Senin, 16 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Siswa Bojonegoro Jadikan Tulang Ayam sebagai Penetral Limbah Tekstil

Oleh: M. Nurkhozim

30 Mei 2018, 04: 45: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

KREATIF : Siswa Bojonegoro ini menjadikan tulang ayam sebagai penetral limbah pewarna batik.

KREATIF : Siswa Bojonegoro ini menjadikan tulang ayam sebagai penetral limbah pewarna batik. (M. Nurkhozim/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOKS - Bagus Dwi Kurniawam, Nuhad Hanin, Khusnul Dwi, Izer, dan Rico sedang duduk di ruang guru. Tangan mereka memegang medali dan piagam yang baru diperolehnya usai mengikuti kompetisi di salah satu universitas di Malang. Mereka patut berbangga karena berhasil menyabet medali emas. “Alhamdulillah kami berhasil menang. Padahal, kompetitor kami juga hebat-hebat,“ kata Nuhad saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Apa yang mereka kompetisikan memang unik dan bermanfaat. Terutama bagi lingkungan sekitar. Sebab, penemuan mereka sangat berdampak pada pengurangan pencemaran lingkungan. Terutama pencemaran air akibat limbah pewarna batik. 

Nuhad menjelaskan, di Bojonegoro ada puluhan bahkan ratusan industri batik. Tentunya, potensi keberadaan limbah pewarna batik tersebut sangat banyak. Jika limbah pewarna batik itu dibuang sembarangan akan berdampak pada pencemaran lingkungan. Bahkan, sumber daya air akan tercemar. Untuk mengurangi potensi pencemaran itu diperlukan terobosan. “Saya dan kawan-kawan ini mencoba untuk mengatasi masalah itu,” ungkap siswa SMAN 4 Bojonegoro itu.

Dia melanjutkan, industri batik tidak mungkin berpisah dengan bahan pewarna kain. Sebab, kain batik semuanya menggunakan pewarna. Selama ini, para perajin batik membuang begitu saja limbah air batiknya di pembuangan air. Hal itu sebenarnya tidak diperbolehkan. Sebab, kandungan zink dalam limbah air batik tersebut bisa membunuh biota hidup di dalam air. “Lama-lama air bisa tercemar. Jika itu terus dilakukan,” jelasnya.

Nuhad dan sejumlah kawan-kawannya mencari sejumlah referensi di internet. Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukannya. Limbah pewarna batik itu bisa berkurang kandungan zink-nya jika dicampur dengan tulang ayam. Akhirnya, mereka mencari formula dan campuran yang pas agar tulang ayam ini bisa bekerja mengurangi kandungan pencemaran air limbah itu. “Kami campurkan dengan beberapa bahan kimia. Terlebih dulu kami jadikan tulang ayam itu serbuk,“ jelasnya.  

Setelah beberapa kali dicoba, sekitar 3 minggu akhirnya mereka menemukan formula yang pas. Teknik yang digunakan juga harus sesuai. Serbuk tulang ayam yang dicampur dengan bahan kimia khusus itu, dimasukkan dalam satu bak besar air limbah. Kemudian, mereka mengaduknya terus selama 30 menit. Hasilnya, 80 persen kandungan zink dalam limbah itu berkurang. “Itu sudah cukup baik jika dibuang. Tidak akan mencemari lingkungan,“ jelasnya.

Nuhad mengakui, produk yang dihasilkan itu belum 100 persen berhasil. Teknik pengadukan yang berlangsung 30 menit juga dirasa belum efektif. Namun, ke depan mereka akan terus mengembangkannya. Sehingga, produk itu bisa digunakan oleh semua perajin batik. “Kita akan mencoba terus untuk menyempurnakannya,“ jelasnya.

Kreasi mereka lalu diikutkan dalam lomba tingkat nasional di Universitas Brawijaya Malang. Mereka berhasil menyabet medali emas. “Ini sungguh prestasi yang tidak kami sangka. Apa yang kami usahakan selama ini membuahkan hasil yang membanggakan,“ terangnya.

(bj/zim/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia