Sabtu, 15 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Implementasi Program KLA Harus Nyata

Kamis, 13 Sep 2018 19:22 | editor : Ebiet A. Mubarok

Pemerkosaan

Pemerkosaan (Istimewa/Jawa Pos Radar Tuban)

TUBAN – Kasus pemerkosaan yang dilakukan bocah kelas enam salah satu SDN di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding terhadap seorang perempuan dewasa, mendapat sorotan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban. 

Wakil Ketua Komisi C DPRD Tuban Tri Astuti mengatakan, penanganan kasus tersebut akan menjadi ajang pembuktian apakah Tuban pantas sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) seperti gelar yang disandang sejak 23 Juli lalu. Atau sebaliknya, predikat tersebut hanya sebatas status.

Begitu membaca berita tersebut di Jawa Pos Radar Tuban, ketua DPC Gerindra Tuban ini mengaku nyaris tak percaya dengan kasus yang tengah ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Tuban tersebut. 

Astuti menegaskan, kasus tersebut perlu penanganan serius. Semua pihak harus duduk bersama untuk menyikapi maraknya kasus yang melibatkan anak. ‘’KLA predikat yang tidak mudah disandang, dibutuhkan kerja sama semua pihak dalam mengimplementasikan (tiap program),’’ tegas dia.

Salah satu program KLA yang harus digarap serius, kata Astuti, adalah pembenahan masalah pendidikan. Sebagai komisi yang membidangi pendidikan, dia berharap pendidikan karakter melalui mata pelajaran (mapel) agama harus diperkuat. Dengan pendidikan agama yang nyata, menurut Astuti, anak akan lebih mempunyai norma-norma dasar kehidupan. ‘’Pendidikan agama sangat penting sebagai dasar anak dalam menghadapi kehidupan,’’ ungkap wakil rakyat dari Plumpang ini.

Karena itu, politisi wanita ini berharap ada implementasi nyata dalam merealisasikan program KLA. Salah satunya harus ada sinergitas antara dinas sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (dinsos P3A) selaku pemegang kendali KLA dengan dinas pendidikan (Disdik). Kolaborasi antara dua institusi tersebut diharapkan mampu mencetak dan merealisasikan berbagai program yang memajukan pendidikan anak. ‘’Ke depan dua dinas ini harus bersinergi untuk menyukseskan semua program yang berkaitan dengan KLA,’’ tegas  Astuti.

Di bagian lain, dia meminta dinsos terus melakukan pendampingan advokasi terhadap korban. Juga mementingkan kondisi psikologis pelaku yang terus mendapat ancaman dan intimidasi. Menimbang kondisi kejiwaan pelaku yang masih di bawah umur, Astuti juga mendesak agar kepolisian segera menyelesaikan kasus tersebut agar tidak berlarut-larut. ‘’Dia (pelaku) masih butuh pendidikan, pendampingan dan pengawasan agar bisa dididik menjadi lebih baik,’’ kata dia berharap.

Tak kalah pentingnya, lanjut Astuti, peran orang tua dalam mengawasi dan mendampingi buah hatinya. Serta, lebih bijak di dalam memberikan nasihat. ‘’Anak akrab dengan ponsel dan internet ini menjadi kebiasaan yang bisa berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak,’’ tandas dia.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia