Kamis, 27 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Petani Terancam Gagal Panen

23 Mei 2018, 07: 25: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

KOTA – Kalangan petani Lamongan resah. Sebab menjelang musim panen padi kedua, pemerintah justru melakukan kebijakan impor beras. Sehingga bisa membuat harga gabah petani akan anjlok. Bahkan impor beras tersebut terus ditambah, dengan alasan untuk cadangan beras pemerintah (CBP). Tokoh petani Lamongan, Mat Iskan mengungkapkan, musim tanam kedua tahun ini, petani dibayangi gagal panen.

‘’Selain kondisi alam memasuki kemarau, harga gabah di pasar juga berangsur turun,’’ ujarnya selasa (22/5). Menurut Mat Iskan, musim panen kedua masih sekitar satu setengah bulan. Namun para petani cukup pesimistis. Baik petani padi maupun jagung. Karena saat ini sudah mulai kemarau, sehingga ketersediaan air sangat kurang. ‘’Kami berharap pemerintah bisa mendengar keluhan petani, dengan menstabilkan harga gabah. Kalau harga anjlok, petani akan mengalami kerugian bertubi-tubi,” terangnya. 

Kasi pengadaan Bulog Subdrive Bojonegoro Lamongan, Sri Budiono, mengungkapkan, pembelian gabah dan beras petani oleh bulog masih normal. Meski cadangan beras bulog, khusus Lamongan masih tinggi, tapi bulog tetap melakukan serapan. Hanya, jumlahnya tidak banyak. Bulan lalu hanya 30 ton beras. “Cadangan beras Lamongan masih cukup untuk mengkover enam bulan ke depan,” ungkapnya.  

Budiono menjelaskan, harga pembelian bulog masih sama tidak terjadi perubahan. Untuk beras medium harganya Rp 8.030 per kg, setelah berlaku HPP + 10 persen. Terkait harga gabah, pihaknya belum mendapatkan rilis dari pusat. Harga pembelian seluruhnya menjadi kewenangan pusat. Daerah hanya menerapkan sesuai kondisi di lapangan.

Apalagi gudang Lamongan tidak mampu menampung gabah dalam jumlah banyak, sehingga serapannya menyesuaikan kemampuan gudang. Sejauh ini bulog belum menurunkan harga, karena ketersediaan aman dan permintaan cenderung stabil. Dia mengklaim, penurunan harga dipengaruhi hal lain, bukan karena impor. Sebab beras impor tidak untuk dikonsumsi di Jawa, terlebih wilayah penghasil komoditi beras seperti Lamongan. “Ada perhitungan lain dari pusat,” terangnya.

(bj/rka/feb/faa/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia