Rabu, 26 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Program Kreator dan Pemilik Kopi Talkie

Bisnis Berbasis Ide, Bikin Kantor Serasa Kafe

Oleh: Amrullah A.M

12 Juli 2018, 08: 18: 34 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

PRODUKTIF: Afrodita Indayana, orang Bojonegoro domisili di Bogor yang mengelola kafe berbasis kantor.

PRODUKTIF: Afrodita Indayana, orang Bojonegoro domisili di Bogor yang mengelola kafe berbasis kantor. (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Bisnis di era digital saat ini harus benar-benar kreatif. Kadang, ide yang mustahil justru akan menjadi kenyataan jika dikemas dengan baik dan dipadu dengan tekad yang kuat. Seperti yang dilakukan Afro.

Cara berpikirnya khas anak muda. Begitu juga dengan gaya omongannya. Sedikit bercampur dengan istilah-istilah modern, saat berbicara membuat Afro semakin kental sekali dengan anak muda zaman sekarang.

Logatnya memang sudah nyaris mirip orang Jakarta atau Sunda. Memang, dia telah lama hidup di kota orang. Namun, saat obrolan berjalan gayeng. Logat Jonegaran pun terlontar begitu saja. Memang, bahasa khas sejak kecil tak akan pernah hilang dari logat seseorang.

Afro kini telah mengembangkan bisnis yang bisa dikatakan berbasis ide. Dia mengembangkan bisnis bersama teman-temannya di Bogor, Jawa Barat. Dia menyebut dirinya sebagai program kreator.

Dia bersama teman-temannya menekuni bisnis travel namun berbeda dengan travel pada umumnya. Jadi, dia menyediakan jasa untuk berlibur dengan ada konsepnya. Misalkan, untuk yang ingin berlibur tapi ada kombinasi penelitian. Atau berwisata dengan konsep lainnya.  “Jadi kita memang berkonsep jasa,” kata dia.

Untuk membangun usaha berbasis jasa ini memang cukup berat. Sebab, setiap program bisa ditiru dan dimodifikasi oleh orang lain. Tapi, iklim di Jakarta dan Bogor membuat orang berpacu untuk saling berinovasi atas karya bisnisnya itu. Misalkan, ada yang membuat usaha dengan konsep yang mirip. Dirinya dan kawan-kawannya akan membuat inovasi baru lagi.

Selain memiliki usaha bersama teman-temannya di bidang jasa. Dia pun membuka sebuah kafe. Kafe yang dibuatnya itu cukup unik dibandingkan dengan kafe di Bogor pada umumnya. Dari sisi harga pun berbeda. Dia memilih harga di bawah harga kafe lainnya.

Nah, di kafe ini konsepnya menonjolkan  kreativitas. Afro yang lulusan Ekowisata IPB Bogor ini mulai mengimplementasikan ilmunya. Dia mengonsep kafenya tidak sekadar warung kopi biasa. Tetapi, dia memiliki semangat jika para konsumen di kafenya diharapkan sibuk dengan orang di depannya. Bukan dengan gawainya.

Jadi, kata Afro, semakin banyak orang berbincang saat menikmati hidangan dari kedainya itu dia merasa puas. Sebab, keberadaan kedai itu memang memfasilitasi agar orang saling bersapa dan saling berbincang.

Menurut Afro, konsep lain dari kedai yang dimilikinya itu, yakni adanya sebuah forum bincang. Di forum itu siapa saja punya kesempatan untuk menjadi pembicara. Bahkan, bisa mengusulkan. Nanti, pihak manajemen akan memutuskan. “Bisa pengalaman, pengetahuan, atau wawasan baru temanya,” kata dia.

Dia mencotohkan, ada orang yang bisa bericerita tentang masalahnya. Nanti orang yang hadir bisa ikut nimbrung tentang apa yang menjadi masalah ditempanya. Saling memberikan solusi.

Dia menceritakan, dalam mengemas bisnis masa kini, kadang orang tidak bisa langsung memahami. Misalkan, untuk program kreator. Seolah, masih di awang-awang dan belum jelas seperti apa pelaksanaannya. “Tapi jika semua sudah berjalan. Nanti akan bisa dinikmati,” terang dia.

Afro pun juga turut membidani sebuah event untuk pengelolaan wisata sumur minyak tua di Wonocolo. Dia pun mengolaborasikan berbagai pihak untuk mendorong agar wisata di Teksas Wonocolo itu bisa berjalan dengan baik. Jadi, Afro yang lulusan SMAN 2 Bojonegoro ini tetap ingin memberikan karyanya untuk Bojonegoro dengan ilmu dan pengalaman yang dia punya. Yakni, kepariwisataan.

(bj/aam/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia