anak menderita stunting dikhawatirkan tidak bisa survive menjalani kehidupan,” ujar Hernowo.

Terkait menekan kasus stunting di Bojonegoro, kita masih terus edukasi kepada masyarakat terkait pendidikan gizi. Juga memberdayakan pos gizi, air susu ibu (ASI) eksklusif, dan pemberian makanan tambahan kepada orang tua asuh.

“Juga memberikan pelatihan teknis kepada para petugas kesehatan tentang cara menangani permasalahan gizi. Karena itu, masyarakat perlu sadar betapa pentingnya instansi kesehatan (posyandu) mengontrol balitanya,” jelasnya.

Terkait mengatasi faktor ekonomi, dia telah memberikan makanan tambahan (PMT). Yaitu pemulihan, penyuluhan, dan berbahan lokal. Kemudian pemberian multivitamin, terutama vitamin A untuk gizi buruk. “Pemantauan penggunaan barang beryodium. Karena masih ada garam palsu,” jelasnya. (dny/)

(bj/*/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia