Rabu, 26 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Ketika Pameran Menjadi Media Ikhtiar bagi Seniman Lukis

Oleh: Ahmad Atho'illah

24 Juli 2018, 19: 47: 57 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

TETAP EKSIS: Syaiful Amin, ketua Komunitas Tali Goci saat menggelar pameran di Gedung Budaya Loka Tuban.

TETAP EKSIS: Syaiful Amin, ketua Komunitas Tali Goci saat menggelar pameran di Gedung Budaya Loka Tuban. (Canggih Putranto/Jawa Pos Radar Tuban)

Share this      

TUBAN - Puluhan karya seni lukis dengan berbagai aliran tertata rapi di Gedung Budaya Loka Tuban, Jalan Basuki Rachmad. Sorot lampu yang terpasang pada setiap lukisan membuat guratan warna pada kanvas semakin memiliki nilai artistik. Menawan.

Puluhan lukisan yang dipamerkan adalah karya Komunitas Tali Goci. Bagi sebagian masyarakat pecinta seni lukis, pergelaran karya seni rupa itu bak oase di tengah padang tandus pameran seni di Bumi Wali. Begitu juga bagi mereka yang menjadi pelaku seni. Kegiatan pameran itu menjadi media untuk melakukan ikhtiar dalam berkarya.

‘’Alhamdulillah, sudah ada yang laku,’’ ujar Syaiful Amin, ketua Komunitas Tali Goci kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Dikatakan Amin, panggilan akrabnya, sedikitnya ada lima seniman yang tergabung dalam pameran yang bertajuk Whisper Of Silence tersebut. Tiga kawan lainnya, Robert Santari, Qomarrudin, dan Camil Hady. Bagi mereka, pameran adalah bagian dari ikhtiar dalam berkarya. Sebab, dari kegiatan pameran itulah karya-karya mereka bisa dihargai dan dibeli penikmat seni. Dengan begitu, ekonomi mereka berjalan. ‘’Bagi kami, pameran hanya ikhtiar. Rezeki sudah kami pasrahkan kepada Allah,’’ tuturnya.

Apa yang disampaikan Amin cukup beralasan. Sebab, pelaku seni rupa seperti terjun dalam medan perang dengan mata tertutup. Logikanya, yang bisa dilakukan para pekerja seni itu hanya berkarya dan terus berkarya. Layaknya sebuah perang dengan mata tertutup, mereka tidak tahu siapa yang bakal menjadi pasarnya. Siapa yang bakal membeli hasil karyanya. Namun, mereka tetap berkarya. ‘’Tanpa memiliki mental yang kuat, rasa cinta terhadap seni, dan tahan lapar, maka akan sulit untuk tetap berkarya,’’ tutur pria yang menggeluti dunia seni rupa sejak 90-an tersebut.

Bagi Amin, dalam dunia seni, laku atau tidak sebuah hasil karya adalah fase kedua. Artinya, yang terpenting bagi mereka ada berkarya.

‘’Delapan tahun lebih saya ikut pameran di mana-mana, dan tidak ada satu pun karya saya yang laku. Sempat putus asa. Tapi, saya kembali sadar, bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah berkarya dan terus berkarya,’’ tutur seniman yang belajar lukis secara otodidak itu.

Kini, Amin patut bersyukur. Perlahan namun pasti, dia mulai memetik buah dari kesabarannya dalam berkarya. Sejumlah karyanya mulai menembus pasar nasional. Bahkan, sebagian  sampai ke luar negeri. ‘’Alhamdulillah, berkat media sosial, karya saya sudah sampai ke Australia dan Amerika,’’ tuturnya bangga.

Dari pengalaman hidupnya tersebut, Amin memberikan semangat kepada seniman-seniman muda untuk tidak lelah dalam berkarya. ‘’Jangan pernah putus asa, yang terpenting dalam dunia seni adalah teruslah berkarya. Semangat dan optimis,’’ tukasnya.

(bj/tok/ds/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia