Jumat, 22 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Beras Bulog Terancam Menumpuk

21 Juli 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

KOTA – Meski tidak lagi menyalurkan program beras untuk warga miskin (raskin), Bulog tidak mengubah target pengadaan/pembelian gabah/ beras. Namun penyaluran beras Bulog belum jelas, sehingga terancam menumpuk. “Target (pembelian, Red) kita tetap, tidak berubah,“ kata Kepala Bulog Sub Divre III Bojonegoro Akbar Said jumat (20/7).

Akbar menuturkan, pihaknya masih terus melakukan pengadaan beras. Sebab belum ada perintah dari pusat untuk mengurangi target pengadaan. “Penyaluran nanti menjadi wewenang pusat. Kita hanya melakukan pengadaan saja,“ terangnya. Menurut dia, beras Bulog selama ini memang banyak dialokasikan untuk program raskin. Setelah program raskin dihapus, beras Bulog menjadi banyak yang tidak tersalurkan.

“Kita biasanya transfer ke daerah lain yang membutuhkan. Biasanya pemerintah pusat yang meminta,“ ungkapnya. Dia mengungkapkan, tahun lalu Bulog tidak berhasil mencapai target. Sebab banyak kendala yang dihadapi. Tahun ini sepertinya tidak berbeda jauh dengan tahun lalu, yakni target pengadaan beras Bulog 76 ribu ton. ”Jumlah itu baru terealisasi 40 persen. Sisanya akan dituntaskan sampai akhir tahun ini,“ ujarnya.

Menurut Akbar, posisi saat ini memang tidak memungkinkan untuk banyak melakukan penyerapan. Sebab tidak semua wilayah ada padi. “Hanya wilayah dekat Bengawan Solo saja (yang ada tanaman padi, Red). Lainnya tidak ada,“ katanya. Waka Bulog Sub Divre III Bojonegoro Edy Kusuma menambahkan, salah satu kendala pengadaan beras adalah musim kemarau. Juga mahalnya harga gabah ditingkat petani.

Sedangkan Bulog hanya membeli gabah sesuai dengan instruksi presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015. Yaitu, seharga Rp 3.700 per kilogram (kg) kering panen. Sedangkan kondisi di lapangan ada yang menyentuh Rp 5.000 per kg. ”Ini kendala yang sulit,” jelasnya. Menurut dia, melakukan pembelian dengan harga pasar tidak mungkin dilakukan Bulog. Sebab, akan mengalami kerugian.

“Karena itu Bulog banyak melakukan pembelian hanya saat musim hujan,” ujarnya. Seperti diketahui, sejak Mei lalu Kementerian Sosial (Kemensos) menghentikan pembagian raskin. Kemensos kemudian menggantinya dengan memberikan bantuan pangan nontunai (BPNT). Bentuknya berupa kartu yang bisa dibelikan beras dan telur di pasaran.

(bj/zim/feb/faa/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia