Jumat, 24 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Ketergantungan DBHCT Dinilai Buruk

01 Agustus 2018, 06: 15: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Dana bagi hasil cukai tembakau (DBHCT) memang memanjakan Pemkab Bojonegoro. Selain mampu biayai berbagai program, penyalurannya pun konsisten. Namun, Komisi B DPRD Bojonegoro berharap pemkab tidak terlalu bergantung pada DBHCT. Sebab, itu berdampak pada ketergantungan dan menutup potensi pendapatan lainnya.

Sekretaris Komisi B DPRD Lasuri mengatakan, memanfaatkan DBHCT tentu bagus. Namun, bergantung pada DBHCT tentu tidak baik. Terlebih terlalu bergantung pada kucuran anggarannya. Sebab, itu menumpulkan kreativitas pemkab untuk menggali sumber pendapatan lainnya.

“Jika terlalu bergantung, bakal berdampak pada tumpulnya kreativits mencari pendapatan selain DBHCT,” kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini. Secara umum , menurut Lasuri, pemkab harus bisa memaksimalkan pendapatan dari berbagai sumber.

Tentu, untuk meningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Kabag Perekonomian Pemkab Bojonegoro Rahmat Junaidi mengatakan, kucuran DBHCT sejauh ini digunakan membeli peralatan medis mahal. Selain itu, cara salur DBHCT sangat konsisten. Kalaupun ada perubahan, tidak terlalu signifi kan.

Sehingga, tiap tahun bisa diandalkan. Dari data dia miliki, 2017 lalu sumbangan DBHCT untuk Bojonegoro sebesar Rp 36 miliar. Untuk 2018 ini sebesar Rp 34 miliar. Sedangkan untuk tahun depan, DBHCT bakal didapat pemkab antara Rp 34 miliar sampai Rp 36 miliar.

Selain pembelian alat medis, DBHCT juga dipastikan mampu bangun infrastruktur rumah sakit. Seperti pembelian kendaraan ambulans di 3 RSUD dan sejumlah puskesmas. “Nanti RSUD Sosodoro juga bakal menambah tempat tidur pasien sebanyak 550 buah. Itu juga dari DBHCT,” imbuh dia.

(bj/zky/rij/faa/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia