Kamis, 27 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Pantau Tiga Pangkalan Nakal

02 Juli 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

Elpiji

AWASI AGEN: Rawan penyelewengan agen di awasi. (M. Nurcholis/Radar Bojonegoro)

Share this      

KOTA – Tiga pangkalan elpiji dipantau Dinas Perdagangan dan Pasar (Disdag) Bojonegoro. Sebab ketiganya telah mendapat surat peringatan (SP) karena melakukan pelanggaran. Jika masih melakukan pelanggaran, disdag mengancam akan mencabut izinnya. “Kita terus melakukan pemantauan. Jangan sampai melakukan pelanggaran lagi,” kata Plt Kepala Disdag Bojonegoro Agus Hariyana senin (1/7).

Menurut dia, SP yang diberikan kepada tiga pangkalan itu karena melanggar aturan. Yakni, tertangkap basah menjual elpiji melon (bersubsidi) melebihi harga ecaran tertinggi (HET) Rp 16 ribu per tabung. Itu terjadi saat libur Lebaran lalu. Saat itu banyak masyarakat mengeluhkan kelangkaan elpiji 3 kilogram (kg). Padahal pasokan elpiji 3 kg dari Pertamina lancar. “Karena pelanggarannya berat, langsung kita SP,” jelasnya.

Agus melanjutkan, SP pada tiga pangkalan itu juga peringatkan pada pangkalan yang lain. Jangan sampai menjual elpiji di atas HET. Sebab elpiji 3 kg bersubsidi, yang selalu dipantau pemerintah. Elpiji 3 kg sebenarnya diperuntukkan bagi orang miskin. Namun, di lapangan banyak ditemukan orang kaya membeli elpiji melon. “Saya juga kerap menemui orang naik mobil bagus beli elpiji 3 kg,” jelasnya.

Menurut dia, saat ini pasokan elpiji 3 kg di Bojonegoro sudah normal. Tidak ada kelangkaan, baik di pangkalan atau di pedagang eceran. Namun, dia tetap mengimbau agar masyarakat membeli elpiji 3 kg di pangkalan. Sebab, pihaknya tidak bertanggung jawab terkait harga yang ada di pedagang eceran. “Pangkalan adalah tempat penjualan resmi elpiji. Setelah pangkalan tidak ada lagi. Pengecer itu tidak resmi,” jelasnya.

Dia menambahkan, pihaknya sebenarnya juga menemukan pangkalan-pangkalan lain yang juga melakukan pelanggaran. Namun hanya melakukan teguran secara lisan. Sebab, pelanggaran yang dilakukan masih bisa ditoleransi. “Kalau yang ringan kita tegur lisan biasa. Yang berat kita langsung SP,” tandasnya. (zim/feb)

(bj/zim/feb/faa/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia