Minggu, 19 Aug 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features
M. Zainuddin Wakil Rektor UIN Malang

Masih Kerap Gunakan Bahasa Jonegaran

Rabu, 20 Jun 2018 07:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

M. Zainuddin Wakil Rektor UIN Malang

M. Zainuddin Wakil Rektor UIN Malang (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Zainuddin telah berkiprah dalam dunia pendidikan. Kini dia telah menjadi wakil rektor bidang akademik di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Ini adalah periode kedua dia menjabat. Zainuddin telah berada di kampung halamannya di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor. Di desa yang berdekatan dengan Bengawan Solo itu masa kecil Zain ditempa. Dia memulai pendidikannya di sebuah madrasah di desanya. Kemudian, berlanjut ke Pesantren At-Tanwir Sumberrejo hingga melanjutkan ke Ponpes Tambakberas Bahrul Ulum Jombang.

Masa kecil Zain, sama dengan masa kecil orang desa pada umumnya. Pria kelahiran 7 Mei 1962 ini di keluarga yang sederhana. Saat bersekolah dia harus menempuh dengan jalan kaki. Misalkan, saat bersekolah di Madrasah At-Tanwir dia harus berjalan cukup jauh. Apalagi saat hujan. Jalan yang dilintasinya rusak.

“Jadi ya saat sekolah kadang sering telat,” ujarnya sembari mengenang masa lalu.

Dia bercerita, lingkungan yang banyak memengaruhi pemikiran dan sikapnya adalah saat di musala. Musala kampunglah yang membuat dirinya banyak ditempa. Di musala, kata Zain, menjadi sebuah tempat favorit saat masa kanak-kanak.

Mulai salat, mengaji, hingga bermain pun banyak dilakukan di musala. Zain bersama teman-temannya ditempa oleh lingkungan musala yang cukup ketat. Sebab, salat berjamaah juga dilakukan. Baginya, musala memiliki andil dalam kehidupannya hingga saat ini. “Kerukunan dan kesederhanaan itu semua ada di musala,” katanya.

Bahkan, anak-anaknya saat ini pun tetap dididik seperti saat dirinya kecil. Musala menjadi pusat pendidikan. Selain, sekolah dan keluarga. Menurutnya, musala menjadi pusat pendidikan karakter yang sesungguhnya bagi anak-anak. Karena lingkungan di musala memberikan banyak pengaruh terhadap kehidupan anak-anak.

“Kalau musala sekarang memang banyak dikunci ya,” ujarnya berkelakar.

Masa muda Zain banyak dipengaruhi oleh iklim akademis Jogjkarta. Di era 1980, dia mulai menginjakkan kaki di Kota Gudeg itu. Dia kuliah di Fakultas Adab jurusan sejarah kebudayaan Islam IAIN Sunan Kalijaga yang sekarang UIN Sunan Kalijaga. Hingga magister dia meneruskan di kampus yang sama. Sedangkan, doktornya diselesaikan di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Zain bercerita saat di Jogjakarta banyak pengalaman yang dia dapat. Khususnya bidang kepenulisan. Di zaman-zaman itu hidup memang cukup susah. Dia pun tak banyak berharap kiriman dari orang tuanya di kampung.

Satu-satunya jurus untuk bertahan hidup di Jogjakarta, yakni dengan menulis. Mengirim tulisan di media massa dan menerima honor. Nah, honor itulah yang akan dibuat untuk bertahan hidup.  “Lumayan lah saat itu honornya,” ujarnya.

Dia menuturkan, untuk mengawali menulis memang sulit. Tapi, lingkungan Jogjakarta benar-benar mendorong semua orang berkompetisi untuk menulis. Dari sana, dia pun mulai banyak membaca dan menulis. Hingga, kebiasaan menulisnya pun terbawa hingga sekarang. Apalagi, dunia yang saat ini digeluti, yakni sebagai seorang akademisi di kampus.

Saking gilanya membaca buku. Zain pun mendalami ilmu filsafat. Dia pernah menulis buku tentang Filsafat Islam. Baginya, filsafat menjadi pengetahuan penting. Bukan hanya, bagi seorang dosen saja yang harus belajar filsafat. Namun, masyarakat pun bisa belajar.

Sebab, mereka yang belajar filsafat akan tahu tentang kebijaksanaan. Misalnya, orang yang bersikap toleran terhadap orang lain sejatinya mereka telah belajar filsafat.

Zain telah tinggal di Malang. Dia menjabat sebagai wakil rektor bidang akademik di UIN Malang. Ini adalah jabatan periode kedua. Sebelumnya, Zain adalah seorang Dekan Fakultas Tarbiyah. Banyak hal yang telah diperbuat untuk perkembangan dunia Islam di Indonesia melalui beberapa karya dan kebijakannya.

Dia mengaku Bojonegoro masih tetap ada di dalam hatinya. Bukan sekadar mudik dan pulang kampung saja. Kesederhanaan orang Bojonegoro pun telah menjadi cara pandangnya. Termasuk menggunakan bahasa jonegaran saat berada di Malang. “Logat Bojonegoro saya masih tampak. Meski saya berbahasa Indonesia,” pungkasnya.

(bj/aam/gas/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia