Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Dorong Agrowisata di Gondang 

02 Juli 2018, 06: 10: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

wisata

BERPOTENSI: Daerah yang berpotensi di kembangkan. (Amrulah A.M/Radar Bojonegoro)

Share this      

GONDANG - Kondisi geografis di Kecamatan Gondang yang cukup eksotis perlu didorong untuk lebih berkembang. Setidaknya ada dorongan membuat agrowisata di kecamatan tersebut. Dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bojonegoro Miftahul Huda mengatakan, perlu dibuat zona pengembangan desa agrowisata di Bojonegoro. “Pembangunan selayaknya dirumuskan untuk menjawab masalah atau mengembangkan potensi wilayah,” katanya senin (1/7). 

Di Gondang, lanjut dia, cukup banyak potensi alam perlu dikembangkan. Misalnya, di rumah penduduk yang sudah ada tanaman kelengkengnya. Selain itu, ada tanaman alpukat di beberapa titik yang sudah mulai banyak. Selain itu, juga ada tanaman hortikultura. “Potensi Gondang dengan ketinggian yang sesuai tumbuh suburnya buah harus dikembangkan oleh pemerintah, baik kabupaten maupun desa,” terangnya.

Miftah melanjutkan, agrowisata itu bagian dari objek kepariwisataan yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek utama. Kegiatan agrowisata bertujuan memperluas wawasan pengetahuan, pengalaman, rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian yang meliputi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan peternakan yang didukung oleh kehutanan dan sumber daya pertanian. “Pengembangan agrowisata pada hakikatnya merupakan upaya terhadap pemanfaatan potensi atraksi wisata pertanian,” ujarnya. 

Terpisah, Kepala Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Dedy Kristiawan yang memiliki kebun kelengkeng mengungkapkan, kelengkeng mulai banyak ditanam warga sekitar 2011. Yakni, adanya bantuan dari sebuah bank lokal di Jawa Timur. Kondisi suhu udara dan kontur tanah yang bersahabat membuat kelengkeng bisa tumbuh dengan baik. Warga merawatnya dalam kurun waktu setahun, kelengkeng sudah berbunga. Sehingga warga bersemangat menanam kelengkeng. 

Menurut Dedy, setelah banyak berbuah, pemerintah mulai memberi bantuan bibit kelengkeng lagi. Warga menanam di pekarangan rumah dan kebun. Bahkan, pohon kelengkeng yang ditanam pada 2015 sudah berbuah. Hasil panen kelengkeng dijual pada para pengguna jalan. Sebab, Desa Pajeng dilalui kendaraan yang akan menuju ke Nganjuk maupun Bojonegoro. “Satu pohon itu bisa sampai 15 kilogram,” ujarnya. 

Dia mengklaim, rasa buah kelengkeng Desa Pajeng  mampu bersaing dengan kelengkeng di pasar atau toko buah. Manisnya begitu terasa. Selain itu, buahnya tebal. “Hasil panenya masih banyak dikonsumsi sendiri,” ucapnya.

Dia menjelaskan rencananya pihak desa akan mengonsep sebagai wisata buah kelengkeng. Apalagi, kelengkeng ini berbuah dua sampai tiga kali dalam setahun. “Nanti kita akan buat jadwal. Kapan itu akan berbuah. Nanti ada semacam panen raya atau apalah,” kata dia. 

Dedy menuturkan, potensi buah di Desa Pajeng cukup baik. Meski, masyarakat masih ada yang bertani padi hingga menanam bawang merah. Komoditi itulah yang cukup membantu perekonomian warga. Sedangkan, adanya buah akan menambah penghasilan warga.

(bj/zim/feb/faa/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia