Jumat, 24 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Blora

Minim Siswa, Dua Kelas Dijadikan Gudang

05 Mei 2018, 05: 45: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

KRISIS SISWA: Dua siswa kelas enam yang sedang mengerjakan ujian.

KRISIS SISWA: Dua siswa kelas enam yang sedang mengerjakan ujian. (M. Mahfudz Muntaha/Jawa Pos Radar Blora)

BLORA - Keberadaan SDN 2 Sonorejo di Kelurahan Sonorejo, Kecamatan Blora, ternyata kekurangan siswa. Selain, ujian nasional (unas) hanya diikuti dua siswa, ternyata SDN di kawasan perkotaan ini, total hanya memiliki 16 siswa. Bahkan, ruang kelas 4 dan 5 saat ini kosong, karena tidak ada siswanya. Dua ruang kelas SDN 2 Sonorejo itu dijadikan gudang. Dan, satu ruangan tersebut dijadikan gudang penitipan oleh Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Blora. 

Kepala SDN 2 Sonorejo Widyatiningsih mengatakan, dua kelas di sekolahnya yang digunakan sebagai gudang, salah satunya sebagai penitipan barang-barang milik BPPKAD setempat. “Karena BPPKAD Blora masih belum punya gudang, makanya barang-barang ini dititipkan di sekolah dulu,” jelasnya Jumat (4/5).

Penitipan ini, lanjut Widyati, sapaannya, berlangsung sebulan lalu. Karena setelah adanya salah satu puskesmas yang melakukan akreditasi. Dan, barang-barang milik puskesmas itu diberikan kepada BPPKAD. 

KRISIS SISWA: Salah satu penjaga SDN 2 Sonorejo menunjukkan kelas dijadikan gudang.

KRISIS SISWA: Salah satu penjaga SDN 2 Sonorejo menunjukkan kelas dijadikan gudang. (M. Mahfudz Muntaha/Jawa Pos Radar Blora)

“Makanya di ruangan itu banyak digunakan barang seperti komputer dan barang puskesmas,” imbuhnya. Sedangkan, satu kelas lainnya, digunakan menyimpan bangku-bangku tidak terpakai. 

Meski kekurangan siswa, menurut dia, belum mendapat kepastian ada rencana digabung atau merger. Jika harus dimerger dengan SDN 1 Sonorejo, itu sangat tidak mungkin. Alasannya, karena SDN 2 Sonorejo dan SDN 1 Sonorejo jaraknya hampir 5 kilometer. 

Sekretaris Dewan Pendidikan Blora Singgih mengatakan, keberadaan SDN 2 Sonorejo seharusnya sudah dimerger. Justru, kasihan siswanya saat ini hanya ada 16 siswa. Belum lagi kelas VI ini sudah lulus. “Lebih baik dimerger saja, kasihan siswanya,” ujarnya.

(bj/fud/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia