Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Sandur, Kesenian yang mulai Hilang

Angkat Cerita Masa Panen Padi di Lamongan

Oleh: Rika Ratmawati

26 Juni 2018, 06: 20: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Kesenian Sandur Lamongan

Kesenian Sandur Lamongan (Istimewa/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

LAMONGAN - Kesenian sandur mirip dengan mini drama. Pementasannya dulu menggunakan dialek Jawa dengan pelaku seluruhnya laki-laki. Kesenian ini sangat terkenal zaman penjajahan dulu. Di Lamongan, napas kesenian ini bertahan di Yungyang, Kecamatan Modo.

Gamelan musik Jawa membuka pertunjukan sandur dalam kegiatan sosialisasi pemilu 2018 di Kecamatan Modo. Germo (sutradara, Red) dengan lantang memanggil Tarmin selaku Balong serta Nardi selaku Petak untuk memulai pertunjukannya.

Mini drama dikemas dengan iringan gamelan Jawa ini syarat akan makna. Karena pertunjukan sandur dimainkan untuk memberikan pemahaman kepada penonton melalui cerita yang dibawakannya.

“Penonton sandur itu bisa dihitung, hanya mereka yang memang memahami seni,” ujar Tarmin.

Kesenian sandur tidak banyak yang bisa mewarisi, karena latihannya harus rutin. Joko, salah satu pemain bercerita, untuk memerankan karakter perempuan dalam cerita sandur, yakni Jasmirah, dirinya harus bergelut dengan rasa malu. Bagaimanapun, peran yang dibawakannya harus berhasil menghibur penonton.

Seni sandur pemainnya semua laki-laki, tapi peran yang dibawakan campur. Karena minimnya penerus, belakangan banyak diselipi pemain perempuan. 

Sandur merupakan kesenian tradisional yang mengangkat cerita-cerita tentang masa panen padi. Kesenian ini dipertunjukkan untuk mensyukuri hasil panen melimpah.

Sandur berasal dari kata beksan artinya tarian dan mundur atau tarian mundur. Sandur ini biasanya diperankan oleh tujuh tokoh dengan satu germo. Diawali dengan pembagian peran, pementasan sandur selalu diiringi dengan lagu-lagu khusus berhubungan dengan perannya. “Lagu selalu menjadi pembuka germo untuk memanggil para pemain lainnya sebelum pementasan,” ujar Sariono, pemerhati seni Lamongan.

Seni ini identik dengan peralatan jaranan yang diperagakan para pemain dalam pementasan. Karena perkembangan zaman, seni sandur banyak dimodifikasi. Adegan jaranan jarang diperankan. Jika diperankan, maka biasanya hanya sebagai pelengkap. 

Musik pengiring kesenian ini berupa gamelan Jawa. Kemajuan teknologi membuat peralatan elekton bisa menjadi pengiring sandur. Pementasan kesenian sandur juga lebih menyesuaikan permintaan penyewa.

Kesenian ini biasa dipertunjukkan di panggung terbuka karena pementasannya membutuhkan lahan luas. Kesenian ini dipentaskan di panggung ukuran 7 x 7 meter dengan janur kuning melingkar sebagai pembatas.

Kesenian sandur ini belum diketahui pembawanya. Namun, setiap daerah ada yang memerankan. Setiap wilayah memiliki ciri khas tertentu dalam pementasan sandur. Salah satunya jumlah tokoh. Di Lamongan, sandur biasa diperankan tujuh tokoh, sehingga lebih menyerupai ludruk. Sedangkan Bojonegoro hanya lima tokoh, tapi secara garis besar karakter ceritanya sama. Sandur selalu mengangkat cerita masyarakat  pedesaan, seperti cara menggarap sawah. Mulai dari tanam padi, merawat, sampai dengan musim panen.

Kesenian sandur merupakan pertunjukan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Seni ini merupakan warisan nenek moyang secara turun-temurun untuk merayakan berkah setelah musim panen. Pertunjukan ini banyak mengangkat adegan-adegan berhubungan dengan mistis seperti adegan kesurupan. Seiring perkembangannya, adegan demi adegan seperti itu mulai dihilangkan. Apalagi, mencari penerus kesenian cukup sulit. “Jadi asal kesenian ini tidak punah dan masih ada penerusnya, meski banyak pergeseran nilai dari sebelumnya,” tutur Sariono.

(bj/rka/yan/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia