Kamis, 15 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Kolom

Pendidikan Merata bagi dan oleh Rakyat

Oleh: Fenny Yulinanita 

Minggu, 17 Jun 2018 06:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

Ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

KOLOM - Nilai Ujian Nasional (UN) tingkat SD dan SMP telah diumumkan, proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) telah dibuka, berbondong-bondong siswa dan orang tua menyerbu sekolah-sekolah yang sesuai dengan keinginan dan nilai mereka.

Sejak tahun 2017, proses PPDB dengan sistem zona mulai diterapkan. Menurut kementrian pendidikan dan kebudayaan, sistem zona dalam PPDB memiliki tujuan pemerataan pendidikan. Jika dulu ada sekolah favorit, dengan sistem ini diharapkan semua sekolah memiliki kesamaan. Tak ada lagi sekolah favorit, semua sekolah dianggap berkemampuan sama.

Sebenarnya tujuan yang ingin diterapkan pemerintah sangat baik. Diharapkan dengan adanya sistem zona, sekolah di perkotaan atau pinggiran memiliki kemampuan yang sama. Peserta didik berprestasi tidak hanya terpusat di satu sekolah. Namun, adakah pemerataan pendidikan itu bisa terwujud?

Kita tentu tidak lupa dengan tragedi yang menimpa salah satu calon peserta didik di Blitar. Seorang calon peserta didik yang memilih mengakhiri hidupnya karena merasa kecewa dan takut tidak diterima di sekolah favorit. Pihak kementrian pendidikan telah memberikan sejumlah klarifikasi terkait kejadian tersebut. Termasuk menjelaskan bagaimana sebenarnya proses PPDB dengan sistem zona yang harus dipahami oleh sekolah maupun masyarakat.

Kejadian tersebut tidak mungkin membuat kita menutup mata bahwa sampai hari ini sekolah favorit masih melekat di pikiran masyarakat. Masyarakat berlomba dan berharap anak atau keluarga mereka mendapatkan pendidikan terbaik dari sekolah favorit. Lalu bagaimana tujuan sistem zona akan terwujud?

Pemerataan peserta didik

Dulu, peserta didik berprestasi memiliki kesempatan besar untuk belajar di sekolah favorit sehingga sekolah pinggiran berkesempatan kecil untuk memeroleh peserta didik berprstasi. Dengan adanya sistem zona, sekolah berkesempatan memeroleh peserta didik yang berkualitas sama. Sebab peserta didik yang tinggal atau bersekolah di daerah tertentu diarahkan untuk bersekolah di daerahnya sendiri. 

Hal tersebut memungkinkan peserta didik berprestasi di bidang akademik untuk bersekolah di daerah mereka. Jika sekolah pinggiran memeroleh peserta didik berprestasi, maka kemungkinan sekolah pinggiran untuk juga ikut berprestasi semakin terbuka.

Tidak bisa dipungkiri bahwa selama ini peserta didik berprestasi banyak dimiliki sekolah perkotaan. Berbagai lomba taraf nasional maupun internasional sebagian besar didominasi sekolah-sekolah perkotaan. Dan sistem zona membuka peluang sekolah pinggiran untuk dapat berprestasi hingga taraf internasional sebab peserta didik berprestasi juga terdapat di dalamnya. 

Kualitas sekolah

Namun, ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, khususnya kementrian pendidikan dan jajarannya. Pendidikan berkualitas tidak hanya didukung dari faktor peserta didik saja. Dalam pendidikan, peserta didik adalah bahan, pendidik dan sekolah adalah juru masaknya. Bahan yang baik, jika diolah juru masak biasa saja akan menghasilkan masakan yang biasa saja. Namun, juru masak yang hebat akan mampu mengubah bahan yang semula biasa saja menjadi masakan yang luar biasa. Maksud dari pernyataan tersebut adalah pemerintah juga harus memerhatikan kualitas sumber daya manusia dan sarana prasarana sekolah pinggiran. 

 Tidak bisa kita pungkiri, selama ini sumber daya manusia dan sarana prasarana sekolah pinggiran dan sekolah kota memang berbeda. Sekolah kota, yang selama ini dianggap favorit, memberikan akses berkembang sangat besar untuk pendidik dan peserta didik mereka. Perpustakaan berkoleksi buku lengkap, pelatihan pembelajaran, akses internet yang dapat digunakan untuk mencari sumber belajar mudah, serta banyak kemudahan lain yang bisa diperoleh baik pendidik maupun peserta didik di kota. Sedangkan sekolah pinggiran, perpustakaan berkoleksi minim, jaringan internet tersendat, serta minim pelatihan pembelajaran. 

Jika keadaan demikian tetap terjadi, maka PPDB dengan sistem zona justru akan menghambat kesempatan peserta didik untuk berprestasi lebih dari peserta didik lain yang berkesempatan mengenyam pendidikan dengan kemudahan. Maka perlu adanya kerja keras kementrian pendidikan beserta jajarannya untuk mendorong peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan sarana prasarana sekolah di pinggiran. Peningkatan kemampuan sumber daya manusia bisa dilakukan dengan banyak cara, misalnya pemberian pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan secara terarah, pemberian kemudahan akses sumber belajar.

Kualitas masyarakat

Selain peningkatan sumber daya menusia dan sarana prasarana, peningkatan kualitas masyarakat juga sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pemerataan pendidikan. Selama ini, pendidikan bukanlah menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Kebutuhan pokok masyarakat Indonesia masih diduduki oleh sandang, pangan, dan papan. Seseorang dianggap telah berhasil dalam hidupnya jika sandang, pangan, dan papan mereka telah mapan. 

Hal itu menjadi momok bagi dunia pendidikan. Ketika pendidikan yang baik bukanlah kebutuhan pokok masyarakat, maka sekolah hanya menjadi sarana pendukung untuk memeroleh ijazah saja. Bukan ilmu yang mereka harapkan di sekolah. Mereka bersekolah karena berharap mendapat ijazah dan bisa bekerja apa saja untuk bisa mencari sandang, pangan, dan papan. Akhirnya, sekolah hanya sekadar simbol pemerolehan ijazah, bukan pemerolehan ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup masyarakat. Sungguh sangat mengerikan.

Jika masyarakat masih berpikir demikian, maka tidak khayal jika di kelas peserta didik hanya berangkat, duduk, dan pulang saja tanpa memeroleh ilmu. Orang tua di rumah juga tidak peduli dengan ilmu apa yang mereka dapatkan di sekolah. Orang tua hanya tahu anak mereka berangkat dan pulang dari sekolah. Setelah tiga tahun akan mendapat ijazah dan bekerja untuk mencari uang demi sandang, pangan, dan papan.

Namun akan berbeda jika masyarakat menganggap pendidikan sebagai kebutuhan pokok. Mereka akan mengusahakan apapun agar anak mendapat pendidikan dan sarana yang baik untuk ilmu pengetahuan yang akan diperolehnya. Ilmu pengetahuan itulah yang nantinya akan mengubah hidup anak mereka menjadi manusia yang lebih baik dalam segi pemikiran maupun keadaan ekonomi. 

Ujungnya memang ekonomi, namun perekonomian yang dimiliki masyarakat berilmu tentunya berbeda dengan perekonomian masyarakat tanpa ilmu. Kehidupan masyarakat berilmu juga berbeda dengan kehidupan masyarakat kaya tanpa ilmu. Gesekan-gesekan yang banyak terjadi di masyarakat saat ini adalah hasil dari masyarakat tanpa ilmu. Masyarakat mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya karena mereka minim ilmu. Jika masyarakat berilmu, segala provokasi akan mudah ditangkal, sebab ilmu yang mereka miliki mampu menepis berita bohong yang beredar.

Masyarakat yang demikian baru dimiliki oleh masyarakat di perkotaan. Kesadaran pentingnya ilmu tampak dari usaha yang dilakukan oleh orang tua agar anak mereka mampu mengenyam pendidikan yang baik. Mencukupi sarana prasarana untuk pendidikan anak, penyediaan tempat belajar yang baik, aktif mengikuti perkembangan anak di sekolah, adalah beberapa hal yang mencerminkan usaha pemberian pendidikan yang layak.

Sayangnya, keadaan demikian belum dimiliki oleh masyarakat pedesaan. Dan seharusnya pemerintah dan masyarakat peduli, sehingga perubahan untuk pendidikan tidak hanya dari pihak sekolah saja, namun masyarakat juga turut berubah demi pendidikan dan masyarakat yang lebih baik. 

*Guru SMAN 1 Tambakrejo, Bojonegoro

(bj/*/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia