Jumat, 15 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Butuh Pengendalian Harga

20 Juli 2018, 06: 00: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Usai disulitkan harga telur yang mahal minggu lalu, kini giliran merembet ke komoditas lain. Harga ayam dan cabai rawit kini melambung. Harga mahal ini bisa memengaruhi daya beli. Nanik pedagang ayam potong Pasar Kota Bojonegoro mengatakan, harga ayam pedaging sejak usai Lebaran belum normal, masih di kisaran Rp 36 ribu per kilogram. Padahal, harga normal daging ayam potong yaitu Rp 30 ribu per kilogram.

Namun, pedagang sedikit lega karena saat ini musim orang hajatan naik haji. Mutamimah pedagang ayam lainnya mengatakan, harga ayam petelur juga masih mahal sejak usai Lebaran lalu. Butuh pengendalian pemerintah terkait harga ayam tersebut. Sebab, kenaikan harga bisa memicu daya beli rendah. Hal sama dirasakan Umi penjual cabai. Dia mengungkapkan, harga cabai rawit sejak 20 hari yang lalu tembus Rp 60 ribu per kilogram.

Padahal, biasanya harga cabai rawit sekitar Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. “Cabai rawit sedang sulit dapatnya, jadi harganya tinggi. Kalau cabai keriting dan biasa harganya normal, yaitu Rp 23 ribu hingga Rp 28 ribu per kilogram. Bawang putih dan merah juga normal, pasokannya aman,” ucapnya. Sementara harga telur mulai turun menjadi Rp 22 ribu per kilogram. Padahal, minggu lalu menembus Rp 30.000.

Menurut Susi salah satu pedagang, harga telur turun Rp 1.000 tiap hari. Plt Dinas Perdagangan Bojonegoro Agus Haryana mengatakan, naiknya harga komoditas telur, ayam, dan cabai memang sedikit banyak dipicu oleh pasokan. Sekaligus musimnya hajatan di desa-desa. Kalau komoditas telur memang karena pasokannya andalkan luar kota.

Kabid Agribis Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro Wiwik Sulistyo mengatakan, harga ayam potong naik karena memang para peternak yang berskala besar sudah menjalin mitra dengan perusahaan-perusahaan olahan makanan berbahan ayam. Karena itu, peredarannya belum tentu di sekitar Bojonegoro saja, bisa ke luar daerah. “Dari segi populasi surplus mencapai 7.792 ton. Tetapi peternak yang mandiri tidak banyak. Lainnya sudah kemitraan, itulah menyebabkan peredarannya belum tentu di Bojonegoro,” ucapnya.

(bj/gas/rij/faa/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia