Jumat, 21 Sep 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Pergi Haji, Yademi Siap Gunakan Kursi Roda 

Oleh: Rika Rahmawati

Sabtu, 21 Jul 2018 09:20 | editor : Ebiet A. Mubarok

BAKAL BERANGKAT BERSAMA TETANGGA: Yademi duduk di kursi roda. Dia bersama anak dan menantunya berangkat haji tahun ini. Di Dusun Pilang, ada 60 CJH yang berangkat haji bersamaan. 

BAKAL BERANGKAT BERSAMA TETANGGA: Yademi duduk di kursi roda. Dia bersama anak dan menantunya berangkat haji tahun ini. Di Dusun Pilang, ada 60 CJH yang berangkat haji bersamaan.  (Anjar Dwi Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

LAMONGAN - Perjalanan menuju Dusun Pilang, Desa Tejoasri, Kecamatan Laren membutuhkan waktu sekitar 50 menit dari pusat Kota Lamongan. Lamanya waktu perjalanan dipengaruhi akses jalan yang tidak mulus. 

Karena sebagian jalan rusak, pengguna jalan harus berhati – hati. Kecepatan motor beberapa kali harus dikurangi untuk menghindari bahaya akibat jalan rusak.

Saat perjalanan, lahan persawahan terhampar di sisi kiri dan kanan jalan. Sebagian lahan itu sudah dipanen padinya. Sebelum memasuki Dusun Pilang, ada sebuah jembatan yang membentang sekitar 100 meter. 

Memasuki dusun tersebut, seorang perempuan paro baya terlihat duduk di atas kursi roda dengan senyum semringah sembari memijat tangannya. Yademi, nama perempuan itu, tengah berbahagia. Penantiannya selama delapan tahun untuk berhaji, terwujud tahun ini. 

Perempuan 60 tahun itu  berangkat melalui Embarkasi Surabaya. Yademi dijadwalkan menuju embarkasi  dari Lamongan 30 Juli nanti pukul 22.00. Dia tidak berangkat sendiri. Yademi ditemani anaknya M Fakih dan menantunya Misenah. 

Semangat Yademi mengalahkan kondisi tubuhnya saat ini. Sekitar tujuh belas bulan lalu, kejadian buruk menimpanya. Diduga kelelahan dalam bekerja, tensinya diperkirakan naik. Saat melaksanakan aktivitas di rumah, dia terpeleset. Akibatnya, Yademi mengalami lumpuh setengah badan. 

Meski kondisinya sudah membaik pasca mendapatkan perawatan, dia belum bisa berjalan normal. Yademi harus dibantu dengan tongkat. 

“Kalau di Makkah nanti, insya Allah menggunakan kursi roda,” ujarnya. 

Meski kondisi fisiknya tidak prima, Yademi sangat antusias mengikuti seluruh tahapan  prakeberangkatan ke tanah suci. Mulai dari pembekalan hingga manasik dari KBIH, kecamatan, dan kabupaten. 

Keberangkatannya ke tanah suci memberikan sekelumit cerita menyentuh, sebagai orang tua tunggal. Dia harus menghidupi kelima anaknya. Suaminya meninggal saat anak-anaknya masih kecil. 

Pekerjaan serabutan dilakoni Yademi. Mulai dari buruh tani hingga tukang masak nasi. Setelah anak - anaknya beranjak dewasa, dia hanya mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Dengan kondisi tubuhnya yang masih kuat, Yademi menjadi pekerja serabutan. Gaji yang diperolehnya tidak banyak, Rp 30 ribu untuk satu kali bekerja di sawah. 

Namun, dia selalu menyisihkan untuk ditabung. Hingga akhirnya, terkumpul sekitar Rp 25 juta. Uang tersebut dipergunakan mendaftar haji. “Keinginan dari hati, entah berapa lama menabungnya, asal terkumpul langsung daftar,” kenangnya. 

Setelah mendaftar, Yademi sempat diselimuti perasaan ragu. Penyebabnya, dia harus antre, menunggu giliran. 

Usianya yang tidak lagi muda dikhawatirkan tidak bisa menjalani rukun islam kelima dengan baik. Untuk menambah keyakinannya, dia menghubungi Fakih, putra sulungnya yang saat itu di tanah rantau Malaysia. Dia memaksa anaknya tersebut untuk mendampinginya daftar haji. Namun, sang anak beralasan tidak ada biaya. 

Sekitar 2009, pemerintah daerah menawarkan dana talangan bagi mereka yang ingin berangkat haji. Dengan tekad bulat, Fakih mendaftar bersama istrinya menggunakan dana talangan. Dia hanya menyiapkan dana sekitar Rp 12 juta bersama istrinya untuk mengurus dana talangan tersebut. Selama satu tahun, dana talangan harus segera dilunasi. 

Saat waktunya pelunasan, Fakih sempat bingung. Namun, dia akhirnya memantapkan  hati untuk menjual ladang sepetak yang dibelinya saat di perantauan. Dia yakin bahwa rezeki itu sudah diatur oleh Allah. 

Setelah berjalan hampir delapan tahun, Fakih diinformasikan berangkat tahun ini. Dia harus melakukan pelunasan untuk uang saku dan pengurusan paspor. Dua lembu milik Yademi terpaksa harus dijual. 

“Alhamdulillah, lembu itu tabungan ibu saya sebelum akhirnya sakit,” cerita Fakih. 

Tak hanya Yademi, Fakih, dan istrinya yang bahagia bakal berangkat haji akhir bulan ini. Di Dusun Pilang, terdata 60 warga yang dipastikan berangkat haji tahun ini, melalui embarkasi Surabaya dan Jakarta. 

Khusnul, salah satu perantau di Kupang,  Nusa Tenggara Timur (NTT) terkejut melihat banyaknya calon jamaah haji di dusunnya tahun ini. Dia tidak pernah mengetahui akan berangkat bersama dengan tetangganya sendiri. Bahkan, hingga satu bus dan satu kloter. Dia baru mengetahui bakal ‘’bedol dusun’’ saat akan melakukan tes kesehatan. Ternyata banyak bertemu dengan tetangga. “Paling mengagetkan bertemu bude saya, padahal tidak janjian,” tutur Khusnul. 

Dia menceritakan, sejak menikah dengan istrinya, Muntamah, pada 1996, dirinya memutuskan merantau ke Kupang untuk memerbaiki perekonomian. Kesibukannya sebagai pedagang ayam di  perantauan membuat Khusnul dan istrinya tidak memiliki banyak waktu untuk pulang ke Jawa. Dalam setahun, minimal pulang satu kali saat lebaran di hari raya. 

Saat itu, pada 2010, dia pulang untuk merayakan lebaran di kampung halaman.  Karena merasa mendapat rezeki lebih, Khusnul dan Muntamah berencana mendaftarkan diri untuk pergi ke tanah suci. Pasangan suami istri ini mendaftar tanpa menggunakan jasa KBIH. Semua keperluan administrasi dilakukannya sendiri. 

Setelah itu, keduanya kembali merantau ke Kupang. Hingga akhirnya mendapatkan informasi tahun ini bisa berangkat haji. Selama 2,5 bulan, pasangan ini harus 8 kali pulang pergi menggunakan pesawat dari Kupang ke Surabaya. “Untuk tes kesehatan dan sebagainya, jadi harus PP,” tuturnya. 

Dia sangat bahagia diberikan kesempatan untuk melakukan ibadah di rumah Allah. Khusnul juga tidak menyangka bisa satu rombongan dengan keluarga dan tetangganya. 

Ketua Rombongan Dusun Pilang, Nafi’in membenarkan ada sekitar 60 CJH berasal dari dusunnya. Namun, lima warga di antaranya berangkat dari Embarkasi Jakarta. Sebab, mereka merantau di sana. Selebihnya, berangkat dari Lamongan ke Embarkasi Surabaya, masuk kloter 45 dan 46. ”Alhamdulillah,  bisa berangkat bersama, dan nanti akan dilepas Pak Camat,” tuturnya. 

Kepala Desa Tejoasri, Nasrudin, mengaku senang warganya bisa berangkat haji hingga 60 orang. Menurut dia, warga Pilang memang pekerja keras. Kemauannya juga tinggi. Dari total 250 KK, ada sekitar 25 KK yang berangkat haji. Setiap tahunnya, juga pasti ada yang berangkat haji. Namun, tahun ini terbanyak jumlah warga yang ke tanah suci. “Semoga bisa berangkat dan pulang dengan selamat,” doanya.

(bj/jar/rka/yan/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia