Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Features
Cerita Heni Kusuma dan Alfina Rizka

Belajar Bahasa Mandarin, Kuliah Bahasa Inggris

Oleh: M. Nurkhozim

06 Juni 2018, 19: 10: 38 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

TUNTUT ILMU: Heni Kusuma dan Alfina Rizka melanjutkan kuliah ke Tiongkok. Saat ini mereka memperdalam bahasa Mandarin dan adat istiadat Tiongkok.

TUNTUT ILMU: Heni Kusuma dan Alfina Rizka melanjutkan kuliah ke Tiongkok. Saat ini mereka memperdalam bahasa Mandarin dan adat istiadat Tiongkok. (M. Nurkhozim/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOKS - Sinar matahari bersinar terang ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro menemui Heni dan Alfina di sekolahnya. Dua santriwati ponpes khusus putri itu tengah berbunga-bunga. Sebab, mereka baru saja menerima kabar bahwa mereka diterima sebagai mahasiswa. Istimewanya mereka diterima sebagai mahasiswa di luar negeri. Tepatnya, di Negeri Tirai Bambu, Tiongkok. Heni diterima di Sun Yat Sen University di Guangzu, Tiongkok.

Sedangkan Alfina diterima di Hubei University, Hubei, Tiongkok. Heni diterima di teknik sipil dan Alfina di fakultas kedokteran. Keduanya mendapatkan beasiswa. “Kami tidak menyangka akan diterima dengan mudah,” kata Heni.

Heni menuturkan, selama ini dia tidak pernah membayangkan akan menempuh kuliah di Tiongkok. Selama ini negeri yang dipimpin oleh Xi Jinping itu bukan negara tujuan untuk kuliah. Rata-rata anak Bojoengoro mengidolakan kuliah di Eropa, Amerika, atau Australia. Namun, mereka memiliki pandangan yang berbeda. Meskipun sebelumnya juga ada anak Bojonegoro yang memilih kuliah di Tiongkok.

Menurut Heni, Tiongkok saat ini muncul sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Sehingga, tidak heran kini Tiongkok menjadi negera yang mulai banyak diperbincangkan. Terutama dibidang pendidikan. “Itu yang menjadi salah satu alasan kami,” timpal Alfina.

Dia menceritakan awal mula memilih kuliah di Tiongkok. Saat itu, ada pihak universitas yang datang ke sekolahan. Mereka memberikan pemaparan mengenai perkuliahan di Tiongkok. Pemaparan itu membuatnya tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai perguruan tinggi di Tiongkok. “Saya banyak membaca artikel di Google. Ternyata menarik juga,” jelasnya.

Dari sekian banyak siswa di sekolah, hanya mereka berdua yang tertarik ke Tiongkok. Mereka mendaftar dan ikut seleksi secara online. Diterima. Meskipun mereka mendaftar bersamaan, namun mereka mendaftar di universitas yang berbeda. Jaraknya pun cukup jauh. “Jaraknya sekitar 200 kilometer,“ jelasnya.

Kini mereka tengah melakukan persiapan. Persiapan pertama adalah mencari tahu adat istiadat di Tiongkok. Maklum Tiongkok adalah negeri nonmuslim. Disana mereka pastinya tidak akan meninggalkan identitas sebagai sebagai muslimah. Mereka akan tetap memakai hijab. Masalah itu, sudah banyak dicari infomasinya. “Orang-orang disana katanya ramah-ramah. Semoga beneran,” jelasnya.

Selain itu, rumah makan yang menyajikan makanan halal tentunya harus menjadi hal yang paling utama. Sebab, mereka khawatir ada menu makanan yang tidak halal bercampur dengan makanan halal. “Kita terus mencari mana saja rumah makan di sekitar kampus yang menyediakan menu halal,” jelasnya.

Persiapan yang tidak kalah pentingnya adalah memperdalam bahasa Mandarin mereka. Selama ini mereka memang sudah bisa berbahasa Mandarin. Namun, masih sebatas bahasa percakapan. Belum sampai bahasa kuliah. “Nasib baiknya kita akan kuliah dengan bahasa Inggris. Jadi, lebih mudah,” ungkap dia.

(bj/zim/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia