Rabu, 14 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Giega Syahrada Mustofa Pelukis Anak, Spesialis Lukisan Cerita Rakyat

Oleh: Amrullah A.M

Senin, 30 Jul 2018 18:36 | editor : Ebiet A. Mubarok

SENANG : Giega setelah lomba melukis anak. 

SENANG : Giega setelah lomba melukis anak.  (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Dunia menggambar memang dunia anak-anak. Tetapi, jika bakat itu terus diasah akan menjadi sebuah prestasi dan keahlian. Giega, usianya masih belia. Tapi, lukisannya membahana. 

Bel SDN Kemamang berdering. Tanda anak-anak usai pelajaran. Mereka keluar untuk beristirahat. Guru-guru keluar kelas lantas rapat. Lapangan SD di Kecamatan Balen itu ramai. Anak lelaki mendominasi. Mereka sedang sepak bola. Tawanya meledak setelah seorang anak berhasil menjebol gawang. 

Anak perempuan memilih duduk di tepi halaman. Menggenggam plastik berisikan minuman. Matanya terus melihat teman-temannya yang sedang bermain bola. 

Rapat guru selesai. Beberapa guru masuk di ruangan. Berikut kepala sekolahnya. 

"Tunggu sebentar saya panggilkan Giega," kata seorang guru. 

Giega masih asik bermain dengan teman-temannya. Setelah seorang guru memanggil dia lantas beranjak. Berjalan beriringan dengan guru perempuan. Giega masuk ke ruang guru. Dia memilih tempat duduk. Didampingi guru perempuan tadi. 

Bocah sebelas tahun ini menunduk. Dia masih malu sepertinya. Tak akan berbicara jika tak ada pertanyaan. Sorot matanya polos. Dia berjilbab pagi itu. 

Giega adalah seorang pelukis dari kalangan anak-anak yang moncer. Dia lahir di desa dan berkembang dari masyarakat desa. Namun, talentanya luar biasa. Lukisan Giega telah dinyatakan masuk sepuluh besar di tingkat provinsi. Dalam kompetisi Festival Seni Anak Nasional. Dia pun sempat berfoto dengan Gubernur Jawa Timur Sukarwo 6 Juli lalu. 

Tak hanya di Surabaya. Bocah yang jarinya lentik ini juga meraih juara dua melukis tingkat provinsi di Malang dalam rangka Hari Anak Nasional. 

Lukisan dan gambar karya Giega memang punya karakter. Dalam melukis tak hanya sekadarnya saja. Dalam lukisannya terdapat cerita. Misalnya, saat di Malang dia melukis cerita tentang Ande-Ande lumut. 

Jawa Pos Radar Bojonegoro pun meminta Giega menggambar sesuatu di kertas putih dengan menggunakan spidol. Bocah ini terlihat tenang. Jemarinya pun terus menari di atas kertas. Dia mulai menggoreskan spidol hitamnya. Jemarinya terus melesat. Meliuk. Garis-garis terus dihubungkan. Coretan demi coretan disambungkan. Mirip binatang yuyu di sawah yang digambar. Tetapi, ada modifikasinya. Ada dua tokoh yang tersambung dengan yuyu binatang air dan darat itu. Ternyata dia sedang menggambar tentang kisah klenting kuning, abang, dan ungu. 

"Saya suka gambar sejak TK," ujar Giega membuka cerita. 

Dia memulai menggambar dengan otodidak. Tak ada guru khusus di rumahnya. Orang tuanya hanya mengarahkan dan memfasilitasi. Di rumah, anak pertama ini pun benar-benar mengisi hari-harinya dengan menggambar jika sedang santai.

Baginya, menggambar kemudian dilanjutkan dengan melukis itu adalah kegiatan membahagiakan. 

Semua imajinasinya ditumpahkan dalam wujud gambar. Ke mana-mana pun Giega selalu membawa spidol. Ini membuat dia selalu menggores jika ada waktu luang. 

Termasuk saat ikut beberapa lomba. Dia harus banyak membaca sebab menggambar perlu informasi dan kaya imajinasi. Jika kecil informasi maka sulit untuk mewujudkan imajinasi. 

Misalkan, saat ini dia lebih banyak menggambar tentang cerita rakyat. Giega banyak melahap buku-buku bacaan yang bertemakan cerita rakyat. Dari cerita itulah dia mengejawantahkan dalam bentuk lukisan ataupun gambar. 

"Kira-kira membutuhkan waktu sekitar empat jam," ucapnya. Saat ditanya berapa waktu yang dibutuhkan untuk menjadikan satu lukisan atau gambar. 

Di usianya yang masih belia. Giega memang telah banyak berkarya. Di tingkat kabupaten saja. Karyanya sering juara. Termasuk saat menggambar Tari Thengul. Bayangkan saja, sebuah tarian digoreskan dalam bentuk gambar. 

Dia telah membuktikan. Imajinasi anak-anak desa tidak kalah dengan anak-anak kota. Anak desa telah melampaui anak-anak kota. 

Giega bermimpi suatu saat nanti dia akan menjadi arsitek. Dia akan memasuki dunia menggambar dan melukis yang kini digeluti oleh orang-orang dewasa. 

"Menggambar itu menyenangkan. Saya kelak ingin jadi arsitektur," ujarnya penuh bangga.

(bj/aam/nas/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia