Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features
Kerap Juara, Kini Bereksperimen Kostum Sandur

Mustakim dan Mei Mahmudah, Perajin Aneka Kostum Karnaval

oleh: Bhagas Dani Purwoko

Selasa, 13 Nov 2018 07:51 | editor : Ebiet A. Mubarok

KREATIF: Mustakim (kiri) bersama Mei Mahmudah, istrinya menunjukkan kostum karnaval rangkong gading penglima burung asli suku Dayak, Kalimantan. 

KREATIF: Mustakim (kiri) bersama Mei Mahmudah, istrinya menunjukkan kostum karnaval rangkong gading penglima burung asli suku Dayak, Kalimantan.  (Bhagas Dani Purwoko/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Ketika menyebut nama Mustakim Pantomim, mungkin sudah ada banyak mengenalnya. Karena dia kerap menjadi pegiat pantomim maupun teater di sejumlah sekolah di Bojonegoro. Wajahnya kian familier karena sering pentas di berbagai acara. 

Ternyata ada sisi lain dari Mustakim. Selain bergelut di dunia seni peran, pria akrab disapa Takim itu juga menekuni dunia seni rupa. Hampir tiga tahun ini dia memiliki kesibukan sebagai perajin kostum karnaval, tari, maupun teater. 

Dia selalu bereksperimen dengan karyanya. Takim tak sendirian, perjalanannya menjadi perajin aneka kostum juga dibantu istrinya, Mei Mahmudah. Karya-karya kostumnya terlihat lebih hidup dan pesanan datang dari luar kota. 

Ketika mengunjungi rumahnya di Desa Pacul, Kecamatan Kota, kemarin pagi (12/11) terlihat dia tidur telentang di kursi bambu panjang teras. Pria supel itu selalu asyik ketika bercerita. Dari teras rumahnya itu terlihat banyak kostum berjejer di dalam rumahnya. 

Ada yang ukuran besar hingga kecil. Ada satu kostum besar terlihat di pojokan dalam rumahnya. “Kostum yang baru saja jadi beberapa bulan lalu itu rangkong gading panglima burung, kostum suku dayak Kalimantan,” jelasnya. 

Kostum itu terinspirasi ketika di desanya mengadakan karnaval. Kebetulan gang rumahnya bernama gang ndayakan. “Karena nama gang itulah, saya dan warga sepakat bikin kostum suku dayak,” kata bapak satu anak itu.

Takim semakin menekuni perajin kostum karena tahu istrinya punya keahlian menjahit. Bahkan urusan kostum, dia mengajak tiga temannya Brinda sebagai ilustrator. Agus sebagai konstruksi, dan Pitono sebagai helper. 

Menurutnya, membuat kostum itu perlu kolaborasi. Dirinya bagian mengonsep awal hingga penyelesaian akhir. “Saya bagian menyempurnakan, kalau urusan jahit menjahitnya istri saya,” ucap pria kelahiran 1987 itu. 

Kostum rangkong gading, panglima burung khas suku Dayak, itu juga tiga kali dapat penghargaan. Di antaranya juara tiga saat karnaval di Desa Pacul, juara tiga saat Rengel Night Carnival, dan masuk nominasi 10 kostum terbaik saat GoFun Carnival. 

Dia sedikit bercerita ketika proses pembuatan kostum panglima burung itu mengalami perubahan sebanyak empat kali. Sebab, Takim ingin kostumnya terkesan realistis. “Sayap di kostum saya bisa dikepakkan, jadi ketika dipakai kesan realisnya ada,” katanya.

Jauh sebelumnya, dia sebenarnya banyak membuat banyak kostum tari dan teater. Selain itu, dia kerap menerima banyak pesanan kostum-kostum daur ulang berbahan sampah plastik dan klobot jagung. 

“Pesanan banyak datang dari sekolah atau umum,” ujarnya. Terkait harga pembuatan kostum tari, teater, maupun daur ulang bisa menyesuaikan. Kalau durasi pengerjaan minimal satu hari selesai.

Sementara itu, dia sedang mengonsep kostum karnaval dengan tema sandur. Karena sejauh ini dia belum pernah menjumpai kostum karnaval mengangkat sandur. “Saat ini masih bikin desainnya, karena saya ingin mengangkat kesenian sandur juga asli Bojonegoro,” ucapnya. 

Jadi, kostum karnaval itu juga bisa menjadi representasi salah satu kesenian asli Bojonegoro. Dia hanya meresahkan minimnya perajin kostum karnaval. Sehingga, dia tidak memiliki teman diskusi. Dia melihat perajin kostum karnaval banyak disewakan di Bojonegoro bukan buatan lokal, melainkan dari luar kota.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia