Selasa, 21 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
Pertumpahan Darah di Tambang Ilegal

Dibacok, Penambang Kritis

14 Desember 2018, 09: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Kronologi Pertikaian di Tambang Cokrowati

Kronologi Pertikaian di Tambang Cokrowati (Grafis: Ainur Ochiem/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

TAMBAKBOYO – Perkelahian antar penambang yang mengakibatkan salah seorang kritis karena luka bacok Rabu (12/12) petang terjadi di tambang pasir kuarsa ilegal di Desa Cokrowati, Kecamatan Tambakboyo.

Pelakunya Kasbulah, 40, dan anak kandungnya Totok, 23, keduanya warga Desa Mander, kecamatan setempat.

Nardi, 40, korban pembacokan tersebut kini tak sadarkan diri dan dirawat di RSUD dr. R. Koesma Tuban.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban menyebutkan, kejadian bermula saat Kasbulah dan Totok yang merupakan penambang pasir di lahan milik Johanes Siregar alias Azen mendatangi Nardi, penambang di lahan lain.
Tujuannya, meminjam eksavator untuk mengeruk pasir kuarsa. Keduanya terpaksa meminjam karena eksavator milik Azen sudah lama rusak.

Atas permohonan tersebut, Nardi langsung menolak ketus. Dia mengatakan lebih baik dirinya memberi uang ke Totok dan Kasbulah daripada harus meminjamkan alat berat tersebut.

Jawaban itulah yang membuat Totok emosi. Dia pulang ke rumah untuk mengambil parang. Tak lama berselang, Totok dan Kasbulah kembali mendatangi Nardi dan langsung membabatkan parangnya.

Sabetan senjata tajam (sajam) tersebut mengenai kepala, pipi, pundak, lengan, dan kaki korban.

Kapolsek Tambakboyo AKP Rukimin mengatakan, usai menganiaya korbannya, pelaku pulang ke rumahnya.

Nardi yang dalam kondisi berdarah-darah dilarikan sejumlah temannya ke Puskesmas Tambakboyo.

Karena luka yang diderita cukup parah, korban dirujuk ke RSUD dr. R. Koesma Tuban.

Hingga berita ini diturunkan kemarin petang, korban dalam kondisi kritis dan belum sadarkan diri.

‘’Pelaku pembacokan Totok kami tetapkan tersangka dan ayahnya (Kasbulah) statusnya saksi,’’ tegas Rukimin.

Kasus pertumpahan darah yang terjadi di tambang ilegal tersebut bukanlah yang pertama. Sebelumnya, kasus serupa terjadi beberapa tahun sebelumnya. Pelakunya Kasbulah. Atas perbuatannya, Kasbulah menjalani proses hukum. 

‘’Atas instruksi kasatreskrim, tambang kami tutup total,’’ kata Rukimin kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Berdasar informasi yang diterima, papar dia, tambang pasir kuarsa tersebut sudah beroperasi bertahun-tahun.

Tambang tanpa izin itu sebenarnya sering menuai protes warga. Sebab, lahan seluas kurang lebih satu hektare (ha) itu dikhawatirkan merusak ekosistem karena eksploitasi besar-besaran.

‘’Saya tidak peduli tambang ini katanya backing-nya ini atau itu, kalau melanggar dan merugikan pasti saya tindak,’’ tegas mantan kasatlantas Polres Ngawi itu.

Rukimin menjelaskan, atas perbuatannya, pelaku dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Untuk penyidikannya dilimpahkan ke Satreskrim Polres Tuban.

(bj/yud/ds/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia