Sabtu, 15 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Air Bengawan di Kawasan TBS Keruh

Kamis, 02 Aug 2018 06:10 | editor : Fa Fidhi Asnan

bengawan

PROBLEM AIR: Penyeberangan perahu di TBS. (M. Nurcholis/Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Kualitas air Sungai Bengawan Solo di kawasan Taman Bengawan Solo (TBS) berwarna kecokelatan dan kental dikhawatirkan mengandung racun. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro bergegas melakukan pengecekan usai mendapat laporan tersebut.

DLH mengklaim air sungai tidak beracun. Hanya, berwarna kecokelatan akibat limbah pembuangan sampah. “Kami sudah melakukan pengecekan. Tidak ada racun dan hanya kotoran saja,” ungkap Kasi Pengendalian Lingkungan DLH Bojonegoro Nur Rahmawati rabu (1/8).

Rahmawati mengatakan, pasca keluhan masyarakat terkait kondisi air sungai, memang sudah melakukan pengecekan ke lapangan. Ada keluhan terkait air sudah tak jernih dan membuat ikan mati. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, tidak ada ikan mati dan tidak ditemui kandungan racun.

Yang ada hanya air keruh karena kotoran dan limbah. “Memang warna air cokelat kental. Namun tidak ada kandungan racun,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro. Nur menambahkan, pembuangan limbah masyarakat di kawasan TBS memang buruk. Sebab, mayoritas membuang sampah di sungai.

Itu menyebabkan kondisi buruk hanya di kawasan TBS saja. Kawasan di sebelah-sebelahnya tidak terlalu buruk. Tidak sampai mengental. Hanya kecokelatan saja. Di kawasan tersebut, ditemukan kandungan limbah kedelai dan tebu hingga sampah. “Kalau kawasan lain warnanya cokelat sebagai dampak kemarau, kalau di situ ada unsur pembuangan limbah.

Hanya tidak sampai beracun,” tukas dia. Dari data dia miliki, sesuai pemeriksaan kualitas air Mei lalu, banyak unsur melebihi ambang batas. Di antaranya biological oxygen demand (BOD) dengan ambang batas 3 mg/liter, hasilnya 6,77 mg/liter. Chemical oxygen demand (COD) dengan ambang batas 25 mg/liter hasilnya mencapai 34,19 mg/liter.

Serta, minyak dan lemak dengan ambang batas 1.000 mg/liter, hasilnya mencapai 2000 mg/liter. “Itu disebabkan banyaknya sampah sehingga air keruh dan mengental,” tutur dia. Kepala DLH Nurul Azizah menambahkan, kondisi buruknya air memang dipengaruhi keberadaan sampah.

Sehingga mengental dan sesekali mengeluarkan buih. Namun, terkait urusan kandungan racun, dia mengklaim tidak ada. Hanya limbah sangat buruk. Terkait jenis limbah, dia belum tahu sebab belum melakukan pengujian. “Itu karena limbah. Namun karena belum diuji secara laboratorium, jadi belum tahu jenis limbah apa,” jelasnya.

(bj/zky/rij/faa/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia