Selasa, 12 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Kolom

Rosma setelah Tinggalkan Penyiar TV

01 Juni 2018, 17: 26: 31 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

DISWAY - Sejak Ross tewas itulah Serawak Report berubah: lebih terang-terangan. Nama Clare pun muncul: sebagai pendiri, pemimpin dan redaktur Serawak Report. Clare tidak sembunyi-sembunyi lagi. Dia tidak takut apa pun. Tidak takut juga di-Ross-kan. Clare sendiri sering ke Serawak.

Pengungkapan skandal berikutnya adalah: pembangunan dam terbesar di Serawak. Namanya: Dam  Bakun. Yang dilakukan oleh perusahaan Tiongkok: Sinohydro. Yang bergerak di bidang pembangkit listrik tenaga air. Sinohydro punya beberapa proyek juga di Indonesia.

Berbulan-bulan skandal Dam Bakun ini jadi bahan pemberitaan Serawak Report. Tapi proyek itu jalan terus. Mulai pembangunannya tahun 1996. Selesai tahun 2011. Inilah dam tertinggi kedua di dunia: 205 meter. Atau dam terbesar di Asia Tenggara. Bentangannya: 750 meter. Bisa memproduksi listrik: 3.000 MW. Menggunakan delapan turbin.

Clare, melalui Serawak Report, juga mengungkapkan kasus penyelundupan kayu. Dari hutan Serawak. Oleh Michael Chia. Yang di-back up sepenuhnya oleh penguasa Serawak.

Hasilnya: Clare masuk daftar hitam. Tidak boleh datang ke Serawak. Sedangkan skandal yang diungkapkannya akhirnya ditangani jaksa. Untuk dimasukkan peti. Sampai sekarang.

***

Xavier tahu semua kenekatan Clare itu. Tahu bagaimana harus berhubungan dengan Serawak Report. Ia kirimlah semua dokumen dari server PetroSaudi itu. Yang utama: bagaimana terjadinya aliran dana dari PetroSaudi ke rekening pribadi perdana menteri (saat itu) Najib Razak: USD 700 juta. Senilai sekitar Rp 9 triliun.

Hebohlah Malaysia. Seheboh-hebohnya. Padahal tidak ada koran yang memberitakannya. Koran di Malaysia, saat itu, loyo: di bawah ketiak Najib. Atau ketiak Rosma. Atau ketiak siapa lagi.

Sejak publikasi Serawak Report itulah Najib sulit berkelit. Jadi isu tiada henti. Sampai di warung kopi. Sampai ke tas Birkin Rosma. Yang kurang banyak itu.

***

Amerika ikut turun tangan. Ikut menangani pencucian uang di sekitar skandal 1MDB itu.

Najib begitu sulit. Secara hukum. Secara politik. Secara moral. Untuk menyelamatkan diri, Najib perlu menang Pemilu 2018.

Untuk berkilah ia bentuk tim audit. Seakan semuanya berjalan baik. Diaudit dengan baik. Auditornya ditawari iming-iming. Yang mencoba melakukan penyelidikan disogok. Tiga orang penyidik disogok masing-masing tiga juta ringgit.

Auditnya berhasil dikendalikan. Penyidiknya berhasil dibungkam. Tapi ribuan warung kopi tetap buka. Dan membicarakan kebobrokan Najib itu. Dan istrinya itu. Dan si Rosmah itu. ‘Istrinya itu’ dan ‘si Rosmah itu’ adalah satu.

Ribuan warung kopi mengalahkan suap, sogok, iming-iming, sembako, serangan fajar: Najib kalah telak dalam Pemilu 9 Mei 2018. Yang begitu dramatik.

***

Xavier dan Clare ke Malaysia lagi. Minggu lalu. Kali ini sebagai pahlawan. Menyerahkan semua dokumennya ke penguasa baru Malaysia.

Setelah menerima Xavier wajah Mahathir tidak terlalu gembira. Bahkan Mahathir dapat gambaran yang muram: triliunan rupiah uang yang hilang itu sulit diharapkan bisa kembali. Telah menguap. Lenyap. Gone.

Padahal keinginan tertinggi Mahathir sebenarnya simpel: menyelamatkan dulu uang itu. Baru menegakkan hukumnya. Mengapa uang itu lenyap? Bagaimana asal-usul hilangnya?

***

Mulainya tahun 2009. Saat Najib mulai menjadi perdana menteri. Ia ambil alih perusahaan milik negara bagian Selangor. Agar menjadi perusahaan pusat/federal/BUMN. Dengan misi menjadi seperti Temaseknya Singapura.

Nama perusahaan itu pun diubah. Menjadi 1Malaysia Development Berhad. Disingkat 1MDB.

1MDB menjadi holding company. Melahirkan anak-anak perusahaan. Dan cucu-cucu perusahaan. Baik yang dimiliki sendiri maupun yang hasil kerjasama dengan pihak lain. Najib menjadi chairman-nya. Dan juga ketua dewan penasihatnya.

Bidang usaha yang ditangani 1MDB luas sekali: energi, real estate, industrial estate, pariwisata dan banyak lagi. Di bidang real estate 1MDB membangun distrik bisnis baru: satu kawasan 70 ha di Kuala Lumpur. Gedung-gedung pencakar langit, pusat-pusat bank, lembaga keuangan, perdagangan akan menempatinya.

Di bidang energi akan menjadi pemasok batu bara utama semua pembangkit listrik. Juga akan mengambil alih pembangkit listrik di Dam Bakun Serawak.

Di bidang energi ini banyak benturan. Ada aturan yang tidak bisa dilanggar: pasokan batu bara itu sudah terikat kontrak dengan grup Khasanah. Yang dulu dibentuk oleh Mahathir. Saat Mahathir perdana menteri.

***

Mengapa Najib mendirikan 1MDB? Mengapa tidak menugaskan Khasanah saja?

Inilah menariknya: Khasanah adalah Mahathir. Sejarah Mahathir. Najib ingin menorehkan sejarahnya sendiri. 1MDB adalah sejarah Najib. Tidak ia sangka jadi sejarah yang kelam.

***

Maka saya munculkan bintang baru di adegan berikut ini.  Adegan yang lebih dramatik. Catat baik-baik nama bintangnya: Riza Aziz, Jho Low dan Tareq Obaid.

***

Riza Aziz adalah anak Rosma dari suami pertama. Sekolahnya di London School of Economic. Semula bekerja di kantor akuntan terkemuka dunia: KPMG. Lalu pindah ke Bank HSBC. Dua-duanya di London.

Sepuluh tahun Riza berkarier di situ. Matang sekali. Sampai datanglah krisis moneter 2008. Riza meninggalkan HSBC.

***

Jho Low adalah anak pengusaha keuangan. Lahir di George Town, Pulau Penang, Malaysia. Sekolahnya di Harrow, London. Sekolah unggulan.

Di London inilah kenal Riza. Lalu melanjutkan kuliah di Wharton Business School di Pennsylvania: kampusnya tokoh-tokoh cerdas Amerika. Termasuk Hillary Clinton. Dan anak Robert Lai, teman saya.

Jho Low pandai bahasa Inggris, Melayu, Mandarin, Fujian, Canton dan Tiuchu. Lalu mendirikan perusahaan keuangan di Hongkong. Dan Malaysia. Dan Singapura. Dan Abu Dhabi. Dan Kuwait. Dan Amerika.

***

Tareq Obaid adalah pendiri dan pemilik perusahaan minyak PetroSaudi International SA. Meski namanya PetroSaudi –dan pakai SA– ini bukan perusahaan Saudi Arabia.

PetroSaudi adalah perusahaan Cyman Island. Tidak ada dalam peta. Terlalu kecil pulaunya. Tidak kelihatan. Tapi negara ini eksis. Sangat menonjol. Dan kaya.

Letaknya di lautan Karibia. Penduduknya 60.000 orang. Kepala negaranya Anwar Khoudory. Status negaranya di bawah protektorat Inggris.

Negara ini makmurnya bukan main. Pendapatan per kapitanya 58 ribu USD. Kita cuma sekitar 4 ribu USD. Negara ini bebas pajak. Tidak mengenal pajak pendapatan, pajak perusahaan dan pajak apa pun. Inilah surga bagi yang ingin menghindari pajak. Tax heaven. Dari 50 bank terbesar di dunia hanya 10 yang tidak punya cabang di Cyman. Bisnis banknya nomor lima terbesar di dunia.

PetroSaudi adalah satu dari puluhan ribu perusahaan yang didirikan di sini. ‘Di sini’ itu tidak harus ke sana. Bisa diwakili notaris di Hongkong, Singapura, Inggris, Dubai, dan banyak lagi.

Kantor pusat PetroSaudi sendiri bukan di Cyman. Tapi di Geneva, Swiss. Xavier berkantor di Geneva. Saat masih menjadi eksekutif di PetroSaudi.

***

Tareq Obaid ahli dalam bidang penghindaran pajak ini. Jho Low juga ahli. Riza juga ahli. Tiga ahli bekerja sama: menolong Malaysia. Atau mengobjekkan Malaysia. Atau menggerogoti Malaysia. Terserah dari kacamata yang mana.

Intinya: 1MDB ber-joint venture dengan PetroSaudi. Bikin perusahaan bersama. Juga di Cyman. Proyeknya di Venezuela, Saudi, Turkistan dan banyak lagi. 1MDB dapat saham 40 persen. PetroSaudi 60 persen. Untuk itu 1MDB harus setor modal 1 miliar dolar. Atau sekitar Rp 14 triliun.

Uang dikirim. Dari Bank Central Malaysia. Tanpa dokumen pendukung yang lengkap. Pun bisnisnya. Perencanaan bisnis di anak-anak perusahaan itu dibuat dengan canggihnya. Maksudnya: dengan ruwetnya. Siapa membeli apa, dengan dokumen apa, dengan cara bagaimana, di konter dengan jaminan apa, dibayar dengan bond apa, dikembalikan dengan saham apa, dihitung bagaimana…. pokoknya seruwet e-KTP.

Seandainya saya CEO 1MDB –dengan tingkat tik-tak seperti itu– mungkin sudah kena aorta dissection dulu-dulu.

Intinya ada uang masuk ke rekening Najib. Melalui rekening Jho Low. Digunakan untuk apa terserah Najib.

Tapi Najib bilang: uang itu dari seorang pangeran di Saudi. Pinjaman. Sudah dikembalikan. Itu hanya sebagian uang dari yang 1MDB. Yang sudah keluar.

Selebihnya ke mana? Tentu ke perusahaan-perusahaan itu. Yang di bawah kendali Tareq. Atau yang di bawah kendali Lho Low. Atau yang di bawah kendali Riza.

Dan, karena status perusahaan itu adalah perusahaan Cyman maka habislah: bagaimana cara menuntutnya? Tidak ada pengadilan di Cyman. Tidak ada jaksa. Atau polisi. Yang bisa menjangkau jenis perusahaan off shore seperti itu.

Di samping kehilangan uang,  1MDB juga masih tertimpa tangga baja: harus membayar hutang atau komitmen atau penjaminan. Pokoknya kita doakan Pak Mahathir, yang sudah 93 tahun, tidak mendadak kena aorta dissection.

***

Tareq tidak akan kena serangan jantung. Ia baru saja diberitakan liburan dengan kapal pesiar. Hura-hura. Pesta.  Dengan para selebriti.

Jho Low, si tukang bayar berlian dan tas Rosma itu juga  tidak akan kena serangan jantung. Umurnya masih 35 tahun. Bisa sembunyi di Hongkong. Kapal pesiar mewah yang ia beli mungkin memang akan hilang. Pengadilan Amerika sudah memerintahkan untuk di sita.

Kapal itu posisinya lagi sandar di Bali. Polisi Indonesia ketimpa kesibukannya.

***

Riza mungkin tidak bisa lagi  banyak berharap perlindungan dari ibu kandungnya: Rosma. Apalagi dari bapak tirinya: Najib Razak. Pasangan ini lagi sibuk menghadapi KPK.

Tapi, setidaknya, Riza sudah pernah masuk ‘surga’. Saat ia mendirikan perusahaan film di Hollywood: Red Granit Picture. Yang telah memproduksi sekitar 10 film. Misalnya: Dump and Dumber To yang laris sekali. Atau Wolf of Wallstreet yang meraih lima nominasi Oscar. Yang dibintangi Leonardo Di Caprio. Yang justru dilarang beredar di Malaysia.

Riza juga pernah di ‘surga’ condomoniumnya di New York. Atau di rumah ‘surga’-nya di Hollywood.

Baru sekarang ini mungkin Riza menuju ‘neraka’: semua ‘surga’ tadi dibiayai dengan uang dari 1MDB. Yang tentu akan diusut alirannya.

***

Yang selamat adalah: Putri Zainah. Dialah istri pertama Najib Razak. Yang hanya sampai 10 tahun mendampinginya. Sampai punya anak tiga. Hanya sampai mengantar Najib menjadi menteri besar negara bagian Pahang. Setingkat gubernur di Indonesia. Karir politik Najib terus melejit.  Ia diangkat menjadi menteri. Ia harus pindah ke ibukota: Kuala Lumpur. Dan tidak pernah pulang lagi. Menceraikan istrinya dari jarak jauh. Tanpa –kata Zainah– pernah bertengkar.

Zainah mencoba mempertahankan perkawinannya. Tapi hati Najib sudah di dalam Rosma. Dalam sekali.

Dan Rosma juga sudah mau meninggalkan suaminya. Seorang penyiar TV Malaysia. Yang gajinya tentu tidak seberapa.(dis)

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia