alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Usai Operasi, Lengan Bengkak 15 Bulan

29 November 2018, 11: 59: 20 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

NELANGSA: Tities Dwi Prihantana. Pemuda warga Desa Mori, Kecamatan Trucuk ini, lengan kanannya mengalami bengkak.

NELANGSA: Tities Dwi Prihantana. Pemuda warga Desa Mori, Kecamatan Trucuk ini, lengan kanannya mengalami bengkak. (Bhagas Dani Purwoko/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Nelangsa dialami Tities Dwi Prihantana. Pemuda warga Desa Mori, Kecamatan Trucuk ini, lengan kanannya mengalami bengkak. Pembengkakan merembet ke leher. Dia tak menyangka derita uci-uci dialaminya berimbas pembengkakan ini. Awalnya, Juni 2017 lalu, Tities sapaan akrabnya usai operasi ringan benjolan/uci-uci di RSUD dr Sosodoro Djatikoesomo.

Ada kejanggalan operasi ringan itu pembedahannya cukup lebar. Sekitar 20 sentimeter (cm) dengan 6-7 jahitan. Hingga kini bengkak tersebut belum susut. Bahkan, kakak korban yakni Rustaka Adi Pratama pun mengunggah foto adiknya di status Facebook dengan tulisan ada dugaan malapraktik dilakukan RSUD Bojonegoro. Tities ingin adanya tanggung jawab. Dan harus kepada siapa dia mengadu, karena aduan sejak Januari 2018 silam tidak ada respons.

Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (28/11) mendatangi rumah Tities. Ketika sampai di rumahnya, terlihat seorang pemuda duduk di ruang tamu sambil memainkan gawai. Dari kejauhan terlihat lengan kanan dan lehernya bengkak. 

Baca juga: Geledah Inspektorat, Cari Kerugian Negara

Tities didampingi Tikno, 50, ayahnya. Dia mengaku kalau pengobatan sudah dijalani anaknya selama 1,5 tahun. Awal mula terjadinya pembengkakan di lengan kanan anaknya itu usai operasi ringan uci-uci di RSUD Bojonegoro Juni 2017 silam. 

“Ketika pulang dari RSUD hanya diberi resep obat telan,” ujarnya seraya memastikan keluarga tidak diberi rekam medik maupun hasil uji laboratorium. 

Menurut dia, menjelang operasi pun tidak ada rontgen atau diagnosa penyakit. Pihak RSUD Bojonegoro menyarankan operasi ringan dan menunggu antrean. Keluarga diberitahu kalau tidak ada masalah. 

Ketika pulang dari RSUD, bekas jahitan membengkak. Lalu kontrol di RSUD hanya disarankan minum obat antibiotik dan penghilang rasa nyeri. “Katanya disuruh minum obat saja, nanti bisa kempes sendiri,” ujarnya sambil tak mengetahui dokternya.

Dua bulan berlalu, lengan dan pundak Tities makin membengkak. Akhirnya, Septermber 2017, Tikno membawa Tities ke RS Aisyiah Bojonegoro. Tities pun ditanya penyakit yang memicu bengkak ini. ”Ketika ditanya, saya tidak bisa jawab, karena saya tidak diberi rekam medik apapun dari RSUD Bojonegoro,” katanya. 

RS Aisyiah lakukan tindakan uji laboratorium mengambil sampel darah dan daging di area lengan membengkak. “Diketahui tumor jinak dan adanya indikasi infeksi ketika pembedahan,” ujarnya.

Merasa awal pembengkakan itu usai operasi di RSUD Bojonegoro, pada Januari 2018, Tikno menyuruh Rustaka mengadu ke RSUD Bojonegoro melalui WhatsApp. Namun ternyata RSUD Bojonegoro hanya menanyakan nama pasien. 

Karena tidak ada respons, Tikno masih terus mengusahakan pengobatan Tities. RS Aisyiah beri surat rujukan periksa di RSAL Surabaya untuk lakukan magnetic resonance imaging (MRI). Lalu di RSAL Surabaya, Tities diuji laboratorium dan cek darah. 

Ternyata, peralatan MRI RSAL Surabaya kurang memadai. Lalu dirujuk ke RSU dr Sutomo Surabaya. Selama Januari-Mei 2018, Tikno bersama anaknya bolak-balik Surabaya. “Banyak pemeriksaan dilakukan di RS dr Sutomo Surabaya. Banyak uji laboratorium dan MRI,” ujarnya. 

Bahkan, daging berasal dari lengan Tities diambil untuk diuji laboratorium. “Sampel daging itu diketahui tidak ada indikasi tumor atau kanker. Lalu Tities diarahkan ke poli paru,” tuturnya.

Diagnosa di poli paru RS dr Sutomo Surabaya diketahui adanya virus TB menyerang kelenjar. Sehingga, Tities disuruh rutin meminum obat TB selama enam bulan. “Sudah kami jalani minum obat TB selama enam bulan. Namun hasilnya tetap nihil. Pembengkakan terus menjalar hingga ke leher,” ujarnya. 

Karena masih geram ketidakacuhan RSUD Bojonegoro, Tikno kembali menyuruh Rustaka mengunggah foto-foto adiknya itu di Facebook. “Saya ingin memancing bagaimana respons RSUD Bojonegoro,” ujarnya.

Unggahan Rustaka di Facebook pada 23 dan 25 November 2018 akhirnya viral. Banyak orang menanggapi. Pihak RSUD Bojonegoro akhirnya tahu status tersebut  dan berusaha memanggil Rustaka. “Anak saya Rustaka disuruh menghadap ke RSUD Bojonegoro, karena mereka merasa status Rustaka sudah mencemarkan nama instansi bersangkutan,” ujarnya. 

Lalu Tikno datang ke RSUD Bojonegoro bersama Rustaka dan Tities (korban) pada Selasa (27/11) lalu. Saat proses mediasi, Tikno ditemui Biyanto selaku bagian pengaduan, dokter Agus spesialis bedah, dan dokter Budi spesialis TB. Awalnya pihak RSUD Bojonegoro tidak mengaku bersalah. 

Tapi, ketika diberikan bukti-bukti hasil uji laboratorium dan rekam medik dari RS berbeda, pihak RSUD hanya bisa diam dan mengaku bersalah. 

Ketika ditanya penyakit Tities itu apa? pihak RSUD tak mampu menjawab karena sama sekali tidak ada rekam mediknya.”Data Tities hanya jadwal operasi dan dirawat di ruang apa, RSUD Bojonegoro lakukan operasi tidak ada diagnosanya,” klaimnya.

Pihak RSUD Bojonegoro memberikan surat rujukan lagi ke RS dr Sutomo Surabaya. Pihaknya siap berikan transportasi berupa mobil ambulans. Tikno masih kurang terima dengan solusi itu, karena di Surabaya itu butuh biaya. 

Selama 1,5 tahun berobat itu sudah menghabiskan banyak uang. Dia pun kerap utang. “Saya ini orang tidak punya, hanya buruh harian lepas. Tentu ketika disuruh berobat lagi ke Surabaya, saya tidak mampu,” tuturnya.

RSUD Bojonegoro menyarankan meminta bantuan dinas sosial untuk rumah singgah di Surabaya. 

Direktur RSUD Bojonegoro Hariono saat ditemui di gedung DPRD kemarin, juga tak memberi tanggapan apapun saat ditanya pengaduan korban. Hariono berusaha menghindar dan meminta menanyakan ke humas RSUD Bojonegoro. “Tanya ke humas saja, biar satu pintu,” ujarnya lalu meninggalkan lokasi.

Humas RSUD Bojonegoro Thomas Djaja pun masih belum menerima informasi tersebut. Dia mohon waktu untuk koordinasi karena kebetulan anaknya sakit. 

“Jujur, saya belum menerima laporan apapun terkait masalah tersebut. Mohon waktu, besok (hari ini, Red) mungkin baru bisa berikan keterangan,” jelasnya.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news