Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Tahun Lalu Tenar, Tahun Ini Tren Turun

22 Mei 2018, 06: 20: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

wisata

BUTUH GEBRAKAN: Wisata Atas Angin ketika ramai. (M. Nurcholis/Radar Bojonegoro)

Share this      

KOTA - Beberapa desa wisata yang tenar tahun lalu, trennya tahun ini mulai turun. Karena objek yang ditawarkan destinasi wisata tersebut hanya spot untuk berswafoto para pengunjung. Misalnya, desa wisata Bukit Tono di Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang, dan Negeri Atas Angin di Kecamatan Sekar, butuh inovasi dari para pengelolanya.

“Karena keutamaan sebuah desa wisata ialah atraksi, amenitas, aksesbilitas, dan tingkat kunjungan. Satu hal lain tak kalah penting ialah produk dijual,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Amir Syahid. Meski kini sudah ada Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Bojonegoro, namun disbudpar belum memiliki standardisasi acuan destinasi bisa disebut desa wisata.

Disbudpar berencana membuat peraturannya dulu. “Jadi kami tekankan untuk meningkatkan kualitasnya dulu, sehingga tidak semua destinasi bisa disebut desa wisata. Perlu ada kajian terlebih dahulu sebelum penetapan desa wisata,” ucapnya. Berdasarkan datanya, baru ada 14 desa wisata di Bojonegoro memiliki tingkat kunjungan secara konsisten.

Menurut Amir, upaya meningkatkan tingkat kunjungan, tiap desa harus punya produk kuat. Apabila hanya menawarkan satu objek, wisatawan tentu cepat bosan. “Cara paling mudah ialah di sekitar objek wisata dibuat agrowisata, sehingga wisatawan bisa juga ikut mencicipi buah hasil dari desa wisata,” tuturnya.

Saran tersebut mulai dilaksanakan pengelola Wisata Atas Angin, Krondonan, dan Bukit Tono. Rencananya sekitar objek wisata ditanami durian atau kelengkeng. “Biar pengelola sekaligus kepala desa paham bahwa desa wisata mampu memperbaiki perekonomian masyarakat sekitar,” ucapnya. 

(bj/gas/rij/faa/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia