Jumat, 21 Sep 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features
Wahyu, Pehobi Lari Maraton asal Bojonegoro

Koleksi 63 Medali, Lari Lebih dari 1.000 Kilometer

Rabu, 25 Jul 2018 09:40 | editor : Ebiet A. Mubarok

HOBI LARI: Wahyu Diah Nurcahyo yang sudah mengoleksi medali dari lari maraton. Diperkirakan dia sudah lebih dari 1.000 kilometer lari. 

HOBI LARI: Wahyu Diah Nurcahyo yang sudah mengoleksi medali dari lari maraton. Diperkirakan dia sudah lebih dari 1.000 kilometer lari.  (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Lari sudah menjadi gaya hidup Wahyu Diah Nurcahyo. Setahun, dia bisa ikut lebih dari tiga event lari, seputaran Jakarta, kemudian juga di Bandung, Jogjakarta, dan Bali. Seperti apa sih asyiknya ikut lari maraton?

Ketika melihat galeri di akun Instagram bernama @alvaclipton, rasa-rasanya seru bisa ikut acara-acara lari maraton dari berbagai kota-kota besar. Pemilik akun merupakan pria asli Bojonegoro yang telah hijrah ke Jakarta sejak 2010 silam. Di ibu kota, dia berkarir dan kuliah. Ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro menghubunginya lewat sambungan telepon pada Minggu (22/7) malam lalu, dia ternyata masih perjalan dari Bandung pulang ke Jakarta setelah mengikuti lari maraton 10 kilometer.

Akhirnya, sekitar pukul 21.30, pria berkacamata itu pun siap untuk diwawancara. Ternyata, pria itu bernama asli Wahyu Diah Nurcahyo. Logatnya berbicara cukup berubah, kemungkinan karena sudah lebih dari 5 tahun tinggal di Jakarta. Bisa dibilang, pria akrab disapa Wahyu itu sosok yang supel dan antusias ketika menceritakan seputar hobi larinya itu. Karena bagi dia, lari sudah menjadi gaya hidup sesuai dengan jalan hidupnya.

Wahyu pun menceritakan bahwa awal pertama tergerak ikut lari maraton karena lingkungannya ketika kuliah dikelilingi oleh kawan-kawan perokok. Dia merasa menjadi perokok pasif itu sangat merugikan. Sehingga, intensitasnya berkumpul dengan kawan-kawan perokok mulai dikurangi. 

Dia mencari lingkaran pertemanan baru yang akhirnya dia berlabuh di komunitas Kaskus Runners sejak 2013 silam. “Langsung gabung begitu saja, karena memang sejak duduk di bangku SMA, gue sudah aktif di Kaskus, jadi punya teman baru lagi,” ujar pria kelahiran 1991 itu.

Bagi dia, lari maraton itu juga bisa dicari keseruannya dengan berburu medali tiap event diadakan para penyelenggara itu sendiri. Dia juga selalu memberikan tantangan untuk dirinya sendiri, sehingga menggeluti hobi lari maraton perlu bertahap. “Awalnya, tentu saya ikut 5 kilometer dulu, lalu naik jadi 10 kilometer, hingga akhirnya bisa tembus ikut full marathon, yakni lari sepanjang 42 kilometer,” jelasnya. Istilahnya, dia merupakan pelari hore, karena yang menang lari maraton pasti para atlet, tapi setidaknya dia bisa dapat medali yang bisa dibanggakan.

Cara memperoleh medali juga tidak mudah, tergantung si penyelenggara acara. Biasanya yang bisa dapat hanya 100 atau 1.000 finisher pertama. Terkadang, semuanya juga bisa dapat. Dia sendiri juga kerap membuat personal best agar terus terpacu untuk menambah kapabilitasnya ketika lari maraton.

“Rekor saya itu lari 5 kilometer selama 26 menit, 10 kilometer selama 1 jam 5 menit, 21 kilometer atau half marathon selama 2 jam 49 menit, dan full marathon selama 6 jam 59 menit,” tuturnya. Hal-hal kecil seperti itulah membuat Wahyu tak pernah bosan ikut lari maraton.

Wahyu juga menambahkan bahwa sebelum ikut acara lari maraton, dia pasti latihan rutin minimal satu minggu sekali. Karena biar bagaimanapun, lari maraton tidak bisa disepelekan. Karena, kalau cedera tentu sangat tidak mengenakkan dan merusak mood yang harusnya bisa dinikmati sekaligus bersenang-senang bersama kawan-kawan.

Ada satu hal lagi yang juga bisa dijadikan motivasi untuk lari ialah stok foto lari yang bisa untuk menghias feeds Instagram. “Foto sama medali itu kece, buktinya setiap gue posting di Instagram pasti ada yang nanya cara dapatinnya gimana, atau mungkin bilang ‘kalau ada lari maraton lagi, kabar-kabar ya’,” ujarnya.

Hingga sekarang, sudah ada 63 medali ia kumpulkan dari puluhan acara lari maraton yang telah ia ikuti. Dia mengatakan jumlah larinya kalau diakumulasi sudah lebih dari 1.000 kilometer. Karena memang terhitung selama 5 tahun ini, Wahyu tiap tahunnya bisa ikut acara lari maraton lebih dari tiga kali.

Dia paling banyak ikut acara lari maraton di Jakarta. Kemudian, dia juga selalu rajin ikut lari maraton di Bandung, Jogjakarta, dan Bali. Menurut dia, Bali Marathon merupakan acara yang paling seru, bisa dibilang acara itu ajang silaturahmi para pelari se-Indonesia. 

Bahkan ada banyak pengalaman tak terlupakan ketika ikut Bali Marathon. Pada 2016, ketika H-1 Bali Marathon, Wahyu kecelakaan dan divonis tidak boleh ikut lari. Namun ternyata dia nekat dan bisa menyelesaikan lari sepanjang 42 kilometer tersebut. Kemudian pada 2017, ketika sudah mencapai garis akhir Bali Marathon, Wahyu mengalami heat stroke sehingga dilarikan di rumah sakit. “Bali Marathon paling berkesan deh pokoknya, banyak cerita di sana, sekaligus bisa bertemu banyak kawan baru dari berbagai daerah,” jelasnya.

Sementara itu, Wahyu pun pernah mencoba mengetes lari maraton di seputar Kota Bojonegoro. Karena dia memang selalu pulang Bojonegoro satu tahun sekali. Menurutnya, di Bojonegoro bisa diadakan maraton tapi yang half marathon saja, karena kalau full marathon terlalu maksa. “Gue pernah nyoba sih, keliling seputar kota, dapatnya 21 kilometer, itu pun sudah cari jalan yang masuk-masuk gitu, jadi cocok tuh suatu saat bikin half marathon di Bojonegoro,” pungkasnya.

(bj/gas/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia